Eight Below

Eight Below

The Real World Adventurer..

"In this life, only the fool who always start the questions of life, moreover start their life mission and purpose of money. And once beginner ask where they get money, then they will be shackled by the constraints/obstacles. And almost certainly the answer is simply no money, can not and will not be" (Rhenald Kasali - Professor of University of Indonesia)
Showing posts with label Kalimantan Tengah. Show all posts
Showing posts with label Kalimantan Tengah. Show all posts

Friday, December 23, 2011

Catatan Sang Peneliti: Hari Kesepuluh di Kalimantan Tengah..

Hari kedua di Sampit dan akhirnya bisa pulang ke Jakarta.. (Selasa, 8 November 2011)

Tanpa weker dan tanpa melihat jam, aku terbangun dengan sendirinya di pagi hari.. masih dengan setengah sadar, aku berusaha untuk membuka mataku.. satu hal yang membuatku terbangun seperti habis bermimpi buruk adalah suara yang kudengar sejak semalam.. kedengarannya seperti suara gelak tawa, tapi tampaknya bukan.. entah suara apa itu, kadang muncul dan kadang hilang, tapi terdengar dengan sangat jelas..

Sehabis mandi, aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke luar hotel.. ingin melihat Sampit di pagi hari seperti apa, terutama suasana di sekitar hotel, sekalian mencari makan pagi.. Hotel Borneo Putra ini tampaknya tak menyediakan sarapan, berbeda dengan Hotel Abadi.. padahal hotel ini memiliki ruangan restoran dan café walaupun tampak sepi-sepi saja..

Hotel Borneo Putra, ternyata terdiri dari 2 hotel.. 


tempatku menginap adalah Hotel Borneo Putra 2, berciri khas Kalimantan dengan ukir-ukiran di beberapa bagian bangunannya..  


sedangkan di seberangnya adalah Hotel Borneo Putra 1 yang tampak lebih mengenaskan.. menurutku, itu tak seperti bangunan hotel.. banyak kaca jendelanya yang rusak, bangunannya tak terawat.. tampak seperti rumah tua yang tak terpakai..


Suasana di kota Sampit, tak begitu menyenangkan.. aku melihatnya seperti di daerah Glodok Jakarta.. tampak kusam.. aku jadi merasa tak nyaman untuk berjalan-jalan jauh dari hotel..


Awalnya aku mencoba ke bagian kiri hotel, tapi nyaris tak ada orang yang lewat.. tampak sepi mencekam seperti kota yang ditinggalkan oleh penduduknya.. aku tak bisa membayangkan ketika kasus Sampit terjadi dulu, suasananya mencekam seperti apa ya? Suku Dayak vs. Madura, sungguh pertempuran yang penuh dengan kekuatan magis..


Akhirnya, aku menghentikan langkahku dan berbalik ke arah kanan hotel.. di situ tampaknya masih lebih mendingan karena masih cukup banyak kendaraan yang lewat..


Tepat di sebelah hotel, kulihat sebuah bangunan dengan lubang-lubang di dindingnya.. ternyata di Sampit ini juga banyak terdapat burung walet, tapi tak sebanyak seperti di Pangkalan Bun..


Lalu aku meneruskan perjalanan, ke jalan raya yang tak jauh dari hotel.. tampak banyak pertokoan di sekitarnya, dan juga pasar.. 



aku pun berjalan menuju pasar, bermaksud mencari makanan untuk sarapan.. 


dan, kutemukan satu-satunya warung nasi yang buka.. aku sedang tak minat makan bakso ataupun mie.. 


di warung itu aku membeli nasi kuning porsi besar,  ikan berukuran besar dan ati ampela, harganya hanyalah 10 ribu saja.. murah juga pikirku..


