Eight Below

Eight Below

The Real World Adventurer..

"In this life, only the fool who always start the questions of life, moreover start their life mission and purpose of money. And once beginner ask where they get money, then they will be shackled by the constraints/obstacles. And almost certainly the answer is simply no money, can not and will not be" (Rhenald Kasali - Professor of University of Indonesia)
Showing posts with label Penambang Liar. Show all posts
Showing posts with label Penambang Liar. Show all posts

Monday, December 19, 2011

Catatan Sang Peneliti: Hari Keenam di Kalimantan Tengah..

Beralih dari daerah Tambang ke Stasiun Penelitian Hutan Tropis.. (Jumat, 4 November 2011)

Pagi-pagi sekali si mbak Yuli sudah bangun dan aku pun jadi terbangun tapi masih malas beranjak dari tempat tidur.. Mbak Yuli terlihat sibuk ke sana kemari, memasak air panas dan menyiapkan  keperluan untuk mandi.. Dia melihatku sudah bangun dan kemudian memberiku susu kental manis hangat dan  biskuit-biskuit.. Lalu dia mandi sementara aku makan.. Hpku yg dicharge sudah ada, katanya dikirim, entah mungkin subuh-subuh atau tadi malam..

Setelah mbak Yuli selesai mandi, bergantian giliranku yang mandi.. Aku disuruh ambil sendiri shampoo saset dan sikat gigi.. ga usah bayar katanya.. Berhubung aku tak membawa tas ransel yang berisi baju-baju, yang kutinggal di Pos Sei Kole, maka aku terpaksa menggunakan handuk milik mbak Yuli dan tak ganti baju..

Untuk mandi awalnya aku disuruh mbak Yuli menggunakan sarungnya, tapi sarung itu sudah basah dan aku tak bisa menggunakannya.. apalagi juga tidak ada kamar mandi, hanya ada ruangan bambu setengah terbuka di belakang pondok.. jadi terpaksa lagi-lagi aku hanya membasuh tubuhku saja dengan air..

Setelah beres, aku lalu mendata mbak Yuli dan mengisikan kuesioner atas namanya.. kemudian, karena sudah dipanggil-panggil oleh pak Udin, maka aku langsung bergegas ke warung tempat nongkrong kemarin malam.. dan, lagi-lagi aku tersiksa oleh asap rokok.. Di warung itu aku disediakan makanan pagi indomie goreng, tapi sayangnya kebanyakan air.. :(

Selesai makan dan pak Udin membayar kepada ibu pemilik warung, aku diajak berkeliling Desa Hampalam untuk mendata para penambang dengan kuesioner.. 


Sebagian besar penambang di Desa Hampalam ini ternyata berasal dari Demak, lagi-lagi Jawa.. tapi bedanya, di Desa ini tingkat penghasilannya masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan di Desa Banit.. setiap penambang rata-rata memperoleh penghasilan per bulannya masih di atas 1 juta rupiah.. masih lebih baik..

Kemudian setelah penambang di Desa itu tampaknya sudah semuanya didata, pak Udin mengajakku naik ke perahu, katanya mau ke Desa Pasir Hitam tapi ternyata ketika tiba di lokasi, daerah tersebut masih termasuk Desa Hampalam.. dan, di tempat tersebut lagi-lagi aku dijodohkan dengan seorang penduduk asal Kumai yang berusia 27 tahun.. wew.. kenapa ya aku selalu jadi korban? -___-“

Selesai mendata, aku sudah lelah.. dan aku memilih untuk kembali ke Pos Sei Kole dibandingkan melanjutkan perjalanan ke Desa Pasir Hitam yang jalur sungainya penuh dengan buaya berukuran 10 m.. hiii…


Dalam perjalanan melalui jalur sungai yang sama seperti kemarin sore, lagi-lagi perahu yang kunaiki tersangkut kayu-kayu yang hanyut.. tapi kali ini lebih parah karena kayunya lebih banyak sehingga menyangkut hingga ke lambung perahu.. Pak Udin dengan susah payah, hingga naik ke kayu lanting yang ikut hanyut untuk menjauhkan perahu dari kayu-kayu tersebut.. 


Kupikir, benar kan keputusanku kemarin malam, jika mengikuti kata Pak Udin akan lebih berbahaya apabila perahunya tersangkut.. di malam hari suasana sungai sangat gelap, tidak ada cahaya, tidak kelihatan apa-apa.. bisa jadi ada buaya di sampingku dan aku tak menyadarinya.. 

Di Pos Sei Kole aku hanya mampir sebentar untuk mengambil tas ransel milikku, dan Pak Udin mengambil perlengkapan mandinya dan juga baju-bajunya yang juga sama sepertiku ditinggal di pos itu ketika kemarin pergi ke Desa Hampalam..

Sebelum naik ke perahu, kusempatkan untuk berfoto-foto, menggunakan topi safari bertuliskan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) yang ternyata milik Pak Udin, dan yup, kulitku sudah menjadi sangat hitam..uhh.. 



Selesai berfoto, kemudian kami kembali ke Desa Aspai karena Pak Udin mengejar waktu untuk Sholat Jumat..

Di Aspai aku jadi lebih diam, aku sedang malas bergaul.. Aku hanya duduk termenung di kursi di depan pondok Pak Udin sambil mendengarkann musik, bengong.. Aku juga sempat mengantuk sampai memejamkan mata, ketiduran sebentar..

Di siang hari itu sangat silau.. mungkin karena tidak ada pohon dan sekelilingku hanyalah gurun pasir.. mataku jadi terasa perih, bisa rusak jika terus berada di situ.. jika masuk ke dalam pondok, terlalu gelap, mataku juga akan rusak..


Sholat jumat terasa berisik sekali, kebetulan pondok Mesjidnya berada tepat di depan pondok Pak Udin.. jadinya suara lagu yang kudengarkan dengan headset aku besarkan juga untuk meredam suara speaker dari Mesjid.. aku tak peduli jika baterai Hpku habis, masalahnya aku cukup pusing mendengar suara speaker itu..

Sebelumnya aku sudah bilang kepada Pak Udin bahwa ke Pondok Ambungnya hari ini saja, agar Pak Udin bisa langsung ke Kumai untuk melayat saudara iparnya yang meninggal itu.. Terus terang aku juga sudah tidak betah dan tak berniat untuk menginap di desa itu lagi malam ini..uhh..aku sungguh merasa tersiksa..

Selesai Sholat Jumat kubilang kepada Pak Udin untuk menggunakan Speedboat saja untuk ke Pondok Ambung.. memang biayanya bahan bakarnya lebih mahal, tapi bisa lebih cepat untuk tiba di Pondok Ambung, lebih menghemat waktu.. Untuk bahan bakarnya kata Pak Udin 300ribu.. tapi  aku curiga masa semahal itu, dan akhirnya kutanyakan perinciannya.. katanya bensin 5 Liter x 8 ribu = 40 ribu, ditambah minyak tanah 20 Liter x 8 ribu = 160 ribu, lalu oli 30 ribu.. total 230rb.. selesai menghitung, aku langsung memberikan uangnya kepada Pak Udin dengan sebelumnya aku berbicara agak keras.. Aku bilang kepadanya, mahal tidak apa-apa yang penting aman.. lebih baik dicegah daripada kejadian.. masalahnya Pak Udin terlalu meremehkan alam.. memang beliau sudah lama tinggal di sana, tapi bukan berarti boleh seenaknya meremehkan alam.. 

Beberapa jam berlalu dan trnyata Speedboatnya rusak, tidak bisa diperbaiki.. dan, akhinya terpaksalah aku menggunakan perahu alkon tapi yang berukuran sedikit lebih besar dari yang kugunakan kemarin-kemarin.. perahu ini masih bisa menampung 5 orang.. untuk bahan bakarnya lebih murah dari Speedboat, hanya membutuhkan bensin 10 Liter = 80 ribu.. lalu aku bertanya-tanya, uang bensin sebesar 50 ribu yang kemarin kuberikan untuk Pak Udin itu untuk berapa liter? Jika 1 liternya = 8 ribu, maka dapat 6 Liter dan sisa uang kembalian 2 ribu.. ok lah.. masih masuk akal untuk bahan bakar selama berkeliling desa tambang kemarin.. 

