Eight Below

Eight Below

The Real World Adventurer..

"In this life, only the fool who always start the questions of life, moreover start their life mission and purpose of money. And once beginner ask where they get money, then they will be shackled by the constraints/obstacles. And almost certainly the answer is simply no money, can not and will not be" (Rhenald Kasali - Professor of University of Indonesia)

Wednesday, November 30, 2011

Catatan Sang Peneliti: Hari Kedua di Kalimantan Tengah..

Hari Kedua di Pangkalan Bun.. (Senin, 31 Oktober 2011)

Pagi pun tiba.. Jam dinding menunjukkan pukul setengah 5 pagi, TV tetap menyala, tetap di saluran Sky Drama 1.. ini hari keduaku di Kalimantan.. Rencananya pagi ini aku mau ke gereja, mencoba mengikuti misa harian..

Udara sejuk membuatku malas bangkit dari tempat tidur, aku hanya tidur-tiduran sambil menonton TV.. lalu jam pun menunjukkan pukul 5, aku segera berberes dan mandi.. selesai mandi ternyata sudah jam 5 lewat 20.. karena kelamaan beres-beres, akhirnya aku tak keburu untuk ke gereja, sedangkan misa harian dimulai pada pukul 5.15 pagi.. yah, semoga saja besok aku bisa ke gereja..

Sesuai keinginanku kemarin, hari ini aku berniat untuk membeli Coto Manggala sebelum berangkat ke Balai.. kutunggu hingga jam setengah 9, sementara aku berberes menyiapkan untuk presentasi hari ini dan barang-barang yang perlu kubawa ke Balai..

Jam 7 pagi pegawai hotel mengantarkan makan pagi ke kamarku.. menu pagi ini nasi uduk dan telur mata sapi.. lengkap dengan teh manis hangat.. dan kupikir, Coto Manggalanya nanti buat makan siang saja ah..


Jam setengah 9 kurang, aku langsung pergi ke tempat dijualnya Coto Manggala.. Kali ini aku berjalan kaki lewat jalan sepanjang deretan hotelku.. sempat kulihat sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu, benar-benar khas kalimantan.. 


lalu aku melewati Pasar dan kemudian Hotel Tiara, lalu tibalah belokan jalan tempat warung Coto Manggala berada..

Kulihat penjualnya berbeda dengan ibu yang menjual Kerupuk Rebus kemarin.. tanpa menunggu lama, aku langsung memesan 1 porsi Coto Manggala, tanpa ceker karena aku tidak suka, dan dibungkus.. kuperhatikan memang benar ternyata yang dimaksud dengan Manggala itu adalah singkong, hanya saja dilengkapi dengan ceker ayam.. harganya hanya 4 ribu rupiah saja.. murah juga..


Sambil menunggu Coto Manggala pesananku dibungkus, aku bertanya kepada bapak yang ada di situ, dimanakah Bunderan Tugu Pancasila berada.. katanya cukup jauh dari situ dan beliau menawarkan untuk mengantarku, namun aku bilang aku naik angkot saja.. untuk rute angkotnya katanya ke arah pasar baru..
Selesai Coto Manggala pesananku dibungkus, aku segera berjalan ke jalan utama, sambil melihat kea rah belakang menunggu angkot berwarna kuning lewat.. aku pun menyeberang jalan dan kemudian berhenti untuk menunggu angkot..

Tak lama kemudian, tampak angkot kuning mendekat ke arahku, dan kuberhentikan angkot itu.. kutanyakan kepada sang sopir apakah lewat Tugu Pancasila.. dan katanya, tidak ada angkot yang langsung ke sana, harus ke pasar baru dulu lalu oper angkot yang arah tugu pancasila.. ok lah, dan aku pun naik ke angkot tersebut..
Dalam perjalanan menuju Pasar Baru, yaitu hanya lurus melalui sepanjang jalan sederet dengan hotel abadi, aku melihat sebuah masjid besar dan aku lalu berniat untuk memotretnya nanti setelah pulang dari balai.. dan tak lama kemudian tibalah aku di pasar baru.. saat itu aku kurang memperhatikan situasi di pasar tersebut, dan aku langsung diarahkan oleh sang sopir untuk berganti angkot menuju tugu pancasila..

Angkot tersebut juga berwarna kuning.. Tampaknya di Pangkalan Bun ini hanya ada 1 warna angkot yaitu kuning, walaupun rutenya berbeda.. Selain itu, angkot-angkot juga selalu sepi penumpang, seperti angkot yang baru saja kutumpangi tadi penumpangnya hanya aku seorang.. Namun, ongkosnya tetap 2.500.. mungkin sudah standar di sana.. bedanya angkot Pangkalan Bun dan Jakarta yaitu angkot Pangkalan Bun tidak mengenal ngetem.. walaupun penumpangnya hanya ada 1 orang, atau bahkan tidak ada penumpang sama sekali, angkot pun tetap berjalan dan jarak antar angkot yang satu dan berikutnya juga tak begitu jauh, cukup banyak armadanya..

Kulihat angkot tujuan tugu pancasilanya kosong dan tidak tampak pengemudinya.. angkot itu diparkir di pinggir jalan.. dan kulihat angkot yang tadi kutumpangi menuju kea rah tanjakan yang sama dengan rute angkot tujuan tugu pancasila, dan kupikir kenapa sang sopir bukannya menurunkan aku di ujung jalannya saja, kalo begini kan nanggung.. karena ragu harus bertanya kepada siapa, akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kaki..

Sempat kutanyakan kepada orang yang sedang berada di sekitar situ mengenai arah menuju tugu pancasila.. katanya lurus di tanjakan itu, lalu di pertigaan ke kanan sampai nemu lampu merah langsung ke kiri lurus aja.. sekitar 7 km..

