Eight Below

Eight Below

The Real World Adventurer..

"In this life, only the fool who always start the questions of life, moreover start their life mission and purpose of money. And once beginner ask where they get money, then they will be shackled by the constraints/obstacles. And almost certainly the answer is simply no money, can not and will not be" (Rhenald Kasali - Professor of University of Indonesia)

Monday, September 12, 2011

Palembangku, Cintaku..

Kecintaanku pada travelling dan takdir yang membawaku pergi, bukanlah yang terutama.. Tetapi, kecintaanku pada seseorang yang lahir, dibesarkan dan sekarang kembali ke kota inilah, yang menumbuhkan kecintaanku pada bumi Sriwijaya..kota Palembang..

Ada Cinta di Palembang.. itulah kata-kata yang pertama kali terlintas di kepalaku.. ya, dari hati yang terdalam.. ^^

Aku teringat kembali akan kenangan empat tahun silam.. matanya yang polos selalu menatapku lekat-lekat di setiap kesempatan..begitu pula diriku, menatap tanah kelahirannya lekat-lekat, tanpa sejengkal jejak pun terlewatkan..

Takdir membawaku ke Palembang.. kota pertama tempatku menginjakkan kaki di pulau Sumatra..

Deg-degan dan tak sabar, itulah yang membuatku mencari banyak informasi mengenai kota ini beberapa minggu sebelum keberangkatanku ke sana..

Peta, petunjuk obyek wisata, lengkap dengan keterangan detailnya..semuanya kudapatkan berkat sang Maha Tau Mbah Google..


Tak sabar, namun ada sedikit ketakutan..maklum, saat itulah pertama kalinya aku pergi ke tempat yang jauh seorang diri..


Ketika akhirnya saat itu tiba, aku tak rela menutup mataku walau hanya sebentar demi melihat pemandangan di atas awan..


Rasa haru dan senang yang amat sangat bercampur-aduk..sejak di bandara hingga ketika aku melihat melalui jendela pesawat, pulau Sumatra dari berkilo-kilo meter ketinggian di atas awan.. Tak kuasa menahan rasa senangku, maka aku pun tersenyum..Ya, inilah pulau Sumatra..aku tidak sedang bermimpi dan aku akan segera menginjakkan kakiku di Palembang..begitu pikirku..


Ketika semakin mendekati Palembang, tampak garis panjang berkelok-kelok dengan indahnya…itulah Sungai Musi..Rasa senang yang tak terbendung meluap-luap ketika diriku merasakan bahwa aku semakin dekat dengan kota Palembang..

Pesawat pun akhirnya mendarat..tibalah aku di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.. memang, tak sebesar bandara soekarno-hatta..namun, inilah bandara kota Palembang..Pintu gerbang kota.. Aku pun tersenyum.. “Selamat datang di Bumi Sriwijaya”..kata-kata itu terngiang di telingaku..

Menginjakkan kaki di Bandara, aku hanya mengambil sebuah foto pelat yang bertuliskan nama bandara, dan mampir sebentar ke toilet lalu langsung menuju pintu gerbang keluar..


Mencari taksi..itulah yang kulakukan untuk pertama kalinya..Terkejut, sungguh terkejut..sekelompok orang menawariku jasa Taksi.. Namun, tak satu pun kulihat mobil yang kutahu dari bentuknya adalah Taksi..

Kurang percaya pada tawaran di pintu gerbang itu, akhirnya aku berjalan mencari petugas bandara.. Kutemukan seorang cleaning service bandara.. dan kutanyakan apakah disini ada taksi blue bird.. Kembali ku terkejut, orang tersebut menanyakan balik kepada saya “Blue bird? Apa itu? Taksi gelap ya?” “Oh God, sbnrnya aku ini sdg berada di dunia mana?? Blue bird, taksi yang paling terkenal dan terpercaya di Jakarta, ternyata orang Palembang tak mengenalnya”. Ternyata benar kata dirinya waktu sebelum aku berangkat “di Palembang jarang Taksi. Adapun untuk borongan”.

Akhirnya, cleaning service itu memanggilkan supir taksi yang katanya dari taksi resmi.. datanglah orang tersebut..berkumis lebat, berambut pendek rapi, mengenakan kemeja berlengan panjang, celana bahan dan sepatu fantovel..

Akhirnya kami berbincang-bincang mengenai tempat-tempat yang ingin aku tuju.. tawar menawar terjadi.. Argo? Taksi Palembang tak mengenal argo..yang ada adalah tarif berdasarkan kesepakatan antara penumpang dengan supir taksinya.. 200rb..itulah digit pertama yg keluar dari mulut sang sopir.. Terkejut krn harganya terlalu mahal, akhirnya kutawar-tawar, namun tetap memperoleh harga standar sopir taksi Palembang, yaitu sepakat 150rb..wuih, jauh lebih mahal tentunya jika dibandingkan dengan tarif taksi di Jakarta..tapi, ya sudahlah, toh aku tidak menggunakan uangku sendiri..

