Eight Below

Eight Below

The Real World Adventurer..

"In this life, only the fool who always start the questions of life, moreover start their life mission and purpose of money. And once beginner ask where they get money, then they will be shackled by the constraints/obstacles. And almost certainly the answer is simply no money, can not and will not be" (Rhenald Kasali - Professor of University of Indonesia)

Monday, November 16, 2009

Mengintip ke Balik Korden Buddhisme

July 12, 2009 at 8:33 am
Oleh: Gracia Emerentiana
by komjakarta

Senin, 13-07-2009 17:09:26
oleh: Gracia Emerentiana
Kanal: Opini
www.wikimu.com


Agama Buddha dikenal sebagai agama yang paling cinta damai di bumi Indonesia tercinta ini. Apa sih yang melatarbelakangi image itu? Image umat Buddha yang cinta damai sebenarnya dibentuk dari ajaran Buddha itu sendiri, salah satunya terlihat dari doa yang biasa diucapkan oleh umat Buddha: ”Semoga semua makhluk berbahagia”. Demikian ajaran sang Buddha, untuk membentuk umatnya, berusaha menghindari terjadinya masalah dan berorientasi pada hidup damai dengan semua makhluk yang ada di sekelilingnya.

Sikap cinta damai tampak dalam perwujudan kehidupan umat Buddha. Salah satunya terlihat dalam reaksi dan sikap umat Buddha dalam menanggapi kasus ’Buddha Bar’ yang cukup marak dibicarakan. Menurut seorang kepala biksu, hal tersebut tidaklah patut karena nama Buddha disandingkan dengan bar yang sangat kontroversial. Kasus tersebut oleh umat Buddha dibawa ke hukum, dan penekanannya yaitu melalui demo sebagai bentuk perjuangannya. Demo dianggap lebih efektif dan lebih bisa diperhatikan oleh khalayak. Dengan adanya demo yang dilakukan oleh umat Buddha, pemerintah akhirnya menyadari adanya kekeliruan. Demo tersebut bertujuan untuk meluruskan kekeliruan, agar pihak yang menyimpang bisa menyadari dan tidak mengulang kesalahan yang sama. Dalam menghadapi kasus ini mereka tidak mau terlalu emosi, dan demo pun dijalankan dengan damai.
Begitu pula dengan sikap yang ditampilkan oleh umat Buddha dalam relasinya di masyarakat. Umat Buddha merupakan yang paling jarang (mungkin tidak pernah) terlibat suatu konflik di masyarakat. Berbeda dengan agama lain. Kasus Ahmadiyah, penutupan gereja, konflik antar agama, dan lain sebagainya, hanya sebagian kecil contoh yang bisa disodorkan. Umat Buddha bisa dibilang, hampir tidak pernah terlibat dalam hal semacam itu.


Ajaran Buddhisme


Hal lain yang menarik berkaitan dengan kehidupan umat Buddha yaitu mengenai ”umat Buddha tidak mau opened/memunculkan diri ke masyarakat, terutama dalam bidang politik.” Dari hasil interview saya dengan seorang Banthe, saya dapat menyimpulkan bahwa hal tersebut merupakan kecenderungan umat Buddha di dunia. Di Indonesia pada jaman orde baru, agama Buddha dikaitkan dengan etnis Tionghoa, sehingga menyebabkan adanya suatu ketakutan. Setelah reformasi, umat Buddha baru mulai memunculkan diri. Jika dibandingkan dengan agama lain, umat Buddha memang lebih menutup diri untuk mengambil peran di masyarakat (terutama dalam hal politik), kurang berpikir kontekstual.
Padahal Buddha sendiri ikut berpolitik. Sebagian besar umat Buddha memiliki kecenderungan spritual yang sempit (hanya terbatas pada pengembangan spiritual diri sendiri/individu), namun saat ini kesadaran mulai tumbuh, apalagi di Barat. Namun umat Buddha yang mengambil peran di masyarakat tidak membawa nama agama. Ada sebuah buku, karangan seseorang dari Vietnam, mengatakan bahwa umat Buddha sebenarnya tidak pasif, namun jumlah yang tidak pasif tersebut hanya sedikit (minoritas). Umat Buddha yang berbuat sosial ya sosial, tidak dikaitkan dengan agama. Kegiatan sosial tersebut merupakan suatu aktivitas sebagai bentuk dari agama, sebagai praktik spiritual. Namun dalam kehidupan umat Buddha sendiri, memang budaya konservatif lebih kental. Yang tidak konservatif hanya sebagian kecil dari mereka.