Lalu aku pun berjalan kaki.. menanjak, cuaca cukup panas sehingga aku merasa cukup lelah.. di pertigaan aku berbelok ke kanan, seperti arahan orang yang tadi kutanyai.. sepanjang jalan mirip sekali, tak beda dengan jalan di dekat istana kuning.. kalau begini aku jadi buta arah..

Di dekat belokan kulihat tempat makan yang ada semacam bakulnya, dan ternyata itu adalah Soto Kwali.. tempat makan yang sempat di bicarakan di salah satu blog yang kubaca sebelum berangkat ke Kalimantan.. penasaran ingin mencoba, tapi tak punya waktu, jadi aku hanya bisa berharap suatu saat menyempatkan diri kesana..mungkin lain kali aku bisa mencobanya..


Kesalahanku yang baru kusadari kemudian adalah aku langsung berbelok ke kiri, bukan di lampu merah.. Ketika itu, aku melalui jalan yang jarang rumah.. sepanjang kiri dan kanan jalan adalah pohon.. 


dan kulihat ada beberapa orang yang berjualan hewan peliharaan seperti ayam, kelinci, burung, dsb.. dan sempat kutanyakan kepada seorang bapak yang berjualan hewan tersebut, apakah arah jalan ini benar menuju tugu pancasila dan katanya “benar, tapi jauh lho neng” dan kujawab “gapapa pak, sudah terlanjur jalan”.. lalu kulanjutkan perjalananku dengan berkeringat karena cuaca yang cukup panas..

Sampai di ujung jalan adalah pertigaan.. aku bingung harus ke kanan atau ke kiri.. lalu aku ke kiri dan menyeberang jalan, menanyakan kepada seorang bapak yang sedang menuntun motornya yang rusak.. kutanyakan untuk ke tugu pancasila lewat kiri atau kanan, dan jawabnya adalah dua-duanya bisa.. lalu kutanyakan lebih dekat mana, dan katanya ke kanan., dan lagi-lagi katanya “tapi jauh lho dek” dan kujawab lagi “gapapa pak”..

Aku meneruskan berjalan ke kanan.. yang muncul di pikiranku adalah “ternyata pangkalan bun luas juga, tak sesempit yang kukira” dan di sepanjang jalan itu suasananya seperti di pinggiran kota, tidak seperti di daerah sekitar hotel yang merupakan pusat kota..

Sebenarnya aku sudah sangat lelah, selain berkeringat juga terbebani beratnya tasku dikarenakan aku membawa laptop untuk presentasi di balai.. tapi apa daya, tak tampak satu angkot pun yang lewat.. dan aku berusaha berjalan lebih cepat.. selama perjalanan itu aku sempat melihat 2 ekor anjing sedang berteduh di bawah mobil.. warna hitam dan coklat muda agak putih berukuran sedang agak besar.. kupikir, di kota ini memang sangat jarang ditemui anjing ataupun kucing, kuingat-ingat selama 2 hari ini aku baru bertemu dengan total 4 ekor anjing dan beberapa ekor kucing.. heran kemana semua hewan-hewan itu..

Setelah berjalan cukup lama, tibalah aku di ujung jalan yang tak lain tak bukan adalah kuburan.. lagi-lagi pertigaan.. dan kutanyakan kepada orang yang ada di situ, jalan menuju ke tugu pancasila adalah ke kiri, lurus saja, dan katanya “jauh lho dek” dan untuk ketiga kalinya kubilang “gapapa, tanggung sudah terlanjur berjalan kaki”..

Alasanku tidak mau naik ojek adalah karena masih percaya dengan kata orang yang jarak ke tugu pancasila adalah 7 km.. bagiku 7 km harusnya tidak jauh karena aku sudah pernah berjalan kaki lebih dari itu.. tapi, entah mengapa, mungkin karena cuaca juga, aku merasa lelah sekali dan rasanya jarak ke tugu pancasila itu lebih dari 7 km.. perkiraanku aku sudah berjalan kaki sekitar 10 km.. tapi kok ga sampai-sampai ya?? Aneh..
 Setelah lama berjalan, aku akhirnya menyadari “tampaknya aku tersesat”.. aku pun segera sms Mas’ud dan dia ternyata tidak tahu jalan.. sempat aku melihat beberapa angkot kuning lewat, tapi karena aku berada di seberang jalan, tak mungkin aku menghentikan angkot tersebut..

Bodohnya, aku tetap berjalan kaki hingga kulihat Bank Kalteng yang tampak tak asing karena pernah kulewati ketika kemarin naik Taksi dari bandara.. kupikir, harusnya bunderan tugu pancasila tak jauh dari situ..

Tak lama kemudian, kulihat jam sudah hampir jam 10.. lalu ada telpon dari Pak Taufik yang menanyakan aku berada di mana.. dan kukatakan bahwa aku pun tak tahu jalan, namun aku baru saja melewati Bank Kalteng..dan aku hanya seorang diri, tidak bersama siapapun..

Baru berjalan beberapa jauh, tiba-tiba ada pengendara motor yang berhenti di sampingku sambil senyum-senyum dan kemudian memanggilku “Gracia ya?” jawabku “iya, siapa ya?” dan ternyata itu adalah Pak taufik.. setelah bersalaman dan diberikan helm, aku pun langsung naik ke motornya..

Pak Taufik kemudian mengemudikan motornya, berputar balik karena aku berada di jalan yang berlawanan arah, dengan cepat menuju ke Balai.. ternyata jauh juga jarak dari tempatku terakhir berjalan kaki hingga tugu pancasila.. ketika itu Pak Taufik bercerita bahwa smsnya yang mengatakan aku manja dan bla bla bla itu ternyata disengaja untuk mengetes apakah aku memang punya tekad yang kuat atau tidak..dan katanya tidak mungkin jika aku tidak diurusi atau dibiarkan di sini..