Ketika aku kembali ke hotel, kutemukan di meja depan kamarku secangkir kecil teh hangat dan juga roti tepung.. rotinya benar-benar hanya tepung tanpa isi dan jelas sekali itu roti murahan yang biasa di Jakarta dijual dengan harga Rp 500.. 


uhh, hotel ini memang ga bonafit.. di dalam kamarnya juga tak disediakan minum air putih ataupun gelas, hanya ada buku menu untuk memesan.. itu juga aneh, pemesanan melalui telepon, tetapi di dalam kamar tak tampak ada telepon.. ckckck


Ketika sarapan, aku mendengar suara gelak tawa itu lagi.. suara yang membuatku serasa mimpi buruk ketika tidur tadi malam.. setelah kuhabiskan makananku, aku segera keluar untuk mencari sumber tawa itu.. berkali-kali, masih belum ketemu.. hingga akhirnya aku menemukan sebuah kandang di dekat tangga tengah.. ternyata, dari situlah sumber suaranya.. si ayam kate yang tertawa.. bawelnya bukan main.. 


selain si ayam juga ada burung-burung yang dipelihara dalam kandang yang sama..


Aku menghabiskan waktu hanya di dalam kamar, menonton film di saluran TV Sky Drama 1 (Skynindo).. akhirnya, serial film Endless Love Taiwan pun selesai.. film yang menarik dan mengharukan, aku juga suka soundtracknya.. dinyanyikan oleh Wilber Pan, yang bermain sebagai salah satu tokoh utama di film itu, yang juga adalah salah satu artis favoritku ketika aku masih SMP dulu..



Jam 12 siang, aku keluar hotel, ke pasar lagi untuk mencari makan siang.. kutemukan sebuah warung yang menjual rujak cingur.. 


wahh, di Kalimantan pun ada makanan khas Surabaya.. asyikk.. aku pun langsung memesan satu porsi rujak cingur, dengan cabe 1, dibungkus..  harga rujak cingurnya hanya 8 ribu saja.. murah juga..

Setelah membeli rujak cingur, aku berjalan semakin ke arah belakang pasar.. dan kutemukan sebuah toko souvenir Kalimantan.. lalu, aku pun membeli kekurangan souvenir untuk oleh-oleh di toko itu.. tapi lagi-lagi aku salah perkiraan jumlah, tetap saja kurang.. harga souvenir di toko itu lebih murah, hanya setengah dari harga di Pangkalan Bun.. aku jadi merasa rugi sudah beli banyak di Pangkalan Bun.. :(


Kemudian setelahnya, aku mencoba berjalan-jalan ke arah yang lebih jauh.. kutemukan gerobak yang menjual usus goreng..ahh, mauuu.. tapi harus beli 1 kg seharga 10 ribu.. kupikir, aku tak akan menghabiskannya saat ini, dan aku juga malas membawa-bawanya pulang karena bawaanku sudah cukup berat.. akhirnya, aku tak jadi membelinya..

Aku berputar ke sana kemari mencari semacam minimarket seperti indomaret atau alfamart, di tengah hiruk pikuk kendaraan yang lewat di jalan raya..  


dan, setelah beberapa kali berputar bolak balik, aku baru tersadar bahwa tempat yang kukira department store ternyata adalah swalayan, tepat di sebelah tempat gerobak penjual usus goreng berada..


Puas karena sudah membeli persediaan cemilan dan minuman, aku pun kembali ke hotel..

Di dalam kamar hotel aku berusaha menghabiskan makan siangku sambil menonton TV.. si ibu penjual rujak cingur memberiku porsi besar dengan cingur yang banyak hingga membuatku enek karena kebanyakan..


Kulihat jam, sudah semakin mendekati jam dijemput oleh mobil maskapai.. katanya jam 2 mobil akan datang menjemput dan mengantar kami ke bandara..

Aku berkali-kali keluar ke depan hotel untuk mengamati langit, ada beberapa awan hitam.. aku takut kalau-kalau hujan lagi, aku tak akan bisa pulang ke Jakarta (lagi).. aku juga sempat melihat seekor kucing yang berjalan dengan tergolek ke kanan dan kiri.. kuperhatikan, ternyata kakinya tak normal, mungkin kena polio sehingga berjalannya pun jadi tak benar dan sering kali terjatuh.. kasihan kupikir.. kudekati, kucing itu tampak ketakutan dan kemudian kabur masuk ke dalam Hotel Borneo Putra 1.. aku khawatir kucing itu akan tertabrak karena tak bisa berjalan dengan benar..