Kemudian, aku berjalan mengikuti sang sopir ke mobilnya.. sebenarnya aku agak takut, tapi aku sok pede agar tidak memperlihatkan kekhawatiranku..masalahnya, aku tidak tahu apa-apa mengenai kota ini..yang kutahu hanyalah informasi dan foto-foto dari internet..juga.. sekilas info dari si dia yang berada di Palembang..

Tibalah di depan mobil yang dibilang “Taksi”.. aku pun terkaget-kaget lagi.. Taksi yang kulihat bukanlah Taksi seperti layaknya Taksi di Jakarta..yang kulihat adalah mobil Kijang..mobil pribadi…

Agak khawatir, namun aku berusaha mempercayai sang sopir, dan tampaknya dia orang baik-baik.. Mobil pun berjalan..jalur ke luar bandara menuju ke dalam kota Palembang sama sekali berbeda dengan di Jakarta..jalan tersebut hanyalah jalan kecil dan pendek..tidak perlu waktu lama, mobil yang kunaiki sudah memasuki dalam kota Palembang..

Pemandangan yang tampak di depan penglihatanku awalnya adalah jalan penuh debu dan gersang, yang mengingatkanku pada suasana jalan di pandeglang..


Namun, semakin memasuki kota, jalan yang kulalui pun semakin modern dan di sisi kanan jalan tampak semakin banyak bangunan..

Selama perjalanan, dengan polosnya aku mengakui bahwa diriku baru pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Sumatra..dan aku dengan lagak norak, memotret setiap sudut jalan yang kulalui dari balik kaca mobil..sayangnya, aku tak membawa handycam..sehingga aku tak mendapatkan rekaman langsung suasana kota Palembang..

Sungguh beruntung, aku mendapat seorang supir taksi yang baik dan ramah.. Dengan ikhlas, beliau menceritakan apapun yang diketahuinya dari kota Palembang.. perkembangannya, obyek wisatanya, berbagai bentuk peristiwa, hingga mengenai dirinya pribadi.. beliau juga sempat menunjukkan kepadaku Rumah Sakit Katolik Charitas dan juga Martabak Har..

Sungguh nyaman, itu lah yang kurasakan selama berada di sana..

Memang, Palembang tidak punya pemandangan alam yang indah..namun, entah kenapa terbesit suatu kehangatan yang kurasa mungkin tak akan pernah kulupakan..

Jalan-jalan kulalui..kulihat cukup banyak angkutan umum yang beroperasi di Palembang..mulai dari yang berbentuk mobil (metro mini) hingga bis trans yang dinamakan “trans musi”, semacam bus transjakarta busway, hanya saja tidak memiliki halte yang sebesar dan sebagus di Jakarta dan bisnya pun berukuran mini..

Yang ku heran, kendaraan angkutan umumnya tak ada satupun yang terlihat masih baru kecuali trans musi..semuanya sudah penyok di banyak bagian bodynya dan catnya luntur tak jelas..

Selama di perjalanan, sempat beberapa kali aku merasakan kemacetan..benar seperti kata si dia, Palembang yang sekarang sudah seperti di Jakarta..macet di sana sini..Namun, macet yang kurasakan di Palembang tak separah kemacetan yang biasa terjadi di Jakarta..Perjalananan berlanjut, dan kutemukan kemacetan berpusat di daerah-daerah yang berdekatan dengan pasar, seperti kata dirinya..

Dalam kemacetan itu, aku sempat melewati Bank Indonesia.. dan dengan semangat sambil menatapnya lekat-lekat, aku memperhatikan jalan di samping Bank itu.. itulah jalan Veteran, tempat si dia tinggal.. kulihat jalannya cukup lebar, namun penuh dengan ruko minimalis.. aku senang karena akhirnya, yah.. paling tidak bisa mengenal kota kelahiran dan tempat tinggalnya, tempatnya lahir dan dibesarkan walau hanya sedikiitt saja..^^


Tak lama setelah melewati kemacetan, kulihat banner bertuliskan ucapan selamat datang di kota Palembang..


Berbelok ke sisi kanan jalan, kulihat sebuah jembatan merah menjulang tinggi di depan mataku, itulah Jembatan Ampera..Di sisi kanannya, berdiri Masjid Agung Palembang..

Aku kembali gembira..Obyek-obyek yang sebelumnya hanya kulihat di foto, akhirnya kulihat secara langsung..