Akhirnya, kulihat bunderan tugu pancasila.. seperti kata Mas’ud, Mess arahnya ke kiri bunderan tugu pancasila, sedangkan Balai ke kanannya.. di dekat bunderan tugu pancasila terdapat monumen pesawat, tempat penerjunan pertama.. di kota ini semuanya disebut bunderan karena memang banyak yang bunder-bunder tamannya..haha..

Berbelok ke kanan, masuklah ke daerah yang asri.. sepanjang jalan, di kanan-kirinya kulihat gedung-gedung pemerintahan.. dari Bappeda, Dinas Kehutanan, Keamanan, BLH, dsb.. tampaknya daerah itu memang dikhususkan untuk pusat gedung pemerintahan daerah.. jalan ke balai ternyata cukup jauh.. lalu kulihat sebuah rumah mewah dengan halaman yang luas, dan ternyata itu adalah rumah Bupati.. selang 2 rumah dari situ adalah kantor Balai Taman Nasional Tanjung Puting.. Akhirnya.. aku tiba juga di balai, ga jadi ke mess d.. yang berarti ga jadi buka internet.. :(

Kemudian sesampainya di dalam kompleks gedung Balai, aku segera turun dan masuk ke dalam.. tapi sempat bingung karena tak tahu harus kemana.. dan kulihat seorang pemuda yang sedang duduk-duduk bersama yang lain sedang senyum-senyum melihatku yang kebingungan.. dan dia lalu bertanya kepadaku “mau presentasi ya?” jawabku “iya”.. “masuk aja langsung ke dalam” lanjutnya sambil menunjuk ke ruangan tengah.. tapi aku tak langsung masuk ke dalam, aku menunggu pak taufik.. dan, akhirnya aku ingat, pemuda itu adalah Barri, salah satu dari penerima beasiswa penelitian, aku sempat melihat rupanya di facebook..

Saat itu aku menerima sms dari Mas’ud yang menanyakan posisiku dimana, dan kubilang bahwa aku sudah sampai di Balai, tadi dijemput Pak Taufik..

Pak Taufik pun masuk ke gedung dan menyarankan aku untuk segera masuk ke ruangan tengah.. kuiyakan dan aku pun masuk ke ruangan tersebut, bersama dengan Barri..

Dan ternyata, sudah banyak orang yang menunggu di dalamnya.. ternyata mereka berkumpul untuk menungguku presentasi.. aku pun jadi deg-degan karena tak menyangka aku akan disidang seperti itu..
Sambil menyalakan laptop untuk presentasi, aku mengamati sekitar.. orang-orang yang ada di ruangan itu dan juga suasananya.. lalu datanglah seorang pemuda lagi, duduk di sebelahku dan Barri dan ternyata itu adalah Mas’ud.. rambutnya tampak beda, lebih pendek dibanding yang difoto yang kribo mengembang.. hoho

Dan kemudian, presentasi pun dimulai.. entah mengapa rasanya aku jadi gugup.. bicaraku pun tersendat-sendat.. selain itu, tak seperti bayanganku yang akan berjalan mulus.. nyatanya terlalu banyak sanggahan dan saran juga kritik, kebanyakan berkaitan dengan keterbatasan waktuku untuk penelitian di lapangan, yang tidak sampai satu minggu.. juga mengenai kondisi lapangan yang ternyata tidak seaman yang aku kira.. ternyata daerah penambang liar adalah daerah konflik.. belum lagi sempat ada penangkapan yang mengakibatkan suasana menjadi rusuh, ada pos jaga yang dibakar.. wow, sungguh menyeramkan.. selain itu jaringan perdagangan hasil penambangan liar ini seperti mafia, jaringannya rumit dan sulit untuk diselidiki.. sepertinya judul tesisku harusnya diubah jadi manajemen konflik aja x ya.. yah, setelah diserbu dengan berbagai pertanyaan, akhirnya selesai juga.. katanya kalau ada si kepala balai (pak gunung) bakal lebih ribet lagi urusannya.. untunglah orangnya lagi ke Jakarta..

Ok, hari yang entah baik atau buruk.. sepertinya penelitianku ini seru, menegangkan, tapi sekaligus berbahaya.. banyak tantangan tergantung bagaimana akunya di sana bersikap.. dan alamnya, ternyata luar biasa.. ternyata taman nasional tanjung puting selain sangat luas di luar dugaan yaitu sebesar 415.000 hektar hingga dibagi-bagi menjadi beberapa resort (wilayah kerja dan pengawasan), juga dikelilingi oleh sungai dan berujung di laut jawa, banyak spesies aneh (endemik/langka) dan banyak buaya berukuran besar di sungai-sungainya.. aku sempat ditanyai apakah aku bisa renang? Apakah aku bisa melawan buaya? Fiuhh, semoga saja tidak terjadi apa-apa.. rencananya kalau bukan besok, ya besok lusanya aku akan ke daerah penambang diantar oleh Pak Sahidin, seorang polisi hutan.. nah, dari situ saja sudah terbayang seberapa bahayanya daerah itu..sampai-sampai harus diantar oleh polisi hutan.. huff…

Seusai presentasi selesai, aku masih di dalam ruangan rapat.. mengumpulkan data sekunder dari seorang bapak.. lalu kemudian berputar-putar, masih di dalam balai untuk mengurus segala administrasinya.. kemudian aku diberikan uang tunai 5 juta yang adalah pencairan pertama dari beasiswa.. Namun, dana yang dicairkan bukanlah berarti semuanya untukku.. pengeluaran tentunya harus ada tanda buktinya, dan sisa dananya harus dikembalikan.. maklum, dana ini bagian dari anggaran pemerintah (katanya)..


Hari sudah siang, kulihat jam sudah sekitar jam 1an.. anak-anak yang lain (Barri dan Mas’ud) menungguku.. mereka sudah dipesani untuk menjagaku.. inilah enaknya menjadi seorang cewek, tepatnya hanya cewek satu-satunya di antara para pria, dijaga..haha..