Saat kembali ke kamar, aku mengamati kerupuk Amplang yang kubeli di bandara.. ternyata, biarpun belinya di Sampit, tetapi tulisannya adalah khas Kumai, Pangkalan Bun.. jiahh.. kalau begitu bisa dibeli ketika di Pangkalan Bun.. sayangnya, aku terburu-buru nyaris ditinggal pesawat ketika di Pangkalan Bun kemarin, jadinya tidak sempat berputar-putar di bandara Iskandar..


Satu setengah jam sebelum dijemput, aku sudah siap.. bingung mau melakukan apa, mau nonton Tv juga speakernya tiba-tiba rusak menjadi tak bersuara, aku pun akhirnya berfoto-foto saja.. kemudian 45 menit sebelum waktu dijemput, aku sudah siap di depan hotel dengan barang-barang bawaanku.. aku menunggu sambil mendengarkan lagu..


Daripada bengong, aku mengamati sekeliling.. ternyata ukir-ukiran pada bangunan hotel ini sangat menampakkan khas dayak.. ada yang seperti bentuk tameng.. 


lalu di bagian atapnya berbentuk burung Enggang..


Jam 2 lewat sedikit, mobil yang digunakan untuk menjemput pun akhirnya datang.. aku segera memanggil keluarga yang waktu kemarinnya naik mobil bersama denganku untuk segera keluar hotel..

Di mobil, aku duduk di depan, di sebelah sopir.. kami melewati jembatan yang sama seperti yang kami lewati kemarin malam.. dan tampak jelas suasana sungai itu.. pak sopir menjelaskan bahwa itu namanya adalah Sungai Kahayan.. ahh, itu sungai yang kutahu informasinya dari internet.. ternyata yang itu toh.. sayang sekali aku tetap tak bisa memotretnya..

Tak lama kemudian, kami pun tiba di bandara.. di depan pintu masuk penuh dengan orang, kupikir ada apa dan ternyata pintu masuk bandara belum dibuka..



Sambil menunggu, berdiri dengan menggendong ranselku yang super berat, aku mengamati sekitar.. awan di kota Sampit cukup bagus, tapi tak selebat dan dekat dengan daratan seperti di Pangkalan Bun..



Setelah menunggu cukup lama, pintu bandara pun dibuka.. dan kami para penumpang berebutan untuk masuk ke dalam bandara.. lalu kemudian aku dengan cepat membeli kerupuk lagi di kios yang sama seperti kemarin, kali ini membeli banyak dengan total harga 100 ribu.. 


Setelahnya, aku langsung masuk ke ruang tunggu.. seketika tempat duduk di ruang tunggu pun penuh.. sore itu ada 3 jenis penerbangan.. yaitu 2 penerbangan ke Surabaya dengan pesawat Kalstar dan Merpati, dan 1 penerbangan ke Jakarta dengan pesawat Kalstar.. jadwal penerbangannya hanya selisih sekitar setengah jam antar pesawatnya..

Deg-degan menunggu pesawat, was-was melihat langit, takut akan hujan lagi.. agak mundur dari jam yang ditentukan, pesawat Kalstar tujuan Jakarta pun datang.. akhirnyaaa… aku dengan segera berjalan menuju pesawat.. ditemani seorang ibu yang tiba-tiba saja mengajakku ngobrol..


Ketika sampai di pintu masuk pesawat, kulihat si mas petugas informasi yang waktu itu melayaniku.. dia tersenyum kepadaku ketika si ibu yang bersamaku berkata kepadanya “akhirnya si eneng bisa pulang ke Jakarta”.. iyaa, aku senang akhirnya bisa kembali ke Jakarta.. tapi aku juga senang bisa mampir ke Kalimantan ini dan bertemu orang-orang yang ramah seperti kalian.. ^^

Dan, pesawat pun lepas landas.. meninggalkan kota Sampit.. meninggalkan Kalimantan..


Pesawat saat itu sangat penuh dengan penumpang.. aku duduk di samping jendela.. dan di sebelahku ada seorang ibu dan bapak.. di tengah perjalanan, aku jadi banyak mengobrol dengan si ibu..

Kulihat awan sore hari sungguh indah.. Ada awan yang bergumpal hingga menyerupai bukit pasir..