Lama perjalanan menuju Pondong Ambung katanya sekitar 1,5 jam.. lalu tanpa menunggu lama, aku pun segera berangkat.. selain pak udin, jug ada anak pertamanya yang gemuk yang saat itu bertugas mengendalikan motor perahunya..


Aku berkali-kali berusaha menghindar dari Pak Udin yang sebelum-sebelumnya minta nomer Hpku.. aku tak mau diganggu.. belum lagi diledek terus mengenai aku yang belum menikah.. aku kan orang kota, bukan orang desa yang mikirnya cuma nikah.. umur belasan tahun sudah punya anak, mau dikasi makan apa keluargaku.. masa asal badan gede, dibilang sudah saatnya nikah..ckckck.. orang desa memang tidak berpikir panjang ke masa depan.. hidup seperti mereka itu sungguh menderita, hanya saja mereka sudah terbiasa sehingga bisa bilang nyaman.. aku tersiksa.. belum lagi makanannya sama sekali tidak bergizi, hanya ada nasi dan mie, tiap hari seperti itu.. ditambah lagi juga tidak ada air bersih.. uhh..

Di perjalanan menuju Pondok Ambung, tampak suasana di kiri kanan sungai semakin asri.. lalu sampai ke belokan Muara Ali, air sungainya tampak hitam.. kata Pak Udin itu karena masih bersih dan airnya bisa diminum.. aku tidak akan mau minum air dari situ.. walaupun tebakanku kandungan mineralnya tinggi, sehingga warnanya menjadi hitam, tapi bukan berarti air sungai itu bebas dari bakteri E-coli.. ketika di tempat Pak Udin saja aku minum Aqua yang aku bawa.. mereka minum air sungai yang tanpa dimasak.. warna airnya jelas-jelas kuning tapi dibilang bersih.. aku ini insinyur lingkungan, jadi aku sangat tau mengenai kualitas air walau hanya dengan melihatnya saja.. dari fisik sudah jelas, apalagi kimiawi dan biologisnya, sudah bisa diduga..


Sungai di Muara Ali tampak lebih mencekam.. mungkin karena warnanya yang gelap..airnya lebih kuning..dan sungainya lebih dalam.. namanya saja Muara.. sekelilingnya adalah rawa-rawa.. dan katanya disitulah pernah terjadi kasus seorang turis bule dimakan buaya..  



Lalu aku melihat ke atas, di langit terlihat semacam burung berukuran besar yang sedang terbang melintas.. tapi anehnya sayap burung itu tampak agak transparan.. dan ternyata, itu bukanlah burung melainkan kalong (kelelawar berukuran besar).. hmm, tampaknya kalong itu ukurannya tak normal, lebih besar dari yang umumnya ada.. di hutan ini memang luar biasa..


Saat itu perahu yang kunaiki sempat berpapasan dengan kelotok turis.. ada 2 kelotok dan kulihat mewah juga.. kelotok itu adalah perahu besar dan bertingkat, ada meja makan, tempat tidur dengan kelambu dan terpal, juga ada kamar mandi.. dan turisnya semua bule.. kelotok itu selain ukurannya besar, juga tinggi dari permukaan air, jadinya sudah pasti jauh lebih aman.. berbeda sekali jika dibandingkan dengan perahu kecil yang kugunakan untuk kemana-mana..sekali goyang ataupun bocor, tamat sudah riwayatku.. :(



Tak lama kemudian, sampailah di Dermaga Pondok Ambung.. ketika itu langsung ada 3 orang laki-laki yang menyambutku.. yang 2 kutau Mas’ud dan temannya, Ari.. yg satu lagi entah siapa, tampaknya petugas di Pondok Ambung..



Aku pun mencoba berdiri, perahu sempat goyang.,. lalu aku naik ke dermaga dengan tangga.. Aku senang, karena tampaknya di situ lebih baik.. selain asri, tak bikin dehidrasi seperti di daerah tambang dan juga tampak pondok-pondok yang lebih mirip rumah..

Aku pun berjalan melewati jembatan dermaga ke arah pendopo.. lalu berkumpul dengan yang lainnya.. Pak Udin dan anaknya ikut, nimbrung ngobrol sebentar.. lalu aku mengantarkan mereka pulang sampai ke dermaga.. Hari sudah sore.. tadi cukup sakit juga kakiku, bersila selama 1,5 jam di perahu.. kebas..


Di pendopo, aku lalu ngobrol-ngobrol dengan Mas’ud dan Ari, juga seorang lagi yang ternyata pegawai TNTP, biasa dipanggil bang Awi.. Mereka menjelaskan kepadaku bahwa di Pondok Ambung ini ada kamar, juga kamar mandi dan dapur, juga ruang makan.. 


Lalu Ari membuatkan kopi yang sudah dicampur dengan pasak bumi.. kami semua harus meminumnya.. katanya pasak bumi itu untuk anti malaria, dan mencabutnya di tengah hutan membutuhkan tenaga yang besar, 3 orang saja masih tidak kuat.. Aku langsung senang, tampaknya di sini jauh lebih baik.. dan kuceritakan bahwa aku sudah 3 hari tak mandi.. >.<

Lalu kami berkumpul di perpustakaan, yang sekaligus ruang kerja.. kami menonton film dari HDD Mas’ud.. di sini ada listrik yang menggunakan panel surya juga aki.. senangnyaa..

Hanya saja di sini lebih tak ada sinyal.. sinyal Hp hanya bisa diperoleh dengan meletakkan Hp di sebuah kotak kayu yg tersambung dengan kabel ke antena.. kotak kayu itu hanya ada di pendopo, ruang kerja dan kamar, tapi yang di ruang kerja sepertinya rusak..


Hari pertama aku belum berhasil mendapat sinyal, kata mas’ud sepertinya masih penyesuaian karena dia pun juga demikian ketika di hari pertama di Pondok Ambung..

Malamnya aku ikut mereka untuk penelitian Tarsius.. sebelumnya aku menaruh barang-barang bawaanku di kamar.. di Pondok Ambung ada 1 pondok yang terdiri dari 4 kamar, dan pondok itulah yang biasanya digunakan untuk para peneliti yang datang ke tempat itu.. Dalam 1 kamar ada 2 ranjang dan juga ada lemari.. kamarnya cukup luas.. wahh.. enaknya.. aku sudah 3 hari merindukan kasur.. hiks hiks.. 


Selain pondok itu, juga ada 1 pondok lagi yang terdiri dari 2 kamar, yang merupakan kamar-kamar pegawai Pondok Ambung..


Sebelum kami berangkat ke hutan, aku minta bang Awi untuk mengantarkanku ke wc berhubung lokasinya agak masuk hutan dan jalannya juga gelap sehingga harus menggunakan senter..

Lalu setelahnya, aku pun ikut ke hutan, Ari menyarankanku untuk menggunakan kaos kaki agar tak kena pacet, semacam lintah tapi berukuran kecil.. Ari yang pernah digigit, telapak kakinya berlubang dan berdarah tak berhenti-berhenti hingga 1 jam..

Di dalam hutan, aku berjalan di tengah di antara mereka, mereka di depan belakangku, katanya agar aku tak hilang.. Aku ikut kemana pun mereka pergi, membawa senter dan akhirnya ikut-ikutan mencari Tarsius di pohon.. awalnya aku sempat takut jika mengarahkan senter ke atas pohon.. Sering kali sejak aku kecil banyak orang bilang jangan melakukan hal tersebut karena di atas pohon bisa saja ada kuntilanak.. hiii.. tapi beruntung aku tak melihat hantu sama sekali ketika itu..

Setelah sekitar 1,5 jam berjalan di tengah hutan, kami masih belum berhasil  menemukan Tarsius.. Kami malah menemukan burung tidur membulat berlindung di bawah daun, total 3 ekor.. Burung yang pertama, ditoel pun tak bangun, 


burung yang kedua bangun tapi tidak terbang, 


dan yang ketiga bangun dan langsung terbang ketika menyadari keberadaan kami..