Hari semakin siang, sudah saatnya makan siang.. dan kami ber-3 pun akhirnya memutuskan untuk pergi makan.. tak jadi makan Rajungan masakan Mas’ud melainkan pergi ke rumah makan yang tidak jauh dari Balai, di dekat Dinas Kehutanan..

Barri dan Mas’ud mendapat pinjaman motor dari Balai.. Lalu aku digonceng oleh Mas’ud ke tempat makan, sementara Barri menjemput temannya Mas’ud yang ikut menemani Mas’ud penelitian..

Di tempat makan, kami banyak berbincang-bincang mengenai tema penelitian dan diri masing-masing.. Mas’ud kuliah di UGM - Jogja jurusan kehutanan dan tema penelitiannya adalah tentang Tarsius, hewan semacam monyet berukuran kecil dan bermata lebar yang nocturnal (aktivitasnya di malam hari). Sedangkan Barri kuliah di Undip – Semarang jurusan Biologi dan tema penelitiannya adalah tentang identifikasi penyu.. Sebenarnya Barri ahli genetika dan mau meneliti genetik penyu, namun karena permintaan pak gunung, akhirnya topik penelitiannya pun diubah.. Mereka berdua, dan temannya Mas’ud yang bernama Ari semuanya adalah angkatan 2007, yang berarti lebih muda 2 tahun dariku..

Dari mereka, aku jadi mendapat tambahan pengetahuan mengenai hewan-hewan dan juga alam.. walaupun aku suka dengan alam, tapi yang kutahu hanya sekedar jalan-jalan saja, sedangkan mengenai satwa dan tumbuhan yang ada di dalamnya, aku tak tahu apa-apa..

Kami pun kemudian memesan makanan, dan aku hanya memesan nasi putih dikarenakan sudah membeli Coto Manggala tadi pagi.. Coto Manggala rasanya cukup sedap dan segar, hanya saja kalau kebanyakan jadi enek.. satu bungkus Coto Manggala itu kubagikan dengan Barri dan Mas’ud, dan itu pun tidak habis.. sungguh mengenyangkan..

Lalu dari mereka aku juga diceritai mengenai Mess.. ternyata berbeda dengan pusat kota, daerah agak pinggir seperti dekat mess TNTP (Taman Nasional Tanjung Puting) justru banyak yang jualan makanan dan juga ada pasar.. oleh karena itulah Mas’ud bisa berbelanja Rajungan.. segalanya ada di daerah Mess (katanya) termasuk WiFi.. uh, enaknya..

Selesai makan, kami mampir sebentar ke tempat fotocopian di dekat situ.. ada dokumen yang harus kufotocopi..

Aku pun akhirnya menyadari bahwa bahasa favorit di kota itu yaitu yang berakhiran “kah?” unik jg pikirku..

Kemudian kami kembali ke Balai.. namun sesampainya di Balai aku langsung menyeberang ke dekat Supermarket Borneo.. Aku diminta mamaku untuk mentransfer uang melalui ATM dikarenakan kartu ATMnya kubawa.. di dekat supermarket itu hanya ada 2 macam ATM, yaitu BNI dan Mandiri.. untungnya aku menggunakan BNI, jika tidak tentunya akan susah karena di daerah seperti itu tidak semua bank ada.. Mamaku menggunakan BCA dan aku diminta mentranfernya ke BCA.. namun, ketika memilih kode bank, aku tak berhasil menemukan tulisan BCA.. hingga beberapa kali kuulangi membaca satu-persatu tetap tak ku temukan.. Kemudian aku berpindah ke ATM Mandiri.. bisa menggunakan ATM bersama, kupikir mungkin ada BCA.. namun ternyata juga tidak ada.. Mungkin karena BCA belum masuk ke daerah ini, maka hingga koneksinya pun juga tidak ada..

Lalu aku kembali ke Balai, maksudnya ingin mengambil SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) namun kata Pak Taufik besok saja dibuatnya.. 


dan, jam menunjukkan sekitar pukul 3 sore.. sudah tidak keburu untuk mengambil data di instansi-instansi terkait dikarenakan kantor pemerintah di kota itu tutup pada pukul setengah 4.. enak sekali pikirku, padahal di Jakarta jam 5 baru pulang kerja.. Kemudian, aku memutuskan untuk kembali saja ke hotel.. Barri yang ditugaskan untuk mengantarkanku dan menemaniku besoknya ke instansi-instansi terkait..

Sebelum pulang, kami ber-4 berfoto-foto dulu di depan kantor Balai bersama patung orangutan.. 


kemudian Barri mengantarkanku kembali ke hotel.. ternyata dia yang paling tahu jalan, dibandingkan dengan Mas’ud yang cukup buta arah..hoho

Di perjalanan, aku meminta Barri untuk berhenti sebentar di depan tugu pancasila karena aku ingin memotret tugu tersebut.. Barri menghentikan motornya di depan Monumen pesawat, yang ternyata bernama Monumen Palagan Sambi, yaitu monumen tempat penerjunan pertama.. 


Lalu aku pun segera memotret tugu pancasila, namun sayangnya hasil fotonya jadi gelap karena backlight.. 


dan kemudian aku minta difoto oleh Barri di depan monumen pesawat, tetap dengan membawa helm.. :)


Selesai berfoto, kami pun melanjutkan perjalanan.. mengantarkanku menuju hotel.. dan ternyata, jalan menuju hotel itu sangat sederhana.. hanya lurus mentok dan belok sedikit, sudah sampai di jalan depan hotel.. pantas saja waktu itu aku berjalan kaki jauh sekali, ternyata itu memutar.. aslinya memang 7 km, tak begitu jauh.. huh.. rugi d..