Semakin sore, warna langit semakin berwarna oranye, semakin indah.. aku menikmati pemandangan itu sambil berharap tidak hujan…



Perjalanan pulang ke Jakarta entah kenapa terasa lebih lama.. pesawat juga banyak berbelok, naik dan turun hingga membuatku menjadi pusing dan mual.. aku tak tahu apa yang sedang terjadi..

Kemudian, setelah beberapa lama, akhirnya terlihat laut Jawa.. terlihat titik-titik cahaya dari kapal-kapal yang berlayar.. aku senang, pulau Jawa sudah dekat.. Akhirnyaaa, aku sudah semakin dekat dengan rumah..

Suasana di luar pesawat semakin gelap, hari semakin malam.. 



Pesawat kemudian mendarat.. ternyata, Jakarta sedang hujan deras.. pantas saja tadi pesawatnya banyak berbelok dan naik turun..

Aku tersenyum lebar.. I’m home!!! Ingin rasanya segera keluar pesawat tapi tak bisa.. penumpang sempat antri lama di dalam pesawat karena hujan deras, menunggu disediakan payung oleh petugas bandara..


Aku pun tersendat, menjadi yang paling terakhir turun dari pesawat karena tasku kuletakkan di bagasi yang agak jauh di belakang tempat dudukku.. tapi aku senang, aku jadi tampak seperti punya banyak kenalan.. ada beberapa orang yang berpamitan kepadaku.. hehe

Turun dari pesawat dengan menggunakan paying yang disediakan.. kemudian naik ke bandara.. dari jendela bandara kulihat pesawat yang tadi kunaiki.. Kalstar Aviation, dan baru kusadar kata “Kal” itu dari kata “Kalimantan”.. memang pesawat yang awalnya khusus disediakan untuk transportasi di Kalimantan..


Aku berkata kepada diriku sendiri, “Welcome back to Jakarta!!”.. tak kupercaya, akhirnya aku bisa pulang.. sempat kukira aku tak akan bisa kembali dari Kalimantan.. haha

Bandara Soekarno-Hatta.. memang jauh berbeda dengan bandara Iskandar di Pangkalan Bun ataupun bandara H.Asan di Sampit.. Bandara ini ternyata luas juga ya.. aku baru menyadarinya ketika rasa pegal di punggungku karena menggendong tas ransel yang berat semakin terasa..

Di depan bandara.. aku mencari taksi Blue Bird.. herannya, Taksi itu nyaris tidak ada hingga akhirnya aku terpaksa naik Silver Bird yang sedikit lebih mahal..

Sesampainya di rumah, aku sangat senang.. kini aku sudah sungguh-sungguh pulang, berada di Jakarta.. namun, tampaknya nyawaku masih tertinggal setengah di Kalimantan.. ^^


See also: Travelling Guide: Tanjung Puting National Park
(http://allaboutmeliebe.blogspot.com/p/tanjung-puting-national-park-central.html)

Catatan Sang Peneliti: Hari Kesembilan di Kalimantan Tengah..


Meninggalkan Pondok Ambung, terapung-apung di Sungai, nyaris ditinggal pesawat, terperangkap di Sampit.. (Senin, 7 November 2011)

Hari kesembilan, hari dimana aku harus meninggalkan Pondok Ambung, kemudian kembali ke Pangkalan Bun untuk presentasi di Balai, lalu langsung terbang menuju Sampit dan kembali ke Jakarta.. tentu saja, tidurku tak tenang.. ada rasa sedih karena harus meninggalkan hutan Kalimantan ini..

Aku bangun jam 3 pagi.. disengaja, karena aku berniat untuk menyelesaikan slide untuk nanti presentasi di balai.. sesuai janji, aku harus sudah tiba di Balai TNTP di Pangkalan Bun jam 9 pagi..

Selesai mengerjakan slide presentasi, aku memejamkan mata untuk tidur lagi.. dan, aku kemudian bangun lagi jam 5 pagi untuk mandi..

Selesai mandi, kulihat bang Awi sudah siap untuk segera berangkat.. aku tak membutuhkan waktu yang lama untuk berberes karena seperti biasanya setiap bepergian barang-barang yang kubawa tak pernah kukeluarkan dari dalam tas kecuali ketika perlu dikeluarkan untuk dipakai.. semua beres, aku langsung menggendong tas ranselku yang super berat itu ke pendopo..