Kembali berbelok ke kanan, tepat di depan Jembatan Ampera..inginku, melihat Jembatan tersebut dari samping dan mendekatinya mencari tempat yang tepat untuk berfoto..

Dalam perjalanan itu, aku melewati Masjid Agung di sisi kanan, dan Monpera di sisi kiri.. Tak jauh melangkah ke depan, terlihatlah sebuah bangunan putih berbentuk kotak, itulah yang disebut dengan Menara Air.. Sang supir Taksi sungguh baik, beliau berusaha memperlambat mobilnya tanpa ku minta, memberikanku kesempatan untuk memotret gedung tersebut dari dekat..


Segera setelah aku bilang “ya, sudah”, Sang supir pun langsung kembali menjalankan mobilnya, berbelok ke arah kiri.. dan beliau menunjukkan kepadaku bahwa yang kulihat di sisi kiriku itu adalah benteng Kuto Besak.. ahh, masa iya.. yang kulihat bentuknya tak begitu jelas.. mungkin karena ukurannya yang terlalu besar jika dilihat dari dekat, dan juga terhalang oleh pepohonan dan tanaman merambat..

Mobil pun berjalan lambat hingga ke ujung jalan.. dan kulihat sebuah restoran bertuliskan “River Side”.. hmm.. awalnya aku tak menyadarinya karena terlalu bersemangat untuk ke Jembatan Ampera.. Sang supir menghentikan mobilnya di depan restoran itu.. Sebenarnya beliau bermaksud memarkirkan mobilnya di dalam kompleks lapangan parker Benteng Kuto Besak.. namun, saat itu mobil tidak diperbolehkan masuk, dijaga oleh beberapa orang satpol pp..

Lalu aku pun turun dari mobil, mendekati satpol pp itu sambil memotret-motret Jembatan Ampera dari kejauhan.. para satpol pp itu menanyakan kepadaku, aku mau apa.. dan aku bilang aku mau memotret Jembatan Ampera dan kubilang bahwa sore itu juga aku akan kembali ke Jakarta.. mula-mula mereka tak mengijinkanku masuk dikarenakan ada acara ulang tahun satpol pp.. namun, begitu melihatku yang sangat antusias memotret-motret sekeliling, dari Benteng Kuto Besak hingga plang tanda lokasi obyek wisata, maka mereka pun akhirnya mengijinkanku untuk masuk.. katanya, boleh masuk asal jangan sampai di tempat yang ada tendanya ya..




Terlalu senang mendengar kata-kata itu.. aku pun tersenyum lebar sambil berlari-lari kecil mendekati Jembatan Ampera.. tak lupa mengucapkan terima kasih kepada pak satpol pp itu..

Aku berjalan mendekati Jembatan, yang ternyata cukup jauh.. lapangan parkir itu sungguh luas.. sudah cukup jauh aku berjalan, namun Jembatan Ampera itu masih saja terlihat kecil.. cuaca saat itu sungguh panas.. aku merasa sedikit lelah dan akhirnya kuhentikan langkahku di tengah-tengah lapangan parkir itu..

Dari jarak pandang mataku, aku bisa melihat tulisan dan pintu masuk Benteng Kuto Besak di sisi kiriku, Sungai Musi di sisi kananku dan Jembatan Ampera di depanku.. 


Wahhh.. inilah Palembang.. walau capek dan kepanasan, tapi aku sungguh merasa senang.. apalagi ada seorang satpol pp yang ramah yang bersedia memotret diriku sebanyak dua kali, yaitu membelakangi Jembatan Ampera dan membelakangi Benteng Kuto Besak..



Merasa tak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan, dan juga terhimpit oleh waktu, aku pun segera kembali ke mobil..Di mobil, keringatku pun bercucuran.. kemudian sang supir langsung melanjutkan perjalanan.. mengendarai mobilnya melewati rumah-rumah kuno, yang katanya adalah kota tuanya Palembang.. lalu berputar balik ke arah Masjid Agung..

Mobil diberhentikan di seberang jalan Masjid.. aku pun turun dan menyebrangi jalan untuk mendekati Masjid itu dan memotretnya.. kulihat air mancurnya tak seindah yang ada di Google.. mungkin juga karena saat itu masih terang.. kota Palembang baru terasa indahnya ketika malam hari.. banyak lampu berwarna-warni yang menerangi kota itu.. sayangnya, aku tak akan bisa menikmatinya.. pesawatku kembali ke Jakarta di sore hari.. :(


Lalu kusebrangi jalan lagi ke sisi satunya, dan kulihat dari dekat sebuah bangunan semacam tugu.. namanya adalah Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat)..


Tak lama memotret, lalu aku segera kembali ke mobil.. waktu terasa mencekikku.. padahal aku masih ingin berlama-lama di sana..