Jalan di kota ini sepi dan jarang kendaraan, tapi tetap ada lampu merah.. Kulihat penduduk kota ini disiplin terhadap peraturan. Mereka tetap menggunakan helm dan tidak menerobos lampu merah walaupun tidak ada polisi dan jalanan sepi.. hmm, hebat dan patut dicontoh..

Barri mengantarkanku sampai ke depan hotel dan berjanji akan menjemputku besok pagi.. lalu aku pun masuk ke dalam hotel dan mendapatkan snack sore kue coklat dan teh manis hangat..


Seusai makan snack, aku keluar hotel lagi, berjalan menuju masjid besar.. tujuanku hanya ingin memotret masjid tersebut..

Dalam perjalanan menuju masjid, kulihat ada banyak orang berjualan buah.. ada nangka utuh sebutir.. ingin beli tapi takut tak sempat makannya karena besok sudah mulai sibuk untuk urusan penelitian.. akhirnya aku tak jadi beli, hanya memandangi dengan muka pengen sambil lewat..

Tak lama kemudian, sampailah aku di depat masjid besar..nama masjid itu Sirajul Muhtadin.. di sampingnya ada bangunan yang sepertinya adalah pasar..


Hari semakin sore, suasana semakin gelap, maka aku pun segera kembali ke hotel.. dan kulihat warna langit di sore hari sungguh indah..



Malamnya aku memutuskan untuk tidak makan malam, malas rasanya.. Hari keduaku di Kalimantan pun berakhir..Kuakhiri dengan menonton Sky Drama 1 sambil smsan dan kemudian tidur..

Wednesday, November 16, 2011

Catatan Sang Peneliti: Hari Pertama di Kalimantan Tengah.. (Part 2)

Hari H, Hari Keberangkatan.. Jakarta-Sampit-Pangkalan Bun.. (Part 2)

Kota Pangkalan Bun ini ternyata masih sangat asri.. tidak terlihat sampah berserakan di jalan, udaranya pun terasa sejuk.. Dan, pesona kota ini dilengkapi dengan pemandangan langit yang menawan yaitu awan bergumpal-gumpal dengan indahnya.. Tampaknya awan di langit Kalimantan posisinya sangat dekat dengan daratan, berbeda dengan awan di Pulau Jawa yang tampak jauh di atas langit..


Cuaca di kota ini pun tampaknya memang tak pernah benar-benar cerah, tampak kondisi langitnya yang selalu berawan dan ada hawa-hawa lembab yang menandakan akan hujan.. Menurut sopir Taksi yang tadi mengantarku dari Bandara, di kota ini setiap hari pasti hujan.. tak heran jika lembar demi lembar uang kertasku kutemukan berjamur di dalam dompetku.. udara lembab tentunya sangat kondusif untuk pertumbuhan jamur, dimanapun itu..

Kuamati sekelilingku, selain asri kota ini juga terasa aman dan nyaman.. tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang, begitu pula dengan penduduknya tampaknya hanya sedikit.. jalan kaki berkeliling kota ini pun tampaknya bukan masalah.. justru terasa menyenangkan karena bisa mengenal kota ini lebih dekat, langkah demi langkah perjalanan kakiku membawaku pergi..

Ketika sebelum berangkat ke Kalimantan, aku sempat bingung karena tidak menemukan informasi mengenai lokasi ATM BNI, yang kutemukan hanyalah banknya saja.. dan ternyata, posisi bank dan ATM BNI yang kucari-cari ada tepat di sebelah Hotel Abadi tempatku menginap, hanya terhalang oleh sebuah warung dan gang kecil.. Tentu saja mengetahui hal tersebut membuatku merasa dimudahkan untuk keperluan transaksi apapun yang suatu saat aku perlukan..


Sambil berjalan menuju Istana Kuning, kulihat bangunan-bangunan di kanan kiri jalan memiliki corak yang khas, selain bentuk atapnya yang khas gadang (kayu bersilang), juga kulihat semacam ukir-ukiran dayak pada beberapa pilar tembok.. Selain itu juga masih banyak ditemukan jenis rumah panggung (rumah gadang) yang terbuat dari kayu..
Tak jauh dari hotel, sederet, terdapat sebuah rumah dengan taman yang ada kolam ikannya.. terlihat asri dan cerah.. menurut informasi itu adalah rumah pegawai bupati jika tidak salah ingat..



Semakin dekat dengan Istana Kuning, tepat di samping kompleks taman Istana Kuning terdapat Taman Semangat’45.. Taman ini kecil dan mungkin jarang dikunjungi orang, tapi cukup lumayan untuk sekedar duduk-duduk dan di dalamnya terdapat sebuah kolam ikan..


Di depan Taman Semangat 45 itu terdapat sebuah tempat sampah yang terdiri dari 2 bagian, yaitu untuk organik dan anorganik, tapi salah satunya pintunya sudah hilang, tampaknya tempat sampah ini tidak terpelihara.. di dalam tempat sampah itu nyaris tidak ada sampah, mungkin sudah diangkut karena aku sempat melihat ada truk sampah yang lewat.. kota ini ternyata sudah memiliki sistem pengangkutan sampah.. lumayan juga, hanya saja masih kutemukan sampah berserakan di tepi tempat sampah kayu tadi.. sudah berupa gundukan rendah, entah mengapa tidak ikut diangkut oleh truk sampah.. Hal ini membuat pemandangan buruk saja, untungnya posisinya di belokan dekat tiang listrik dan tanaman sehingga tak begitu tampak jika dilihat hanya sekilas saja..


Aku pun kemudian melanjutkan perjalanan, menyusuri bagian samping kompleks taman Istana Kuning, pemandangan langit sungguh indah..


Awalnya aku mau masuk ke Istana Kuning melalui samping taman.. namun kulihat ada tugu di dalam taman, dan aku pun berputar masuk melalui bagian depan taman.. Tugu di taman itu hanya sekedar tugu dengan bulatan yang dijadikan kolam ikan.. memang tak ada sampah tapi tampaknya tak dirawat karena warna catnya sudah agak luntur..