Berbagai Aliran


Mengenai sektenisasi yang sedang marak, termasuk dalam agama Buddha yang terbagi menjadi beberapa sekte (sekitar 18). Sekte-sekte itu terbagi lagi menjadi sub-sub sekte, saya melihat bahwa tidak ada masalah mengenai hal tersebut. Agama Buddha merupakan satu kesatuan. Secara filosofis, agama Buddha hanya terbagi menjadi dua sekte besar, yaitu Theravada dan Mahayana, ditambah dengan sekte dari Tibet, yaitu Tantrayana. Sekte merupakan suatu penerapan atas metode yang dirasa cocok oleh suatu kelompok ataupun orang tertentu yang pada akhirnya berkembang menjadi satu tradisi, kemudian masuk ke suatu negara. Jadi sekte itu merupakan bentuk penerapan terhadap budaya suatu negara.

Buddha masuk ke India menjadi Buddha India, masuk ke Tiongkok menjadi Buddha Tiongkok, begitu pula dengan yang masuk ke negara-negara lainnya, ada bungkus budayanya. Sebenarnya ada dua hal yang mendasari, yang pertama yaitu budaya, dimana orang-orangnya lebih mudah belajar. Yang kedua, yang penting essensial dan kontekstual. Di Indonesia, hal kedua yang paling banyak digunakan, menggunakan kekayaan semua tradisi / budaya Indonesia, yang kontemporer dan lebih sesuai dengan kebutuhan serta ada penyesuaian. Yang menjadi masalah sebenarnya hanyalah metode dan budayanya bisa banyak. Dalam Puja Bhakti Waisak terlihat tidak adanya tindakan membeda-bedakan sekte-sekte dalam agama Buddha, semua sekte berdoa bersama-sama, dan dari tata cara kebaktiannya disesuaikan menggunakan tata cara yang digunakan oleh semua sekte tersebut (ada bahasa pali, sanserketa, dan koi), begitu pula dengan biksunya yang berasal dari sekte-sekte yang berbeda (20 banthe dengan pakaian berwarna berbeda-beda sesuai dengan sekte mereka), namun satu.
Berhadapan dengan glamour-nya dunia, umat Buddha memandangnya sebagai masalah. Lawan mereka bukan agama lain, melainkan derasnya materialisme, hedonisme dan konsumerisme yang bisa membuat ego, keserakahan dan kebencian menyebar, salah satu bentuknya yaitu Buddha Bar. Untuk menghadapi hal tersebut bagi mereka tidaklah cukup hanya menggunakan jalur ritual dan intelektual, tetapi juga menggunakan jalur praktek baru bisa muncul kesadaran, sehingga bisa membedakan (tahu) mana yang baik dan tidak baik.

Mengenai Yayasan Buddha Tsu Chi yang menggunakan nama Buddha sebagai landasannya, aktivitas Tsu Chi awalnya bergerak dalam bidang kesehatan, namun pada akhirnya bertambah / berkembang menjadi lebih terbuka. Dulu sifatnya lebih individu, namun sekarang dengan adanya budaya N-gadges, cirinya menjadi lebih universal. Amal yang dijalankan oleh umat Buddha sebenarnya bertujuan untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan. Agama Buddha sebagai landasan. Tsu Chi sendiri sebenarnya merupakan ekspresi praktek dari guru-guru Buddhist yang mempraktekan ajaran agama Buddha dengan lebih terbuka, yaitu kemanusiaan universal, beda dengan Buddhism yang pada umumnya tertutup seperti pembiaraan dari Thailand. Aktivitas ini sebenarnya lebih ditujukan untuk anak muda di Asia., biasanya disupport oleh organisasi-organisasi Katolik (sering memberi dukungan). Umat Buddhist yang mulai berperan di masyarakat jumlahnya memang masih sedikit, namun terus berkembang dan nantinya mungkin akan memberikan pengaruh yang lebih besar. Tetapi dari pihak Buddhist sendiri banyak mengajukan pertanyaan untuk Tsu Chi yang banyak menolong orang-orang dari berbagai agama, ’Bagaimana mengenai bantuan bagi umat Buddha sendiri? Umat Buddha pun banyak yang membutuhkan pertolongan/bantuan’, Tsu Chi lebih banyak memberikan bantuan untuk orang-orang yang beragama lain.