Mas’ud sudah bangun dan berniat untuk ikut mengantarku ke Kumai.. Ari baru saja bangun dan belum sepenuhnya sadar, dan dia bertugas menjaga pondok..

Jam 6 pagi kami bertiga berangkat, sesuai rencana.. aku membawa pop mie yang sudah diseduh air panas untuk kumakan ketika di perahu.. perahu yang digunakan adalah perahu yang berukuran sedikit lebih besar yang baru saja diganti olinya kemarin, tapi namanya tetap saja alkon (perahu kecil).. Sambil makan mie, aku menikmati perjalanan terakhirku di Muara Ali.. 


Tak lama kemudian, mesin perahu dimatikan, ternyata ada pohon tumbang.. Pohon yang sangat besar menghalangi jalur sungai.. hanya perahu kecil yg bisa lewat dan itu pun harus  menyelip di antara tanaman rawa.. bang Awi berusaha menggerakkan perahu melewati pohon itu sambil menggunakan parang untuk memotong-motong dahan.. aku ngeri, takut kalau-kalau ada buaya yang ngumpet di rawa, di antara tanaman bakung.. untungnya perahu yang kami gunakan cukup kecil.. jika kelotok sudah pasti tidak akan bisa lewat, padahal ini satu-satunya jalur menuju Pondok Ambung dan Camp Leakey..


Berhasil melewati pohon tumbang, perjalanan pun dilanjutkan.. tak lama, perahu pun berbelok ke kiri dan warna air sungai berubah menjadi coklat, yang menandakan kami sudah keluar dari Muara Ali..


Dalam perjalanan, aku sempat melihat burung Rangkong dengan sangat jelas, bertengger di pohon di atas kepalaku.. ukurannya sangat besar.. burung itu ada yang menyebutnya kangkareng.. dan jenisnya serupa dengan burung Enggang yang menjadi simbol kebesaran Suku Dayak, jenis burung khas Kalimantan.. Rangkong yang kulihat bulunya juga hitam.. dan paruhnya berwarna putih.. sayang sekali perahu melaju dengan cukup kencang, sehingga aku tak sempat memotret burung itu..

Perahu terus melaju.. melewati dermaga yang kukira itu adalah Tanjung Harapan., dan ternyata itu adalah Pondok Tanggui, yang juga adalah Pusat Rehabilitasi Orangutan, sama seperti Camp Leakey..


Tak jauh setelah melewati Pondok Tanggui, tiba-tiba terdengar suara aneh dari mesin perahu yang kutumpangi.. dan bang Awi berteriak “Ahh!!”.. ternyata, mesinnya rusak.. ada pirnya yang lepas, entah di bagian mananya.. dan.. perahu pun berhenti di tengah-tengah sungai, tidak bisa jalan.. Kami pun akhirnya terapung-apung di sungai..

Bang Awi berusaha mendayung perahu.. dayung yang dibawa hanya ada satu.. dan setelah susah payah mendayung, akhirnya perahu tiba di sungai yang sudah terjangkau sinyal Hp.. bang Awi langsung menelepon saudaranya yang di Tanjung Harapan untuk memberikan pertolongan..

Perahu bergerak mengikuti arus.. Mas’ud iseng bermain dayung.. aku akhirnya bisa sms-an, setelah sekian lama.. hehe


Selama terapung-apung itu, banyak sekali kelotok turis yang lewat.. dan penumpangnya semuanya bule.. dalam satu kelotok hanya diisi oleh 1-2 orang bule.. kaya sekali mereka, padahal sewa kelotok seharinya 600 ribu, belum termasuk guide, makan, bensin, dll.. huehh.. para bule itu ramah.. mereka semua tersenyum dan melambaikan tangan kepada kami.. mungkin, dikiranya kami (termasuk aku) ini penduduk lokal yang bisa jadi bahan tontonan kali ya.. mereka tak tahu kalau kami sedang terapung-apung, dan kami butuh pertolongan..


Aku pun meng-sms pak Taufik untuk memberitahukan bahwa aku akan terlambat tiba di Pangkalan Bun karena perahunya rusak..