Lalu aku berjalan ke arah tangga masuk Istana Kuning.. kulihat dari bawah, tulisan “Istana Kuning” di bagian kanan kiri tangga sudah rusak, ada beberapa bagian yang sudah hilang..lagi-lagi tak terpelihara..


Sebelum memutuskan untuk menaiki tangga, kulihat pintu gerbang Istana tampaknya dikunci.. kebetulan ada anak-anak kecil yang lewat dan kutanyakan langsung kepada mereka apakah pintunya buka dan kata mereka tidak, bukanya di bagian sampingnya.. Lalu aku pun langsung berjalan ke sisi samping taman, meloncati pagar pendek taman dan menaiki tangga di samping kompleks taman Istana Kuning..

Setelah menaiki tangga yang cukup panjang, akhirnya aku pun tiba di pintu gerbang samping Istana Kuning.. pintu itu terbuat dari kayu..


Awalnya aku sempat bingung bagaimana caranya membuka pintu gerbang itu.. Lalu ada seorang bapak yang tadinya berada di warung di sebelah pintu gerbang yang bertanya aku dari mana, kujawab dari Jakarta.. lalu bapak itu membukakan pintu gerbang dan menemaniku masuk ke dalam Istana..

Istana Kuning, terbuat dari kayu, bentuknya pun khas Kalimantan berupa rumah panggung dengan atap yang khas, rumah gadang..


Aku pun masuk ke dalam bangunan kayu tersebut.. bagian dalamnya ternyata cukup terbuka, ada beberapa sisi yang tidak ada tutupannya sehingga bisa melihat keluar dengan mudahnya..


Di salah satu ruangan terdapat deretan foto para Sultan, turun temurun.. namanya pun serupa, diawali dengan “Sultan Ratu…” dan nama belakangnya hanya seperti dibalik-balik.. ga kreatif pikirku..

Di sudut ruangan itu terdapat sebuah kereta kuda dengan hiasan di bagian depannya berbentuk kepala burung garuda..


Dan di sudut ruangan satunya terdapat rangkaian bunga ucapan selamat untuk penobatan Sultan..


Namun, di belakangnya terdapat sebuah ruangan yang dikunci yang tampak penuh dengan bunga ucapan turut berduka cita.. ternyata, kata bapak yang menemaniku, baru beberapa hari lalu ada istri pangeran yang meninggal, masih muda katanya..


Kemudian aku melanjutkan melihat-lihat ke lantai bagian atas, yang ternyata hanya ruang kosong terbuka untuk melihat pemandangan kota Pangkalan Bun.. dari atas pemandangannya memang cukup indah, terasa semakin dekat dengan awan..


Tak lama kemudian aku turun kembali, melihat ke ruangan lainnya.. ada sebuah ruangan terbuka dengan pintu kayu yang di atasnya terdapat lambang Kotawaringin Barat..


Setelahnya, aku kembali ke ruangan yang tadi pertama kali aku masuki.. di bagian ujungnya, dekat ruangan tempat bunga ucapan turut berduka cita,  terdapat sebuah pintu kecil dengan lambang Kotawaringin Barat.. itu adalah pintu masuk menuju kediaman Sultan..


Selesai melihat-lihat di bagian dalam, aku keluar dan memotret bagian luar bangunan Istana Kuning tersebut.. Lalu berfoto..



Si bapak yang menemaniku menawarkan untuk mengantarkanku ke pemandian putri.. aku kira tempatnya dekat dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tapi ternyata tidak dan harus menggunakan motor, jadinya aku memutuskan untuk tidak jadi pergi ke sana.. konon katanya mandi di pemandian putri tersebut bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit..

Puas berfoto, aku memutuskan untuk kembali ke hotel, setelah memberikan tips sukarela untuk si bapak yang sudah menemaniku dan memotretku, dan setelah memotret sebuah masjid kecil yang terdapat tepat di seberang kompleks taman Istana Kuning..


Di dekat hotel, tepat di persimpangan jalan ada banner iklan Bank Kalteng yang dibawahnya tertulis logo kota “Pangkalan Bun kota Manis”.. kata “Manis” di sini merupakan singkatan dari Minat, Aman, Nikmat, Indah dan Segar..entah kenapa dijuluki seperti itu.. untuk aman dan segar memang benar.. tapi minat dan nikmat maksudnya apa toh?? Bingung..


Kulihat jam, masih siang sekitar jam 11, tapi entah mengapa suasananya seperti sudah sore sehingga membuatku malas untuk bepergian.. belum lagi rasa kantukku akibat bangun di subuh hari karena jadwal keberangkatan pesawat yang jam 6 pagi menambah rasa malasku untuk banyak beraktifitas.. Di hotel, aku pun tidur siang.. terlelap..

Aku terbangun sekitar jam 12an, tapi masih malas untuk bergerak apalagi pergi keluar untuk mencari makan siang..

Selama sekitar sejam aku bermalas-malasan di ranjang.. sambil menonton TV.. ada satu saluran yang akhirnya menjadi saluran favoritku karena menayangkan khusus film-film Taiwan dan Korea, nama salurannya “Sky Drama 1” dan nama perusahaannya “Skynindo”.. Film-filmnya ternyata bagus juga ceritanya..

Jam menunjukkan sekitar pukul 1 siang.. kuputuskan untuk bangun dan pergi mencari makan siang.. masih malas dan ngantuk.. aku lalu turun ke lobi dan bertanya kepada pegawai hotel, kalau mau beli soto manggala naik angkotnya arah ke kanan atau kiri dan katanya kanan..

Di depan hotel, setelah menyeberang, aku lalu memberhentikan sebuah angkot kuning yang lewat.. kutanyakan mengenai soto manggala dan katanya arahnya sebaliknya..