Dan, tiba saatnya untuk segera ke hotel.. Mobil berjalan cepat, begitu pula dengan waktu.. aku melewati rumah-rumah, jalan berliku-liku.. dan hingga akhirnya kulihat jalan yang agak lebar, di depannya ada Stadion Gelora Sriwijaya yang sedang dibangun.. dan di sampingnya ada rumah makan mie celor.. ahh, ingin rasanya mencoba.. kata sang supir, di tempat itulah mie celor terenak dijual..

Namun mobil terus melaju terasa cepat.. dan aku pun tiba di Hotel Horison.. hotel itu tak jauh dari Stadion.. dan sejalur dengan jalan Veteran.. andai saja aku bisa ke tempat itu dan berkunjung ke rumahnya.. hikz..


Pukul 9 tepat, aku sudah siap dengan pakaian rapi, mendampingi bos dari kantor lamaku untuk mengadakan Training yang sebenarnya sudah berlangsung sejak dua hari yang lalu.. Aku menyesalkan hal itu.. tiga hari di Palembang, itu pasti jauh lebih baik daripada hanya 11 jam saja..

Satu jam, ya.. hanya satu jam waktu yang kupunya untuk berjalan-jalan keliling Palembang.. dan seketika waktu menunjukkan pukul 9, aku hanya bisa menghabiskan waktuku di dalam Hotel..

Sedih, sesak.. itulah yang kurasakan.. tak punya kesempatan untuk bertemu dirinya.. padahal, aku sudah begitu dekat.. sudah melintasi Pulau dan lautan.. tapi.. aku tetap tak bisa bertemu dengannya.. andai saja aku bisa lebih lama berada di sana.. hanya itulah yang ada di pikiranku.. 

Yang sedikit kunikmati ketika menghabiskan waktu di hotel hanyalah ketika saat makan.. makanan di hotel Palembang tak selezat makanan di Jakarta.. walaupun temanya Barat.. dan yang menarik perhatianku adalah Pecel Maos, pecel khas Palembang.. ah, akhirnya aku bisa merasakan makanan Palembang..


Waktu pun berlalu dengan cepatnya.. aku berkali-kali sempat tertidur di sofa.. tak terasa tibalah saatnya untuk pulang.. sebelum pulang, aku meminta kepada bosku untuk menyempatkan waktu sedikit saja mampir membeli martabak Har.. syukurlah permohonanku dikabulkan.. walaupun martabak Har nya bukan yang terkenal, seperti yang kulihat paginya yang ditunjukkan oleh Sang supir Taxi.. tapi ya sudahlah, yang penting aku bisa mencicipinya..



Aku lalu turun dari mobil, memesan dua porsi untuk dibungkus.. tampaknya penjual martabak itu tak bisa berbahasa Indonesia.. entah dia berbicara apa kepadaku, yang penting dia tau kalau pesananku adalah dua..
Sungguh membuatku terheran-heran.. martabak itu hanyalah tepung yang diisi telur yang tanpa dikocok.. tanpa bumbu apapun.. dan selesai, martabak itu jadi dan siap dibungkus.. 


Aku bingung bagaimana rasanya, pastilah tawar.. lalu si penjual memberikan sebungkus plastik bumbu, yang kutau katanya semacam bumbu kari..


Hanya hitungan menit, dan aku pun kembali ke mobil.. Tak lama kemudian, kami tiba di bandara.. ah, waktuku semakin sempit.. satu jam lagi aku meninggalkan kota ini.. semakin sedih rasanya..

Di Bandara aku hanya membeli kerupuk bertuliskan kerupuk kemplang.. tapi kata penjualnya bukan itu, aku lupa namanya.. yang pasti bahannya terbuat dari ikan..


Aku menunggu di ruang tunggu bandara dengan sedih.. termenung.. lalu saat untuk naik ke pesawat pun tiba.. memandang sedih ke arah luar gedung, memandang Palembang untuk terakhir kalinya.. aku pun masuk ke dalam pesawat..


Sambil menunggu take-off, aku mendengarkan lagu dengan headset dari handphoneku.. Ada Cinta.. ya, itulah yang selalu kurasakan.. atas kota ini dan atas semua kenangan akan dirinya..

Dan, tibalah saatnya pesawat diberangkatkan.. aku terdiam, dan tanpa sadar aku pun meneteskan air mata.. Selamat tinggal Palembang.. entah kapan ku dapat kembali lagi ke sana.. jika takdir mengijinkan, aku pasti kembali.. untuk bertemu dengan dirimu..

Notes: 3 Maret 2011, hari itu adalah weekday, aku membolos dari kantor baruku.. dan saat itulah untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Palembang.. 

No comments:

Post a Comment