Kami juga menemukan berbagai jenis jamur.. ada yang menempel di batang pohon dan berasap, ternyata menebarkan sporanya.. 


Kata Ari dia sudah menemukan belasan jenis selama di Pondok Ambung.. aku tak jeli seperti mereka, yang kulihat hutan ini gelap, aku tak bisa melihat apa-apa tanpa senter.. dan, aku baru melihat burung, juga jamur setelah ditunjukkan oleh mereka..

Ketika berjalan, masih di hutan, sempat tiba-tiba bang Awi dan Mas’ud yang berada di depanku tiba-tiba lari dengan kencang, kukira ada apa, mungkin ada bahaya.. dan ternyata, gerombolan semut berukuran besar sedang melintas dan kalau digigit rasa sakitnya bukan main.. aku terkena  gigitan 2 ekor semut dan rasanya sakit juga..

Sesampainya di pondok, aku disarankan untuk memeriksa kakiku apakah kena pacet atau tidak, hingga di balik kaos kaki dan celana panjangku.. untung saja tidak ada..

Si Ari terkena pacet lagi di kelingking kaki kanannya.. darahnya mengalir tak berhenti hingga sejam berikutnya.. padahal sudah diberi obat dan juga dibalut tissue basah.. awalnya memang tidak terasa perih, tapi kemudian lama-lama terasa sangat perih.. ternyata pacet itu menghisap Vitamin K dalam darah manusia yang berfungsi untuk pembekuan darah..

Menu makan malam hari itu adalah nasi dengan mie pedas.. kata mereka, mie itu sudah tak begitu pedas jika dibandingkan dengan yang tadi pagi, yang saking pedasnya hingga membuat mereka semua menangis..

Setelah makan, kami mengobrol sebentar, kemudian si Ming-ming (kucing jantan berbulu putih belang) naik ke atas kakiku dan tidur sambil membulatkan badannya.. tampak seperti nyaman sekali.. dasar kucing manja, padahal jantan..ckckck


Kemudian saatnya tidur, aku bawa Ming-ming ke kamar, lalu aku pun tidur sambil membiarkan laptopku menyala.. Namun, tidurku sempat beberapa kali terganggu karena Ming-ming maunya menempel terus kepadaku.. Headset dan tissue yang kugunakan, dibuat main dengan tangannya.. tapi akhirnya, tidurku lumayan nyenyak juga.. di dalam pondok kayu itu rasanya hangat dan nyaman.. dan, hari keenamku di Kalimantan pun berakhir..

Wednesday, December 7, 2011

Catatan Sang Peneliti: Hari Kelima di Kalimantan Tengah..

Hari Kedua di Daerah Tambang.. (Kamis, 3 November 2011)

Subuh-subuh aku terbangun oleh suara Adzan.. dan kulihat pak Udin sudah bangun dan membiarkan pintu pondok terbuka.. udara dingin menyengat masuk ke dalam pondok dan aku pun semakin menggulung badanku.. lalu aku ingin melanjutkan tidur lagi karena masih mengantuk, dan ternyata pak Udin malah mengajakku ngobrol.. terpaksalah aku bangun dan tak memungkinkan untuk tidur lagi.. akhirnya aku memutuskan untuk ke pondok Ati untuk membasuh tubuh dan ganti baju.. pondok Ati paling lumayan karena di bagian belakangnya ada tempat untuk mencuci yang bisa ditutup walaupun tidak ada gentengnya.. disitulah aku membasuh tubuhku dengan air (masih dengan pakaian lengkap) dan kemudian berganti pakaian dengan ditutupi handuk-handuk.. lalu kemudian aku menggosok gigi, dan kurasakan air tanah yang mereka bilang bersih ternyata terasa ada kandungan besi (Zinc – Zn) nya.. segala hal yang ada di desa ini tidak layak.. sungguh menyedihkan.. :(

Selesai “mandi”, aku pun kembali ke pondok pak Udin.. aku bermaksud untuk mencharge hp dan ternyata listriknya mati.. di situ listrik susah, hanya ada malam hari katanya, dan itu dari panel surya yang entah daya tampung energinya seberapa besar, dan kurasa hanya sedikit sekali.. aku terlanjur menghabiskan baterai hpku untuk mendengar musik tadi malam.. jadinya sekarang baterainya sekarat d.. untungnya aku masih punya 1 hp lagi yang memang kugunakan untuk SIM card sementara selama di Kalimantan..

Lalu sambil menunggu jam 7 pagi, aku duduk-duduk di kursi di depan Pondok pak Udin sambil makan pop mie yang kubawa.. air panasnya kuminta dari Ati.. aku cukup pasrah dengan kualitas air disitu, berharap saja tidak kena penyakit perut.. Kemudian aku mengutak-atik hpku yang kugunakan untuk berkomunikasi.. dan.. entah salah memencet apa, tiba-tiba memori di micro-sd tiba-tiba terdelete, hilang smua d.. dan aku pun jadinya sedih.. ada beberapa foto lama yang belum aku pindah.. :(

Jam 7 pagi pun tiba, aku bersama pak Udin segera berkeliling Desa Aspai, diikuti oleh anaknya pak Udin yang berusia 20 tahun itu..

Pondok pertama yang kami kunjungi ternyata adalah pondok seorang penampung hasil tambang atau yang biasa disebut dengan Cukong.. pondoknya cukup besar dan ada warung kelontong disitu.. banyak orang, juga peralatan-peralatan berat yang adalah mesin-mesin untuk lanting..

Awalnya aku cukup deg-degan dan was-was kalau-kalau mereka memberikan respon negatif kepadaku yang ingin membagikan kuesioner.. ekspresi wajah mereka menunjukkan seperti curiga dan kaku.. tapi aku berusaha tetap tersenyum.. dan akhirnya dibantu anaknya pak Udin membacakan pertanyaan.. tapi ternyata dia pun tak bisa membaca dengan baik.. wah, penelitian ini akan lebih repot daripada yang kuduga.. mengisi kuesioner saja mereka tidak bisa.. dan akhirnya aku membacakan pertanyaan bergantian dari satu orang hingga ke orang lainnya.. anggap saja aku sedang mengadakan interview masal.. Para pekerja tambang dipanggil dan berkumpul disitu.. berbaris untuk kutanyai dan kudata.. matahari sangat terik hingga kulitku langsung terbakar, perih.. untungnya pertanyaan yang kuajukan cukup aman karena lebih ke kondisi ekonomi dan sosial mereka, walaupun ada yang berkaitan tentang hukum dan lingkungan tapi tak begitu sensitif sehingga mereka pun menjawab pertanyaanku tanpa ragu-ragu atau takut.. semula aku agak terganggu karena pak Udin ikut-ikutan menjawab pertanyaanku yang membuat orang yang sedang kutanyai mengangguk-angguk iya-iya saja setuju dengan pak Udin, dan akhirnya ku”marahi” pak Udin dengan sopan agar tidak ikut-ikutan menjawab karena itu akan membuat data semakin tidak valid..

Kendala lainnya yang kuhadapi selama pengisian kuesioner adalah sebagian besar dari mereka sepertinya tidak ingat tahun lahir ataupun usia anggota keluarga mereka.. masa umur sendiri saja tidak tahu, sehingga beberapa ada yang hanya berdasarkan perkiraan saja..

Lalu mengenai penghasilan mereka yang ternyata tidak tentu.. dalam sehari mereka bisa mendapat belasan ribu rupiah atau bahkan sama sekali tidak mendapat hasil.. sedangkan data yang kubutuhkan adalah data penghasilan per bulan.. akhirnya kukira-kira sendiri, kukalikan berdasarkan pendapatan per hari mereka..
Begitu pula dengan pengeluaran per bulan, ternyata mereka banyak nombok.. alias banyak hutang.. pengeluaran per bulan bisa 2x lipat dari penghasilan..