Kemudian aku menyeberang jalan lagi.. menunggu angkot kuning ke arah sebaliknya.. Angkot di pusat kota ini cukup banyak biarpun penumpangnya sering kali tidak ada atau Cuma 1 orang, tapi angkot tetap jalan terus tanpa ngetem.. sungguh berbeda dengan angkot-angkot di Jakarta, kalau belum penuh dengan penumpang sampe ga muat lagi, ga akan jalan dan pasti ngetem lamanya bukan main..

Angkot pun datang, kutanya ke sopirnya tapi Cuma bilang iya iya.. aku naik aja.. dan kutanyakan ke penumpang lainnya tapi tidak ada yang tahu..

Jalur angkotnya melewati persimpangan jalan yang dekat dengan hotel, berbelok ke kiri lalu ke kanan dan melewati pasar.. hingga akhirnya angkot berhenti, aku diturunkan di sebuah warung yang kata sopir yang tak ramah dan mukanya ketekuk itu adalah warung soto manggala..

Setelah membayar dengan ongkos 2.500, seperti saran sopir taksi yang mengantarku dari bandara ke hotel, aku pun langsung mendekati warung tersebut.. dan kulihat tidak ada tulisan soto manggala.. warung itu hanya menjual semacam ayam goreng..

Karena bingung, aku lalu menanyakan langsung kepada si penjaga warung dan katanya soto manggala ada di pojokan jalan di perempatan..

Sesampainya di perempatan, aku bingung lagi.. di bagian kiri ada warung kecil yang namanya sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh si penjaga warung sebelumnya.. tapi kok tak tampak tanda-tanda adanya soto manggala di situ.. aku ragu dan memutuskan berputar-putar di dekat situ..

Di bagian kanan jalan, terdapat warung terbesar yang kulihat di kota itu, namanya aku lupa, tapi itu adalah warung yang kutahu disarankan oleh seseorang di blog yang pernah berkunjung ke kota ini.. tapi, tampaknya warung itu juga tidak menjual soto manggala..


Lalu ada mas-mas yang sedang meletakkan kardus di plafon warung kecil yang dijadikan petunjuk jalan tadi, dan kutanyakan kepadanya mengenai soto manggala.. akhirnya ada orang yang tahu juga.. ma situ menunjukkan lokasi tepat tempat soto manggala dijual, yaitu di belokan ke kanan, melewati 2 warung yang jual bensin.. tapi katanya soto manggala itu biasanya hanya dijual di pagi hari.. Tapi, aku tetap penasaran sehingga berjalan ke lokasi yang ditunjukkan oleh mas tersebut..

Sesampainya di depan warung yang dimaksud, aku tak menemukan tanda-tanda dijualnya soto manggala.. tapi disitu dijual makanan juga, ada tempat arang untuk membakar, ada cangkir bumbu dan juga sekotak bahan mentah yang tak kutahu itu makanan apa..


Seorang bapak yang duduk di dekat meja bertanya kepadaku “cari apa dek?” dan kujawab bahwa aku mencari soto manggala.. dan ternyata katanya soto manggala hanya dijual di pagi hari.. yang dijual sore itu namanya kerupuk rebus, itu katanya juga titipan orang.. karena sungkan akhirnya aku membelinya, Rp 1rb per tusuk.. kulihat bumbunya, baunya seperti pempek dan ternyata kata si bapak itu memang serupa, dari bahan ikan yang sama.. tapi ini bisa dimakan langsung atau dibakar dulu..


Kuamati kerupuk rebus itu, sambil ngobrol dengan si bapak sementara si ibu bersiap membakar kerupuk pesananku..


Warung itu letaknya di depan kantor kecamatan..


Dari si bapak aku diberitahu kalau namanya bukan soto manggala melainkan coto manggala, terbuat dari manggala atau singkong.. aku mendengarkan sambil membayangkan rupa coto manggala itu seperti apa.. dan jam jualannya ternyata sekitar pukul setengah 9 pagi.. dengan si bapak aku juga mengobrol banyak mengenai kota itu, mengapa aku datang kesini, dan sebagainya.. penduduk di kota ini ramah-ramah kecuali sopir angkot tadi.. dan ternyata benar kata sopir taksi yang mengantarku dari bandara bahwa sebagian besar penduduk di sini adalah berasal dari jawa.. dayaknya nyaris tidak ada, sangat sedikit..

Setelah kerupuk rebus pesananku selesai dibakar, aku memutuskan untuk berjalan kaki.. aku merasa tahu arah karena kota ini memiliki rute jalan yang sederhana, tidak seperti di Jakarta yang berbelit-belit..

Aku berjalan ke arah pasar,


dan menemukan suara burung berkicau sangat keras.. kulihat ke atas langit dan ternyata ada kerumunan burung walet sedang terbang berputar-putar.. aku sempat bingung ada apa itu sebenarnya.. dan ternyata, di kota ini memang potensial untuk bisnis walet karena banyak sekali burung walet yang beterbangan di kota ini..


Kulanjutkan kembali perjalananku sambil makan kerupuk rebus, rasanya memang mirip pempek hanya saja lebih alot dan kurang sedap..

Awalnya mau mencari makan siang, tapi berhubung belum kutemukan makanan yang unik, selain makanan yang biasa kumakan (ayam goreng, bakso, mie, soto, dll) aku pun terus melanjutkan berjalan kaki..

Di tanjakan ke arah Istana Kuning ada bus sekolah yang sedang parkir, lagi-lagi warnanya kuning.. keren juga kupikir kota kecil begini tapi sudah punya bis sekolah..


Tak jauh dari situ adalah pintu gerbang parkir Istana Kuning.. di depannya, persimpangan jalan terdapat Tugu Adipura yang dibanggakan.. ternyata kota Pangkalan Bun ini menerima penghargaan Adipura selama 4 tahun kalau tidak salah berturut-turut yaitu sejak tahun 2007 hingga tahun 2010..