Mengenai Biksu yang tidak boleh makan lewat dari jam 12 siang dan tidak boleh bersentuhan dengan wanita, bukanlah harga mati. Makan terdiri dari dua kelompok, yaitu boleh makan lewat dari jam 12 siang namun dalam jumlah sedikit, ada pula yang tidak makan sama sekali. Pola makan tersebut (tidak boleh makan lewat dari jam 12 siang) merupakan bentuk olah spritual dan meditasi, dan sebenarnya melihat bahwa makan malam tidak begitu penting/perlu. Jika makan malam kebanyakan akan meningkatkan jumlah energi, yang akan meningkatkan nafsu seksual. Dengan demikian, dalam kehidupan membiara, mereka lebih dianjurkan makan hanya pada pagi hari sekitar jam 8 atau 9, namun dalam porsi besar dan cara mengunyah yang benar, sehingga makanan dapat diserap usus dengan baik. Makan malam sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, tidak ekstrim, kecuali di tempat dingin, namun makanannya vegetarian. Makanan vegetarian yang menjadi ciri khas umat Buddha pun sebenarnya juga berkaitan dengan ajaran Buddha dimana sebisa mungkin menghindari makan makanan yang berdaging. Larangan bersentuhan dengan wanita diberlakukan jika tindakan bersentuhan tersebut berjalan dengan birahi. Upaya menghindari bersentuhan dianggap lebih aman, terutama bagi yang masih muda untuk menghindari nafsu dan hasrat yang terkadang suka membuta.


Buddha=Tionghoa?


Dalam hal kepercayaan dapat disimpulkan bahwa mereka mempercayai akan adanya roh, reinkarnasi dan juga kharma. Cara berdoa mereka sangatlah khusyuk, paritta dibacakan dengan suara lantang dan nada yang kompak, demikian pula dengan sikap doa yang juga teratur. Dari segi tata cara ibadat, dilaksanakan dengan sangatlah ketat karena harus dengan gerakan dan cara/nada membaca doa yang telah ditentukan (ada standardnya), tidak boleh berbeda sama sekali. Selain itu, dalam agama Buddha terdapat acara-acara lain (di luar Hari Raya) seperti perjumpaan dengan 1000 bhante, Cheng-Beng (peringatan arwah-arwah dan kunjungan ke makam keluarga, diadopsi dari budaya Cina), Ce It (Sembahyang di kelenteng setiap tanggal 1 penanggalan Cina), Cap Go Meh, Imlek (ada doa di Vihara), dan lain sebagainya yang juga diadopsi dari budaya masyarakat Cina dimana budaya tersebut masih kental dilaksanakan oleh umat Buddha. Demikianlah faktor yang menyebabkan umat Buddha sering kali dikaitkan dengan etnis Tionghoa. Sering kali orang berpikir bahwa Buddha seolah sama dengan Tionghoa.
Jika kita menyorot ajaran Buddha dengan lebih dalam, akan lebih banyak lagi hal menarik yang akan kita temui, terutama dari sisi sejarahnya dan dari segi ajarannya yang juga unik. Sekian opini dari saya, ternyata menyorot dan mempelajari kehidupan serta ajaran dalam agama Buddha sangatlah menarik serta menggugah semangat untuk semakin tahu lebih banyak.


Referensi:
1. Menjadi UMAT BUDDHA (Penuntun Pelaksanaan Agama Buddha dalam Kehidupan Sehari-hari).
2. Jadilah Pelita (Ajaran Sejati Buddha).
3. KeTuhanan dalam Agama Buddha (Sebuah Pembicaraan Awal).
4. VIJJA – DHAMMA (Pelajaran Untuk Sekolah Menengah)
5. Mengapa Kita HARUS Berbuat Kebajikan? (Dharma Practical Series, Seri 1.. dalam buku ini
sekilas berisi mengenai apa yang dilakukan oleh Yayasan Amal Buddha “Tzu Chi”).
6. Hasil interview dengan Banthe ”Dharma Wimala”, Vihara Ekayana, 9 Mei 2009.
7. Hasil interview dengan 3 orang pemuda Buddhist.

No comments:

Post a Comment