Tak terasa, sudah satu jam berlalu..  kemudian, akhirnya perahu penyelamat pun datang.. perahu kami lalu diikat dengan tali dan ditarik oleh perahu mereka, menuju ke Tanjung Harapan..


Dalam perjalanan, kami sempat melewati pos Pesalat, yang di depannya ada tulisan “tanaman obat endemik”.. tak ada tanda-tanda kehidupan di pos itu dan suasananya terlihat suram.. dari Mas’ud aku baru tahu ternyata itu adalah tempat orang yang hilang, seorang pegawai balai TNTP, putra Kalimantan, yang hilang 5 hari sebelum keberangkatanku ke Kalimantan.. aku sempat membaca beritanya di internet.. hingga hari ini, orang tersebut masih belum ditemukan.. kabarnya, kemungkinan ada roh halus di tempat itu.. hingga tim ACI pun tidak jadi berkunjung ke tempat itu dikarenakan takut akan terjadi apa-apa..

Kemudian, kami melewati Hotel Rimba.. hotel di tengah hutan bernuansa alami, terbuat dari kayu-kayu, milik orang Australia dan tamunya pun bule-bule.. hotel itulah yang sempat menarik perhatianku ketika aku mencari informasi penginapan sebelum berangkat ke Kalimantan.. harganya dulu paling murah USD30 per malam, sekarang tidak tahu berapa.. tapi, hotel itu selalu full-booking..hebat!


Dan, setelah melewati rumah-rumah terapung di tepi-tepi sungai, atau lebih tepatnya rumah panggung, dari kejauhan tampaklah sebuah desa.. itulah desa Tanjung Harapan..


Yang membuatku bingung, di situ terdapat tulisan “Welcome Sei Sekonyer”.. lha, ini desa Sei Sekonyer atau desa Tanjung Harapan toh?


Sambil menunggu perahu gantinya, aku melihat-lihat sekitar.. aku menghampiri tempat Mas’ud dan bang Awi duduk-duduk.. 


ternyata itu adalah tempat dijualnya souvenir, dan di atas pondoknya ada tulisan “Tanjung Harapan”.. wah ternyata benar ini desa Tanjung Harapan.. 


sayangnya, toko souvenirnya sedang tutup.. dari balik kaca, kulihat ke dalam.. ada banyak sekali ukir-ukiran pahatan kayu..


Setelah melihat-lihat, kami kembali ke tempat semula, di pintu masuk desa.. menunggu.. 


kulihat ada 2 ekor anjing.. lucu juga.. Ada kakak-kakak kandungnya bang Awi.. kemudian bang Awi datang, membawa sekantong Okky Jelly Drink dan wafer Tango strawberry..

Tak lama kemudian ada kelotok bule mampir, dan bule-bule itu masuk ke dalam desa, dipandu oleh seorang guide..


Lalu Hp seorang anak bernama Sandy tercebur ke dalam sungai.. bang Awi pun langsung melepaskan pakaiannya dan menyelam, mencari Hp itu.. Hp itu berhasil diselamatkan.. Hp cina tapi hebatnya masih menyala ketika bang Awi mengambilnya dari dalam sungai..

Aku sudah pasrah mengenai jadwal presentasi.. aku sudah terlambat sejam..

Di seberang desa Tanjung Harapan juga ada dermaga.. menurut dugaanku, itu adalah Resort Tanjung Harapan, masuk dalam kawasan TNTP, yang ada wisma tamunya.. aku jadi penasaran, tapi sayang tidak akan sempat untuk mampir ke sana..


Kemudian, kami melanjutkan perjalanan.. berangkat ke Kumai dengan menggunakan perahu yang tadi menarik perahu kami yang mogok, perahu yang terbuat dari kayu ulin.. ditemani anak yang tadi Hpnya tercebur ke sungai, yang bernama Sandy, dia duduk di bagian depan perahu..

Perjalanan ke Kumai cukup jauh.. perahu berbelok ke kanan dan ke kiri berkali-kali.. di sepanjang sungai tampak tanaman yang serupa dengan sawit, kalau tidak salah namanya Nipah.. sungai tampak semakin lebar, suasana di tepian sungai juga asri.. awan terlihat indah.. butiran-butiran air sungai yang terciprat ke atas juga tampak indah..