Masih belum menemukan makanan yang unik, aku pun melanjutkan perjalanan berkeliling kota.. Tak jauh dari Tugu Adipura terdapat Makam Kerajaan..


Lalu aku terus berjalan ke arah Gereja yang kulewati ketika naik taksi dari bandara ke hotel.. Kuperhatikan di kota ini terdapat banyak kios, dan kebanyakan adalah kios travel dan toko cemilan, serta toko sparepart atau bengkel tempat service kendaraan. Tapi lebih dominan ke travel dan warung-warung kecil tempat jual bensin.. jarang sekali tempat jual makanan.. dan misalkan ada pun juga tutup di hari minggu atau di sore hari..

Semakin dekat dengan Gereja, aku melihat seekor anjing yang mirip dengan anjingku brino, sama-sama jenis terrier mini, tapi anjing itu berbulu putih dan brondol, sepertinya kena sakit kulit.. anjing itu ternyata penakut, mau kupegang malah menyebrang jalan.. aku sudah sangat takut kalau-kalau dia tertabrak.. kulihati anjing itu dari sebrang hingga kira-kira dia di posisi agak aman dan kemudian aku pergi melanjutkan perjalanan..

Setelah melewati persimpangan jalan, tak lama kemudian tibalah aku di depan gereja yang ternyata tepat seperti dugaanku adalah Gereja Katolik St. Paulus..


Karena senang, aku segera masuk ke dalam gereja itu.. pintunya ternyata dikunci, padahal aku ingin melihat bagian dalamnya.. akhirnya aku hanya berkeliling di sekitar bangunan gereja.. sangat sepi, tak ada orang.. yang kulihat hanya tukang yang sedang bekerja membangun sebuah bangunan di sisi belakang gereja.. berkeliling-keliling di dalam kompleks gereja, aku menemukan pelat bertuliskan jadwal misa yang terdapat di tembok pintu masuk gereja.. kupotret agar siapa tahu besok-besoknya aku bisa mampir untuk ikut misa..


Setelah puas memotret, aku pun melanjutkan perjalananku.. kutemukan banyak tempat ibadah, dengan Kristen yang beraneka ragam dan juga kepercayaan lain (adat), ada byk organisasi-organisasi seperti organisasi perempuan, pramuka, dll..


Lalu aku berjalan ke arah simpang kanan, melewati sebuah gang yang di depannya ada plang bergambar orangutan bertuliskan “Orangutan Foundation International”.. oh di sini toh lokasinya..


Karena jalan tampak masih panjang, aku memutuskan berhenti.. mencoba ke belokan satunya di kiri jalan setelah melewati Orangutan Foundation, dan kutemukan sebuah stadion bernama Stadion Sampuraga..


dan jalan di daerah tersebut tampak rimbun, aku merasa itu bukan arah yang tepat.. sebetulnya aku ingin pergi ke Tugu Pancasila dan Monumen Pesawat yang sempat kulewati ketika dari bandara, masalahnya aku tak tahu arah.. di situ banyak juga persimpangan jalan dan semua tampak sama..

Lapar dan haus semakin melanda.. di persimpangan jalan tak jauh dari stadion terdapat sebuah ruko tempat makan Soto Madura.. namun bolak-balik aku ke situ, si penjaganya masih saja tidur di lantai, mengorok pula.. kalau seperti itu sudah tak mungkin untuk dibangunkan..

Karena lelah dan lapar sehingga lemas, maka aku memutuskan untuk kembali ke dekat hotel.. dalam perjalanan menuju hotel, aku melihat seekor anjing lagi, ukurannya juga tidak besar, berbulu coklat muda dan anjing kampung tetapi juga tidak bisa dipegang.. kelihatannya kurang bersahabat.. aku heran di kota ini sangat jarang kutemukan hewan di jalan seperti kucing ataupun anjing.. ah ga seru, ga da yang bisa aku sayang-sayang d.. :(

Sesampainya di dekat hotel, aku memutuskan makan soto di terminal di seberang hotel.. dan ternyata, rasanya amis ga enak sampe aku merasa mual tapi tetap kupaksa menghabiskan karena buang-buang makanan itu tak baik, apalagi kasihan ayamnya yang sudah terlanjur dipotong kalau dagingnya akhirnya terbuang sia-sia..  demi menghabiskan daging soto, aku menghabiskan dengan cepat minuman teh manisku dan aku juga minta tambah minum air..

Selesai makan, aku kembali ke hotel.. kemudian aku hanya menghabiskan sisa waktu di hari pertamaku dengan tidur-tiduran sambil menonton Sky Drama 1, juga menyiapkan keperluan untuk besoknya presentasi di Balai sambil smsan dengan teman-temanku.. dan, jam 8 malam tak disangka aku sudah mengantuk, padahal biasanya di Jakarta hingga subuh pun belum tentu aku sudah tidur.. Jam 8 itu masih terlalu pagi untuk tidur, tapi apa boleh buat hawa udara di Kalimantan tampaknya membuat manusia menjadi malas..

Besoknya aku sudah janji ke Mas’ud akan mampir ke Mess sebelum ke Balai TNTP, sekitar jam 9an sudah sampai di Bunderan Tugu Pancasila dan nantinya akan dijemput Mas’ud.. tujuanku mau mampir ke Mess selain numpang WiFi (di hari pertama sungguh menderita rasanya karena tidak bisa buka internet) dan bertemu dengan Pak Toto dan mengobrol jika sempat, juga tergoda tawaran Rajungan masakan Mas’ud.. hehe..  semoga saja bisa tepat waktu karena rencananya di pagi hari sebelum berangkat aku ingin membeli Coto Manggala dulu.. dan.. berakhirlah kisah di hari pertamaku di Kalimantan..