Kesimpulanku, dari segi ekonomi mereka termasuk kategori miskin, mengingat standar PBB untuk kategori miskin adalah penduduk yang memiliki pendapatan kurang dari US$2/orang/hari.. sedangkan mereka di bawah US$2 untuk satu keluarga yang terdiri dari 3 orang atau lebih.. aku heran bagaimana mereka bisa bertahan hidup.. pantas saja setiap hari mereka hanya makan mie, karena hanya mie lah yang paling murah.. Yang kaya hanyalah para Cukong yang berdasarkan pendataanku mereka berpenghasilan sekitar 15 juta per bulan.. gap nya terlalu jauh dengan para pekerja tambang itu..

Dari pendataan kependudukan, sebagian besar dari mereka ternyata adalah pendatang dan asalnya adalah dari Probolinggo.. segerombolan orang Probolinggo datang jauh-jauh ke Desa Aspai ini untuk menambang dikarenakan diajak oleh salah seorang yang berasal dari daerah yang sama yang sudah bertahun-tahun berada di situ..

Menurut mereka hidup mereka di sini sangat susah, pendapatan sangat kurang dan tidak nyaman dengan tempat tinggal juga kondisi lingkungan di sekitar, tetapi mereka terpaksa.. mau tidak mau katanya.. mungkin memang lebih baik jika nantinya mereka kembali ke kampung halaman mereka saja.. menurut pendataanku, mereka baru 2 bulan di desa ini.. sepertinya benar informasi yang kuperoleh ketika di Balai yaitu bahwa para penambang ini sengaja didatangkan oleh Cukong-cukong untuk menambang, dan biasanya tak bertahan lama karena selalu berganti orang baru tiap beberapa bulan sekali.. kemungkinan mereka dibohongi dengan janji palsu..

Selesai mendata di pondok itu, aku dan pak Udin melanjutkan perjalanan berkeliling desa.. sebelumnya kau diberi sekaleng Sprite oleh ibu Cukong.. lalu kami ke daerah lubang hantu yang masih termasuk desa Aspai.. entah bagaimana mereka membedakannya.. bagiku semaunya tampak sama karena daerah itu hanyalah padang gurun dengan pondok-pondok atau bisa dibilang gubuk-gubuk yang serupa.. jika berjalan seorang diri mungkin aku tidak akan tahu jalan pulang..

Setelah berkeliling dan mendata dari pondok ke pondok, melalui genangan-genangan air, aku bersama pak Udin kembali ke pondok pak Udin, dan menunggu siang hari untuk pergi ke Desa Hampalam..

Namun ternyata pagi itu kemudian hujan yang terus tak berhenti malah semakin deras hingga siang.. Jam 2 siang, saat yang semula direncanakan untuk pergi ke Hampalam, masih juga hujan.. Aku berteduh di depan pondok tetangga pak Udin yang berada tepat di depan pondok Ati.. pondok itu lebih besar dan lebih bersih sehingga sedikit lebih nyaman ketimbang ketika di pondok pak Udin..

Aku duduk menunggu hujan reda.. kemudian datanglah si bapak penjual pentol.. beliau orang batak yang juga merantau dan berjualan pentol di desa-desa sekitar situ dengan menggunakan motor.. cukup bawel juga si bapak sejak kemarin aku datang beliau banyak mengajak ngobrol..



lalu tiba-tiba aku diberinya 2 tusuk pentol.. kukira pentol yang dijualnya itu apa, dan ternyata adalah semacam bakso tanpa kuah, ditusuk sate dan satu tusuk berisi 3 pentol kemudian diberi saos.. aku mau membayar tapi beliau tidak mau menerima uangku.. satu tusuk pentol dijualnya seharga seribu rupiah, namun rasa kaldu sapinya cukup terasa, tidak hanya rasa tepung saja.. Aku makan dalam diam sambil memandang langit, berharap hujan cepat berhenti..


Selesai menghabiskan pentol, aku kembali ke pondok pak Udin untuk mengambil minum di tasku.. lalu aku diajak menantu pak udin yang cewek untuk lihat-lihat orang jualan baju di pondok sebelah.. aku lihat sekilas bajunya terlalu kedesa-desaan semua sehingga membuatku tak tertarik.. aku tidak akan mau memakai baju yang semacam itu.. lalu aku pun pergi ke pondok tempat duduk-dudukku sebelumnya, dan mengelus-elus kucing dalam pangkuanku..itulah kegiatan yang bisa aku lakukan selama di desa penambang, yaitu bermain-main bersama kucing.. dari mengelus-elus, melerai kucing-kucing jantan dan gemuk yang mau berkelahi, mengganggu kucing tidur, dsb.. sungguh kurang kerjaan.. -__-"

Karena hujan tidak berhenti-berhenti dan hari semakin sore, akhirnya aku meminta pak Udin untuk langsung berangkat saja, nekad naik perahu menuju ke pos Kole dengan menggunakan jas hujan dan membawa semua tas bawaanku.. rencananya nanti mau menginap di pos Kole saja setelah kembali dari Hampalam..

Setibanya di pos Kole masih saja hujan.. di depan pos ada si pak TNI yang waktu itu mengajakku bicara dan memintaku untuk mampir ke dalam pos.. saat itu beliau sedang duduk-duduk seorang di depan pos, dan ternyata tujuannya adalah mendapatkan sinyal hp.. TNI yang lain sudah berangkat ke lokasi reboisasi sehingga beliau sendirian yang menjaga pos..

Pos Kole yang katanya lebih baik dan sudah ada jamban, ternyata juga tidak memiliki WC.. dan yang dimaksud dengan jamban ternyata adalah semacam tangkringan dari batang-batang kayu untuk buang air besar yang di bawahnya adalah kubangan dan hanya ditutup terpal sedikit, dan lokasinya agak masuk ke tengah hutan tapi bisa dilihat dari jendela pos.. aku yang ketika itu sudah tak tahan untuk buang air kecil terpaksa pergi ke sana sambil membawa segayung air dari pos.. ahh.. disini juga susah tapi masih lebih mendingan daripada di Desa Aspai..

Aku berteduh di pos Kole sambil menunggu hujan reda.. rencananya kalau hujan sudah reda barulah pergi ke Desa Hampalam..jika sampai sore tidak reda juga, penelitian akan dilaksanakan besok paginya saja..

Kemudian pak Udin pergi sebentar ke Desa Banit untuk melihat apakah pak Sahidin yang katanya mau datang sudah ada atau belum.. aku tetap berteduh di pos bersama si pak TNI..

Pos Kole memang pondok tapi cukup nyaman, terang dan luas.. bagian dalamnya seperti rumah kayu sederhana, cukup bersih dengan banyak matras dan bantal guling.. terasa lebih hangat walaupun di luar dingin.. rasanya aku bisa tertidur jika terus bengong sambil menempel di bantal di depan jendela.. udaranya terasa adem ayem, mungkin karena hujan.. suasana di hutan memang berbeda dengan di desa tambang.. lebih nyaman di hutan walaupun sama-sama tidak ada fasilitas.


Pos Kole ini sudah masuk kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), kan pos jaga.. di hutan belakangnya katanya ada monyet liar dan juga ular, nanti kalau hujan reda aku ingin mencoba mampir ke sana.. di situ pula tenda-tenda para pegawai yang bertugas untuk reboisasi berada..


Tak lama kemudian, pak Udin kembali.. ternyata pak Sahidin masih belum datang.. dan lalu ada TNI lainnya yang datang menjemput si pak TNI yang tadi nongkrong di depan pos.. mereka pun pergi ke tempat reboisasi.. entah mengapa pos Kole dijadikan tempat untuk menyimpan segala keperluan reboisasi, mulai dari bibit pohon hingga material untuk membangun pondok.. mungkin juga karena pos itu yang terdekat dengan wilayah reboisasi.. tapi katanya para TNI itu akan menginap di Desa Hampalam yang langsung berseberangan dengan lokasi reboisasi di kawasan TNTP..



