Eight Below

Eight Below

The Real World Adventurer..

"In this life, only the fool who always start the questions of life, moreover start their life mission and purpose of money. And once beginner ask where they get money, then they will be shackled by the constraints/obstacles. And almost certainly the answer is simply no money, can not and will not be" (Rhenald Kasali - Professor of University of Indonesia)

Monday, November 16, 2009

Transportasi Jakarta: Mulai Dari Diri Sendiri

Senin, 27-04-2009 10:06:38

oleh: Gracia Emerentiana

Kanal: Opini

www.wikimu.com


Berkeliling kota Jakarta, kita akan bertemu dengan yang namanya ‘kemacetan’, ‘polusi udara’ serta ‘kebisingan’. Ketiga permasalahan ini tidak asing lagi dan sepertinya sudah menjadi kebiasaan ataupun budaya kehidupan di kota metropolitan.

Jakarta merupakan kota besar yang sangat padat penduduknya, begitu pula dengan jumlah kendaraannya yang juga padat. Transportasi di Jakarta banyak macamnya baik kendaraan beroda dua maupun kendaraan beroda empat, serta ada pula yang tidak beroda (seperti sampan), umumnya dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Kendaraan pribadi yaitu motor, mobil dan juga sepeda. Kendaraan umum terdiri dari banyak jenis, yaitu yang berupa mini bus (seperti Kopaja, Metro mini, Kopami), bis besar (seperti Mayasari Bhakti, dll), bis antar kota, angkutan umum yang berupa mobil (seperti KWK, mikrolet, dll), bajaj, bemo, taxi, kereta, ojek motor dan ojek sepeda, sampan dan juga tak lupa angkutan umum yang sedang populer yaitu ‘bis Trans Jakarta’ atau yang biasa dikenal dengan sebutan ‘busway’. Ada pula kendaraan lain yang berfungsi untuk keperluan komersial, dinas maupun jasa, seperti truk dan tronton.

Ketika mengikuti acara ‘Tur Wisata Hijau’ yang diadakan oleh komunitas ‘Peta Hijau Jakarta’ pada hari Minggu, 26 April 2009 kemarin, saya jadi ikut memperhatikan kondisi transportasi di Jakarta. Di Jakarta orang-orang berduit cenderung menggunakan kendaraan pribadi, padahal banyak tersedia angkutan umum, hal ini yang menjadi akar kemacetan di Jakarta dengan banyaknya jumlah kendaraan yang dioperasikan disertai dengan banyaknya praktek pelanggaran peraturan dalam berlalu lintas yang menyebabkan ketidakteraturan. Begitu pula dengan ‘polusi udara’ serta ‘kebisingan’ menjadi merajalela karena diproduksi oleh kendaraan bermotor dalam jumlah besar.

Dengan adanya ‘Hari Bebas Kendaraan Bermotor’, kita dapat terhindar sejenak dari ketiga permasalah transportasi tersebut di atas. Istilahnya ‘Biarkanlah bumi beristirahat sejenak, begitu pula dengan makhluk hidupnya’. Pada kesempatan tersebut, masyarakat Jakarta memanfaatkan momen dimana jalur cepat Thamrin-Sudirman ditutup untuk kendaraan bermotor dengan berolahraga, berjalan kaki, berjoget serta bersepeda bersama keluarga maupun teman-teman yang dapat membina keakraban serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sekitar.

Begitu pula dengan saya yang sangat menikmati perjalanan dengan menggunakan sepeda dari Universitas Atma Jaya hingga SDN Percontohan 12 Benhil, rasanya segar sekali karena tidak ada asap kendaraan bermotor biarpun sinar matahari saat itu cukup menyilaukan dan menyengat. Selain itu, ada kepuasan tersendiri karena merasakan semacam kebebasan dari kepenatan yang selama ini dialami akibat kemacetan, asap serta kebisingan ketika berada di jalan-jalan raya di Jakarta. Momen tersebut saya harap juga dapat menyadarkan warga Jakarta akan pentingnya merawat dan menjaga bumi kita ini dari segala macam bentuk polusi maupun perusakan. Bumi sudah sakit, oleh karena itu kita bersama-sama hendaknya berusaha menyelamatkan dan menyembuhkan bumi kita ini.

Bis TransJakarta merupakan salah satu kendaraan umum yang menurut saya cukup bermanfaat karena dengan dioperasikannya bus tersebut diharapkan dapat mengurangi jumlah penggunaan kendaraan pribadi, begitu pula dengan peraturan 3 in 1. Selain ramah lingkungan, bis TransJakarta juga mampu mengangkut penumpang dalam jumlah cukup banyak (1 unit bis mampu mengangkut hingga 85 orang penumpang) serta bebas macet dan dapat menghemat waktu perjalanan.

Pembuatan program-program transportasi di Jakarta sebenarnya sudah cukup baik, dengan diadakannya peraturan mengenai 3 in 1, persyaratan kadar emisi polutan yang keluar dari knalpot kendaraan bermotor, serta alternatif baru seperti busway dan juga monorail yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi lingkungan Jakarta yang sudah sangat terpolusi, namun pelaksanaannya yang masih sulit karena banyaknya masyarakat yang ‘belum sadar peraturan’, seperti melanggar etika dalam berkendaraan umum (berhenti tidak pada tempatnya/bukan di halte yang telah disediakan, kendaraan umum yang dikendarai dengan kecepatan yang melanggar batas kecepatan, memaksakan memenuhi kendaraan dengan penumpang hingga overload, etika menggunakan kendaraan umum seperti berdesak-desakan dan tidak mau antri saat naik maupun turun dari kendaraan umum, dan lain sebagainya), menerobos lampu merah, melanggar 3 in 1, menggunakan jalur busway, melawan arah jalan, ugal-ugalan, dan lain sebagainya.

Pelanggaran-pelanggaran tersebut terjadi selain karena kurangnya kesadaran masyarakat, juga dapat disebabkan oleh kurang kuatnya peraturan serta sanksi yang ditegakkan terhadap berbagai macam bentuk pelanggaran tersebut. Di sini diperlukan peran pemerintah serta peran serta masyarakat, jika kedua elemen tersebut tidak ada, maka keteraturan dalam hal transportasi tidak akan dapat terwujud.

Ada baiknya kita mulai untuk mencoba menggunakan kendaraan umum dan meninggalkan penggunaan kendaraan pribadi demi mengurangi kemacetan, lebih baik lagi jika kita mencoba untuk bersepeda, selain ramah lingkungan juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh pengendaranya. Menyelamatkan bumi harus dimulai dari diri sendiri. Jika diri sendiri tidak mau dan tidak memberi contoh, maka tidak akan ada orang lain yang akan berubah pula. Jika bukan kita, siapa lagi? Mari kita selamatkan Bumi!

No comments:

Post a Comment