Kemudian pak Udin membuatkanku teh manis hangat, cocok dengan kondisi udara yang dingin-dingin sejuk di tempat itu.. Selang beberapa saat kemudian, anak pak Udin, si ati dan suaminya datang memberi kabar bahwa ada saudara iparnya yang meninggal.. tapi pak Udin tidak bisa meninggalkan aku  sendiri karena tidak ada orang lain yang menjaga, lain hal jika ada pak Sahidin.. dengan demikian pak Udin hanya menitipkan ucapan belasungkawa saja, lalu Ati dan suaminya pun kembali ke Desa Aspai..

Kemudian datanglah 2 orang dari 16 orang pegawai petugas reboisasi dari hutan di belakang pos.. mereka membantu pak Udin memperbaiki panel surya.. malam hari di pos Kole terancam tidak ada lampu.. aduh.. mengenaskan nasibku..

Hari mulai sore, dan hujan pun mulai berhenti.. Sekitar Jam 6 sore aku dan pak Udin pergi ke Desa Hampalam.. Tas ransel baju kutinggal karena kukira akan kembali untuk menginap di situ..

Suasana ketika perjalanan sungai semakin mencekam.. langit semakin gelap dan tercium wangi kemenyan yang mencolok.. aku sudah cukup ngeri dan merinding ketika itu.. apalagi rasanya perjalanan ke Desa Hampalam cukup jauh.. dan, ketakutanku bertambah ketika perahu yang kunaiki sempat berhenti karena tersangkut dahan-dahan yang hanyut dan menutupi jalur sungai.. selain takut buaya, aku juga merinding karena wangi kemenyan yang kukira adalah tanda bahwa banyak makhluk halus di situ mulai muncul, dan ternyata wangi itu berasal dari bunga tumbuhan rawa (bakung).. Sesampainya di Desa Hampalam sudah malam dan situasi sekitar sudah sangat gelap..



Ketika di desa itu, aku dan pak Udin langsung ke sebuah warung yang katanya pemiliknya berasal dari Jakarta, seorang nenek berusia 60an tahun.. katanya nenek itu sudah tinggal di situ sekitar 13 tahun.. dan juga baru saja adiknya dan cucunya menyusulnya ke situ.. di warung itu kami duduk bersama para penambang dan berbincang-bincang.. lagi-lagi mereka menggunakan bahasa Kumai.. aku memang tidak mengerti bahasanya, namun terkadang aku bisa sedikit menangkap isi pembicaraan mereka.. intinya pak Udin sempat memperingatkan bahwa besok akan ada sekelompok TNI yang datang untuk patroli, sehingga jangan sampai ada penduduk yang menambang di seberang (di kawasan Taman Nasional).. wah, kong kalikong juga nih.. PAM Swakarsa tapi kurang tegas.. hanya memperingatkan ketika ada tim patroli yang akan datang, bukannya benar-benar melarang..

Dan, ada seseorang yang kelihatan menonjol di situ, tampaknya tokoh masyarakatnya atau mungkin yang memiliki kekuasaan di desa itu.. bisa jadi dia adalah Cukongnya..

Sambil mengisi kuesioner, yang tadi kukira bos disitu ternyata sambil curhat kepadaku mengenai kondisinya.. selain itu, aku juga ditakut-takuti soal buaya dan hantu yang membuatku semakin merinding dan menjadi sama sekali tak berniat untuk kembali ke pos Kole..  disitu juga ada para TNI yang bertugas untuk reboisasi, salah satunya yang tadi sempat bertemu denganku di pos Kole..

Kemudian aku mengikuti saran para TNI tersebut untuk menginap.. sebelumnya pak Udin nekad mau kembali ke pos Kole, tetapi aku tidak setuju.. Apalagi tadi sore saja sudah sempat terhambat karena perahunya tersangkut kayu-kayu, apalagi malam hari tentu saja akan lebih berbahaya.. kulihat jam, sudah jam 10 malam.. pantas saja udara begitu dingin..

Yang membuatku senang adalah di desa itu aku bisa numpang mencharge hpku.. Selain disuguhi minuman kemasan, aku juga ditawari untuk menginap oleh beberapa orang, yaitu ibu penambang yang kutemui di hari pertama di Desa Banit, lalu nenek pemilik warung walaupun kamarnya penuh barang sehingga aku tidak jadi menginap di pondoknya.. tapi aku sempat numpang buang air kecil di belakang pondoknya yang terbuka, untungnya malam hari tapi aku agak ngeri karena di situ benar-benar gelap..

Akhirnya pak Udin mengalah dan memutuskan untuk menginap juga.. beliau akan menginap di pondok orang yang tadinya kukira bos di situ, yang ternyata adalah adik ipar pak Udin.. dan aku memilih untuk menginap di pondok yang menjual mie.. di pondok itu ramai karena ada karaoke.. si mbak pemilik pondok itu menggunakan genset..pondoknya lumayan bersih dan enak untuk tidur jika dibandingkan pondok pak Udin..
Aku langsung tertidur lelap tapi sempat terbangun karena ibu yang dari Desa Banit itu menawariku makan malam dan makan pagi untuk besoknya, tapi aku terlalu lelah sehingga kubilang untuk tidak perlu repot-repot..

Lalu tengah malam karaoke selesai dan aku terbangun, kemudian banyak mengobrol dengan si mbak pemilik pondok.. namanya Yuli, dr Kumai.. anak-anaknya di Kumai, suaminya sudah meninggal karena diabetes.. dia sempat menunjukkan kepadaku foto-foto anak-anaknya dan juga foto dirinya ketika di Kumai.. lalu pasangan suami istri pemilik warung sembako di pondok sebelahnya, tempat  tadi aku dan para TNI menumpang mencharge hp ternyata adalah kakak kandungnya.. Mbak Yuli tinggal di Desa Hampalam hanya untuk jualan, ada mie dan bahan-bahan kebutuhan rumah tangga.. di kumai rumahnya sudah lumayan modern karena ada WC segala.. katanya anaknya kalau mampir ke sini hanya betah paling lama 2 hari lalu kembali ke Kumai..  ya memang, di desa penambang seperti ini memang sama sekali tidak nyaman..

Setelah capek ngobrol, mbak Yuli pun tidur.. aku pun memutuskan untuk melanjutkan tidur tapi ternyata tidak bisa nyenyak lagi, mungkin karena sudah terlanjur bangun.. lalu tempat tidurku menjadi semakin sempit karena posisi tidur mbak Yuli yang semakin melebar, belum lagi si mbaknya mengorok dan sangat menempel dengan tubuhku.. udara dingin, selimut tipis dan harus berebut dengan mbak Yuli.. tapi lama-kelamaan aku pun terlelap lagi.. kali ini aku tidur tanpa menggunakan headset, untungnya tidak terdengar suara-suara aneh..

Tuesday, December 6, 2011

Catatan Sang Peneliti: Hari Keempat di Kalimantan Tengah..

Saatnya menjelajah ke daerah Konflik.. (Rabu, 2 November 2011)

Hari ini tidurku tak nyenyak.. semalam aku tidur cukup malam, sekitar jam 10 lewat hampir jam 11 malam.. lalu aku bangun (yang benar-benar bangun, di luar kegelisahan selama tidur, mengikuti jam weker) jam 4.20.. rencananya aku mau ke greja lagi hari ini.. lalu fotocopi kuesioner dan membeli souvenir lagi.. setelah itu bersiap untuk pergi ke balai.. entah apakah ojek mampu mengantarku yg membawa ransel super besar ini.. dan sms dari mamaku mengingatkanku bahwa hari ini adalah hari ulang tahun nenekku yang di Surabaya (Mak Eti) dan juga teman kecilku dari Malang (Carolin)..aku pun segera menelepon dan mengirimkan sms ucapan kepada mereka..

Dan.. akibat kelamaan ngetik catper ini dan mandiku ternyata lama, jadinya sudah ga keburu ke greja, sekarang sudah jam 5.26.. T.T ya sudahlah kapan-kapan smoga aku bisa berkunjung ke greja itu lagi.. sekarang hanya bisa menunggu waktu, menunggu makan pagi, menunggu toko souvenir dan tempat fotocopi buka.. beres-beres sudah hampir selesai.. tegang juga.., fiuh.. smoga hari ini hingga sabtu nanti berjalan dengan lancar, untuk kami semua yang penelitian di sini.. smoga senin bisa pulang ke Jakarta dengan selamat dan sehat, dan kemudian berteriak “I’m home!!!”

Jam 6 lewat room service datang, mengantarkan breakfast nasi goreng saos pedas dengan kerupuk dan juga telur rebus setengah butir..karena sebelumnya aku menghabiskan pecel ayam, makanan tadi malam yang belum habis, akhirnya aku sedikit kekenyangan.. jadi aku baru makan sekitar jam 7 kurang 15, perlahan-lahan berusaha menghabiskan makanan sambil menonton film di sky drama 1.. lama kelamaan aku jadi terbiasa menonton film-film seri itu dan ceritanya bagus-bagus juga.. jadi penasaran dengan kelanjutan-kelanjutannya.. sayangnya, aku hari ini harus segera  check out dr hotel.. :(


Jam 7, selesai makan dan beres-beres, aku turun menanyakan ke resepsionis fotocopian mana yang terdekat dan sudah buka, dan katanya rata-rata baru buka jam 7, begitu pula dengan toko souvenir.. tapi aku nekad keluar hotel, berjalan memutar ke arah pasar sambil mengharapkan keberuntungan menemukan toko yang rajin buka pagi,, dan ternyata yang rajin hanyalah toko pakaian dan toko sparepart motor dan mobil.. :( sayang,, padahal aku mau membelikan souvenir tambahan untuk malaikatku, gantungan kunci burung Enggang yang merupakan ciri khas Kalimantan dan burung tersebut adalah lambang kesetiaan..

Tak mendapat hasil, aku pun kembali ke hotel, menonton film lagi.. mendapat sms dari Pak Sahidin yang katanya ketemu di Balai jam 8an saja.. jadi aku agak bermalas-malasan untuk segera check-out dari hotel.. baru kemudian sekitar jam 8 kurang 15 barulah aku mematikan TV dan AC  lalu membawa barang-barangku ke bawah untuk check-out.. sedih rasanya, kenyamananku sebentar lagi tak akan kurasakan..

Aku pun turun ke resepsionis untuk check-out dan dibantu memesankan ojek oleh seorang bapak.. ternyata tukang ojek dan si bapaknya itu adalah orang jawa, ketahuan dari bahasa yang mereka gunakan untuk ngobrol.. huehh.. jauh-jauh ke Kalimantan malah banyaknya nemu orang jawa.. dari supir taksi, orang Balai, penjual pecel ayam hingga tukang ojek.. ckckck..

Kemudian aku diantar ojek hingga kantor Balai TNTP dengan ongkos 20 ribu..dan ternyata pak Sahidin belum datang.. 


lalu aku ke rumah Bupati saja untuk memotret bangunannya, 


juga memotret Supermarket Borneo yang ada di depan Balai dan kemudian segera kembali ke Balai..


Hingga beberapa saat lamanya aku merenung duduk di tangga depan balai sambil mendengarkan lagu, barulah motor pak Sahidin lewat menuju parkiran.. lama sekaliiii..

Motor pak Sahidin ternyata bagian belakangnya adalah tempat untuk tas, dan jenis motornya adalah motor laki-laki, sehingga cukup menyulitkanku untuk membawa tasku yang besar itu.. Awalnya tasku itu digendong oleh pak Sahidin di bagian depan tubuhnya setelah aku selesai mampir fotocopi kuesioner.. dan itu ternyata membuatnya pegal karena beban tas ranselnya menopang di bahunya, selain itu beliau juga jadi kesulitan untuk membawa pistolnya.. ukuran tasku masih lebih besar dari badannya.. aku sempat berpikir “seru juga ya di sini bisa ngerjain Polhut..wkwkwk”..

Lalu akhirnya di sebuah jalan perkebunan sawit, motor pun dihentikan, selain untuk istirahat juga untuk memberikanku kesempatan memotret.. 




Disitulah kami banyak berbincang-bincang.. beliau sempat menanyakan kepadaku “capek ga?” dan kujawab “tidak, udah biasa”.. dan beliau pun bingung.. tak aneh, menurutku medannya masih jauh lebih baik dibandingkan ketika aku di Pandeglang dulu yang jalurnya sangat terjal dan panjang, juga berbatu-batu yang membuat sulit mengendarai motor dan pantat pun menjadi gatal-gatal karena terlalu banyak getaran.. sedangkan di Kalimantan ini hanyalah jalur tanah tanpa aspal biasa.. cukup baik tanpa lubang-lubang dan batu-batu juga kering karena sedang tidak hujan.. jika hujan, lumpur kuninglah yang biasanya membuat kendaraan terperosok..

Lalu setelah cukup hilang capeknya, kami melanjutkan perjalanan lagi.. dan setelah beberapa saat, kami mampir ke rumah teman pak Sahidin yang juga polisi hutan.. lagi-lagi orang jawa.. wew..  Di rumahnya kami disuguhi teh manis hangat.. dan selama mampir, sambil menunggu pak Sahidin, aku berputar-putar di depan rumahnya selain untuk menghindari asap rokok, juga untuk mengamati kondisi sekeliling.. di tempat itu hanya ada sawah berukuran kecil.. kurang asri menurutku.. selain itu dimana-mana banyak sekali semut berukuran besar yang menyebabkan aku tidak bisa duduk di batu..


Selesai berbincang dan melepas lelah, kami melanjutkan perjalanan.. suasanan jalan berubah menjadi jalan pasir yang gersang..


dan kami berhenti di sebuah warung tempat menjual bensin.. dan saat pak Sahidin mengisi motornya dengan bensin, aku mengamati sekitar.. suasananya mengingatkanku pada Pulau Pari.. ada pondok dan juga jalan berpasir.. jadi kangen ingin ke sana lagi..


Selanjutnya, perjalanan penuh debu selama sekitar sejam pun berlangsung.. kemudian kami memasuki areal perkebunan kelapa sawit.. jalurnya cukup sulit, tidak ada aspal dan penuh dengan jalan berlumpur kuning.. ternyata jenis tanah di Kalimantan adalah pasir liat, dengan demikian lumpur yang terbentuk adalah lumpur kuning..


Cukup lama kami melewati perkebunan kelapa sawit.. daerah tersebut sangat luas dan kulihat ada plang beberapa perusahaan kelapa sawit..

Sekitar sejam kemudian, tampaklah sebuah padang rumput.. dan disitulah pak Sahidin menghentikan motornya sejenak untuk beristirahat dan merokok sebelum kembali melanjutkan perjalanan.. katanya itu sudah dekat, tinggal melewati padang rumput dan sampailah ke daerah tambang pertama, yaitu Desa Banit..


Beberapa saat kemudian, perjalanan dilanjutkan.. dimulai dari jalan berlumpur kuning, melewati padang rumput.. dan ternyata pak Sahidin kurang ahli mengendalikan motornya hingga aku yang memegangi tasku dari belakang.. jalan itu sungguh licin dan aku takut terjatuh dari motor karena motor tersebut sempat beberapa kali terpeleset ke kiri dan ke kanan.. sungguh perjuangan..


Setelah melewati padang rumput, sampailah ke Desa Banit.. tampak daerah tersebut seperti padang gurun, dan kondisi itu makin menyulitkan pak Sahidin untuk mengendarai motor hingga motornya sempat kudorong, banyak jalur terendam air.. dan di akhir perjalanan, aku turun dari motor dan berjalan kaki ke pondokan penambang liar sementara pak Sahidin tetap dengan susah payah mengendarai motornya ke pondok..


Desa Banit ini tepat bersebelahan dengan Desa Hampalam yang menjadi sasaran utama penelitianku.. ketegangan pun merasuki perasaanku.. aku sempat bertanya-tanya “apakah tidak apa-apa aku datang kesini? Karena katanya para penambang liar itu sangat paranoid dan waspada dengan orang lain slain penambang.. bagaimana jika mereka melihatku, apakah akan terjadi sesuatu?” dan ternyata aman-aman saja, mereka juga ramah-ramah saja dengan pendatang sepertiku.. tapi mungkin di Hampalam kondisinya akan lebih panas, karena disitulah daerah konflik..

Di sebuah pondok, pak Sahidin memarkirkan motornya dan juga meletakkan tasku disitu.. awalnya sempat kukira disitulah tempatku “mangkal” selama tiga hari ke depan.. dan ternyata bukan.. Pak Sahidin mencari dan menunggu pak Udin yang akan mendampingiku nantinya..

Selama pak Sahidin asyik mengobrol dengan polhut yang lainnya di sebuah pondok, aku berkeliling dan mengamati sekitar.. 


Pondok itu tak jauh dari sungai dan di seberang sungai itu tampak hutan rimba yang tak lain dan tak bukan adalah kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.. Aku pun terkesima dan mendekat ke tepi sungai, tapi tak berani benar-benar di tepinya karena aku khawatir ada buaya..


Kondisi daerah tambang itu sangatlah panas.. kulitku dengan cepat memerah terbakar teriknya matahari.. kuamati tidak ada pohon disitu, benar-benar padang pasir.. aku heran mengapa bisa ada orang-orang yang bertahan hidup di daerah dengan kondisi seperti itu..

Lalu dari arah sungai yang masih dikelilingi oleh tumbuhan-tumbuhan merambat hutan, tampak sebuah perahu kecil mendekat.. ada seorang bapak di perahu itu yang memanggil-manggilku.. aku bingung apa katanya, jadinya aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.. aku tak mau mendekat ke sungai, aku takut buaya.. >.<


Dan ternyata bapak itu adalah pak Udin.. beliau memarkirkan perahunya di tepi sungai dan segera ke pondok tempat pak Sahidin berada setelah sekilas ngobrol denganku.. kata pak Sahidin ternyata benar, pak Sahidin menggunakan bahasa yang agak melayu, juga agak “lemot” mencerna perkataan kita..

Mereka berbincang-bincang masih di pondok polhut, dengan merokok.. oleh karenanya aku menjauh dan duduk di depan pondok tempat motor pak Sahidin di parkirkan.. sambil berteduh dari panasnya matahari, kuamati aktivitas para penambang liar itu.. ada seorang ibu yang mukanya hingga penuh dengan pasir..


lalu di kubangan, seorang bapak berkali-kali terjun ke air, menyelam untuk memperbaiki Lanting (alat untuk menyedot pasir) yang mesinnya mogok karena tersangkut.. benar-benar tidak sehat.. kalau begitu selain masuk angin, demam juga bisa terkena penyakit kulit bahkan kanker kulit.. yang kurasakan  selain bising karena suara mesin, juga tercium bau udara yang tidak segar, mungkin itu akibat proses pengambilan pasir dan penyaringan pasir..


Alat-alat yang digunakan untuk menambang cukup sederhana.. dengan alat seperti itu bisa menyaring emas dan juga pasir zircon yang biasanya digunakan sebagai bahan baku untuk membuat keramik..

Seorang bapak Polhut yang satunya sempat menjelaskan kepadaku mengenai prosesnya.. dan ternyata pasir zircon juga tak semudah itu didapatkan dari tumpukan pasir, apalagi emas.. wah, pekerjaan yang sulit dan hasilnya juga tak seberapa..dalam sehari belum tentu mereka berhasil memperoleh pasir zircon apalagi emas.. alamnya sudah jadi benar-benar rusak, dari hutan berubah menjadi padang gurun.. dan tempat tinggal mereka sungguh tak layak.. tapi entah mengapa mereka tetap bertahan melakukan pekerjaan itu.. itulah yang harus kuteliti..


Kemudian, tiba saatnya aku diantar ke pondok pak Udin di Desa Aspai.. untuk ke sana terpaksalah aku naik perahu melalui jalur sungai, dengan perahu kecil yang tadi digunakan oleh pak Udin yang hanya muat maksimal 3 orang saja.. deg-degan tapi senang.. aku hanya takut kalau-kalau bertemu buaya.. apalagi perahu itu sangat kecil.. batas perahu dan air sungai hanya sekitar 10 cm.. ketika dijalankan, cipratan air sungai masuk ke dalam perahu.. wah, sungguh mengerikan.. sekali mesinnya mati, lalu perahunya bocor, atau ada yang bergoyang sedikit, tamatlah sudah riwayatku.. bisa berenang pun juga percuma karena lawannya adalah buaya yang katanya berukuran 6-10 m.. 





Kami naik perahu bersama seorang bapak lagi yang membawa parang, lalu kami mampir di Pos Kole, yaitu pos jaga Taman Nasional Tanjung Puting yang terletak di tepi kawasan Taman Nasional tepat di tepi sungai Kole..





Awalnya aku mau menginap di pos itu tapi tidak jadi karena di pos itu sedang ramai dengan para TNI yang berjumlah 9 orang yang ditugaskan untuk program reboisasi dan juga ada beberapa belas pegawai lainnya yang membantu.. di pos itu si bapak yang membawa parang turun, dan digantikan oleh anak pak Udin yang masih SD.. aku sempat diajak mampir masuk ke pos oleh salah seorang TNI, tapi aku malas turun dari perahu karena sulit untuk memposisikan duduknya lagi nanti.. perahu kecil itu mudah goyang, jadi harus sangat berhati-hati untuk naik ke atasnya..

Lalu perjalanan dilanjutkan, sambil membawa 2 galon kosong.. mesin perahu tidak dinyalakan dan pak Udin hanya menggunakan dayung, katanya mau mengambil air minum dulu di belakang pos..

Suasana makin seram ketika melalui rawa ke sungai di belakang pos Kole.. banyak tumbuhan merambat dan suasana hening.. bisa jadi itu tempat persembunyian buaya..


Lalu pak Udin menghentikan perahunya di tengah-tengah sungai..


ternyata yang dimaksud dengan air minum adalah air sungai itu.. anak pak Udin turun ke sungai untuk mengisi galon dengan air.. memang airnya tampak bening, mungkin memang masih murni.. tapi tetap saja ada kandungan warna kuningnya..



Selesai mengambil air minum, perahu kembali dijalankan dengan dayung hingga ke Sungai Kole di depan pos Kole.. lalu mesin perahu pun dinyalakan.. perjalanan dilanjutkan..


karena belum pernah ke tempat seperti itu, aku banyak memotret dan tampak norak hingga anak pak Udin pun menggeleng-gelengkan kepalanya.. maklumlah aku kan anak kota, tidak akan bisa melihat pemandangan seperti itu setiap harinya..



Dalam perjalanan, tampak di bagian kanan adalah daerah-daerah yang sudah dirambah menjadi daerah tambang, sudah berubah menjadi gurun pasir semuanya.. sungguh menyedihkan.. berbeda sekali dengan di bagian kiri yang adalah kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, yang masih sangat asri.. benar-benar hutan rimba..



Selama naik perahu, air sungai selalu muncrat hingga membuat kacamataku tetap basah..  di kanan dan kiri sungai yang agak sempit, banyak tanaman bakung yang menebarkan wangi kemenyan.. di hutan taman nasional, terdengar banyak suara burung dan juga satwa lain.. kadang merinding juga dan bertanya-tanya itu suara apa.. Pepohononan di taman nasional itu tinggi-tinggi dan jenisnya juga berbeda dengan pohon yang biasa kulihat.. Sempat juga aku melihat burung kolibri yang terbang melompat dari tanaman bakung di kananku menyeberang ke tanaman bakung kiriku.. lucu dan anggun.. ^^

Setelah sekitar setengah jam, akhirnya kami pun tiba di Desa Aspai..


Ketika tiba, anak pak Udin membawakan tasku hingga ke kursi di depan pondoknya.. kondisi desa itu tak berbeda dengan Desa Banit, hanya saja lebih ramai dan lebih banyak pondoknya.. tapi tetap saja kondisinya menyedihkan..




Pondok pak Udin sama seperti pondok penambang lainnya, terbuat dari kayu dan bambu, tidak ada kamar, gelap.. sangat sangat sederhana.. 


Lalu aku disuguhi air dingin yang berwarna kuning, ternyata itu air dari sungai tadi langsung diminum tanpa dimasak.. sambil berbincang-bincang dengan keluarga dari anak-anak pak Udin, aku mencoba meminum air itu.. tawar memang, tapi aku tak yakin air itu bebas dari bakteri E-coli.. semoga saja sehabis minum aku tak sakit perut.. Mereka sempat kaget ketika kubilang aku berumur 24 tahun dan belum menikah.. ternyata untuk orang sana, wanita biasanya menikah di usia 13 tahun dan pria di usia 20 tahun.. alasan untuk menikah bukan karena sudah matang secara ekonomi, tetapi karena secara fisik sudah cukup besar.. -____-“ alasan yang tidak dapat diterima oleh orang kota sepertiku yang menganggap kematangan mental, pribadi, pendidikan dan juga ekonomi sebagai pertimbangan untuk berumah tangga..

Di desa itu tidak ada listrik, hanya ada di malam hari dari panel surya.. untuk kebutuhan sehari-harinya ada warung yang menjual mie dan kebutuhan rumah tangga, juga ada beberapa orang yang datang dari desa terdekat yang menjual es batu, sayur-sayuran dan juga pentol (bakso tanpa kuah yang diberi saos)..

Di awal mula aku tiba disitu, aku diajak anak pak Udin yang bernama Ati untuk berkeliling.. Dan kutahu ternyata tidak ada wc dan untuk buang air besar harus pergi ke hutan, sama sepeti kucing menggali dan menutup lubang.. OMG!!  Lebih baik aku tak mandi ataupun buang air besar selama berada di desa ini..

Ketika itu aku mengikuti Ati yang hendak ke hutan untuk buang air besar.. Suasana sekitar hanyalah berupa gundukan pasir.. 


kulihat ada yg mandi di kubangan yang cukup bersih dan luas yang hampir menyerupai danau biru indah.. namun tetap saja itu adalah kubangan, entah apa yang terkandung dalam airnya.. bisa jadi ada campuran air raksa (Merkuri – Hg) yang digunakan penambang untuk mencuci emas hasil tambang.. ngeri rasanya, aku sebisa mungkin tak melalui kubangan-kubangan air kecuali terpaksa..


Hari itu aku hanya mengamati situasi di daerah penambangan liar itu, belum memulai membagikan kuesioner dan rencananya besok pagi baru akan dimulai.. 



Sisa waktuku di hari itu kuhabiskan dengan duduk-duduk di kursi di depan pondok pak Udin.. di luar saja cukup banyak nyamuk, apalagi di dalam pondok.. kakiku gatal-gatal rasanya.. belum lagi kakiku juga penuh dengan pasir, berapa kali pun dibasuh dengan air tetap saja kotor karena pasir.. sepatu sandal gunungku tak tahu lagi bagaimana nasibnya, tadi terkena genangan air dan pasir sehingga akhirnya kumasukkan ke dalam tas sebelum rusak, dan aku lalu menggunakan sandal crocs yang lebih tahan air dan kotor..

Sorenya aku sempat ngobrol dengan pak Udin sambil menunjukkan kuesioner, tampaknya beliau kurang paham.. padahal bahasa yang kugunakan itu sangatlah sederhana.. lalu kemudian anak pak Udin yang berusia 20 tahun yang baru SMA mencoba membaca pertanyaan-pertanyaan di kuesioner itu.. katanya bahasanya mudah dimengerti.. syukurlah kalau masih ada yang bisa mengerti..

Hari mulai gelap.. anak pak Udin yang masih SD bermain kano yang terbuat dari kayu di sungai.. 


lalu tampaklah pelangi samar-samar di langit.. 


untuk makan malam Ati bilang mau mengadakan bakar-bakaran ayam.. dan ternyata ayam itu hanya ada 1 potong paha atas berukuran cukup besar.. 


bagi mereka, ayam adalah bahan makanan yang mahal, sehingga bisa dibilang makanan mewah.. makanan sehari-harinya hanyalah nasi dan mie dan sebutir telur.. itu pun dibagi beramai-ramai sekeluarga.. seperti itulah kehidupan keluarga para penambang liar.. benar-benar jauh di bawah standar layak..


Di desa ini sama sekali tidak ada fasilitas.. listrik hanya malam hari, dan untuk menonton TV, parabola nya ada di depan pondok dan harus diputar-putar terlebih dahulu untuk mendapatkan gambar yang bagus..ckckck

Malamnya di pondok, aku diajak ngobrol oleh anak-anak pak Udin yang cowok-cowok, bersama dengan pak Udin juga..agak susah juga mungkin karena perbedaan tingkat pendidikan, jadi sering tidak nyambung.. yang paling mendingan adalah anak pak Udin yang berusia 20 tahun yang SMA itu..Pak Udin berkali-kali ingin menjodohkanku dengan anaknya itu.. -___-“

Dan akhirnya aku tahu kalau selain berpendidikan rendah, bagi yang masih bersekolah pun pendidikannya terlambat.. usia belasan tahun baru SD, usia 20 tahun baru SMA.. sungguh terlambat, tidak sesuai dengan perkembangan mental dan biologis yang lebih cepat..

Karena di dalam pondok gelap yang menyebabkan mataku jadi tak sehat, aku lebih memilih duduk di depan pondok.. dan karena bosan bengong (yang bisa dilakukan di situ), maka aku menyalakan laptopku dan mengetik catatan perjalanan ini.. biarlah baterainya habis, yang penting bisa menghilangkan sedikit kebosananku..

Sebenarnya aku sudah mengantuk tapi malas tidur.. yang kurasakan bukanlah nyaman, tapi gatal-gatal sih iya.. belum lagi semua pria di desa ini sepertinya merokok, kecuali anak pak Udin yang berusia 20 tahun itu.. dan.. Bosaannn.. tidak bisa online.. sinyal hp timbul tenggelam.. susah smsan.. Ahhhhhh.. pertanyaanku “Dapatkah aku bertahan selama 3 hari di sini? Apa aku segera ke Pondok Ambung saja ya? Berharap di situ lebih baik :(“.. ya, kondisi di desa itu sangat buruk.. rasanya lebih sengsara daripada ketika di Pangkalan Bun dimana aku sudah cukup menderita karena tidak bisa online dan tidak ada makanan enak.. di sini lebih parah, aku hanya makan pop mie yang kubawa saja untuk makan siang tadi, dan mungkin hari-hari berikutnya juga akan seperti itu.. untunglah aku membawa persediaan cemilan dan minuman dalam botol.. dan pop mie, tapi tetap saja mie.. bisa kanker lama-lama.. tapi semakin sedikit makanku semakin baik karena akan mencegahku untuk ingin buang air besar.. karena jika sakit perut, tentunya akan lebih merepotkanku mengingat tidak ada wc,  jamban dan juga air bersih..

Hari semakin malam, aslinya aku tidak ingin tidur tapi sayangnya aku sudah tidak kuat lagi.. dan terpaksa akhirnya aku memutuskan untuk tidur.. satu ruangan dengan anak-anak pak Udin dan juga pak Udin, di situ tidak ada kamar.. aku menggunakan alas semacam matras yang biasa untuk camping, ada bantal juga yang diberikan oleh anaknya pak Udin.. dan aku pun tidur, menghadap pintu keluar dan di samping TV.. posisiku terlindung oleh tas ransel dan tas slempangku..

Aku sengaja tidak mencharge hpku karena kugunakan hpku untuk mendengarkan musik dengan headset.. aku malas jika harus mendengarkan suara aneh-aneh di malam hari yang nantinya justru membuatku tidak bisa tidur..

Udara malam hari sungguh dingin luar biasa.. karena tidak ada selimut akhirnya aku selimutan  dengan menggunakan jas hujan yang kubawa, cukup hangat juga.. samar-samar beberapa saat kemudian aku mendengar anak pak Udin berkata “pake jas hujan”.. biarlah, yang penting aku tak kedinginan lagi.. aku juga sudah memakai jaket dan kaos kaki agar tidak digigit nyamuk dan lebih hangat.. dan tak disangka aku bisa terlelap hingga pagi tiba..