Lalu, di ujung sungai tampak perairan yang luas seperti laut.. ada belokan ke kanan dan kiri.. juga mulai terlihat kapal-kapal tanker.. dari situ aku tahu bahwa Kumai sudah dekat.. tapi aku cukup ngeri, menggunakan perahu kecil di tengah perairan yang luas ini..


Akhirnya, setelah melewati kapal-kapal tanker, kami pun tiba di pelabuhan Kumai.. jam menunjukkan sudah jam setengah 10.. well, aku tak tahu akan tiba di balai jam berapa.. rasa-rasanya tak akan sempat presentasi, mengingat jadwal penerbangan pesawatnya jam 12..


Perahu ditambatkan di tepi dermaga.. aku yang terlebih dulu naik, dan ternyata mereka masih mencari parkiran yang pas untuk perahu itu.. 


sambil menunggu mereka, aku mengamati sekeliling.. selain kapal-kapal tanker, juga ada kelotok-kelotok yang diparkir.. dan terlihat juga beberapa speedboat yang lewat.. kupikir, pantas saja banyak sekali tawaran kerja untuk bidangku di Kalimantan.. ternyata, di sini pusatnya untuk offshore.. 


Lalu, aku melihat di dekat dermaga ada sebuah bangunan, tempat singgah sementara untuk pengunjung.. 


juga ada sebuah plang yang ternyata plang bertuliskan selamat datang dan terima kasih telah mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting..


Di pendopo di tepi dermaga, ada seorang bapak yang mengajakku bicara.. beliau langsung menanyakan “habis penelitian ya?” dan kubilang iya.. apakah tampangku adalah tampang seorang peneliti? Seru juga kalau begitu..hoho.. mungkin juga karena tidak menggunakan kelotok, jadi terlihat jelas bahwa aku bukanlag turis yang datang dengan tujuan untuk sekedar berlibur..

Kulihat perahu sudah selesai diparkirkan, dan mereka pun naik ke dermaga.. kususul dari sisi berlawanan.. dan, di dinding bangunan di dekat dermaga, terpampang spanduk berukuran besar berisi foto King of Camp Leakey.. wah, ternyata untuk jadi “King”nya hutan pun ada periode jabatannya.. haha


Ternyata, di situ juga ada kantor Balai TNTP.. sama-sama berwarna hijau, serupa dengan yang di Pangkalan Bun..



Berikutnya, aku bingung harus naik apa untuk bisa ke Pangkalan Bun.. tak tampak adanya Taksi yang lewat.. tukang ojek, entah ada dimana.. Mas’ud dan bang Awi pun juga tak tahu.. mereka hanya berdiri di samping pagar di tepi jalan, tak tahu harus apa..

Lalu aku pun kembali ke dermaga, ke pendopo yang tadi tampak banyak orang yang kukira salah satunya adalah tukang ojek.. aku menanyakan kepada seorang bapak, dan ternyata mereka tidak tahu.. akhinya bapak itu mau mengantarkanku sampai ke balai.. katanya mau ambil helm dulu, dan ganti uang bensin saja.. bapak itu ternyata kenal dengan bang Awi..

Dari bang Awi aku baru tahu ternyata bapak itu adalah Guide TNTP.. dan beliaulah yang mengantarkan tim ACI berkeliling di TNTP..

Sang bapak akhirnya datang, aku pun berpamitan kepada Mas’ud dan juga bang Awi.. lalu langsung melaju ke Pangkalan Bun.. aku cukup khawatir akan tiba dib alai jam berapa, tampaknya akan mepet sekali dengan jadwal penerbangan pesawat.. dan, aku pun tiba di balai TNTP Pangkalan Bun jam 11 siang..

Aku langsung bergegas masuk ke balai, menemui pak Taufik dan pak Toto.. dan ternyata, masih disuruh menunggu pak Gunung, si kepala balai yang entah ada dimana.. Kulihat jam, sudah jam setengah 12 dan pak Gunung tak juga datang.. Jam 12 kurang 20 menit akhirnya pak Gunung datang setelah dijemput oleh pak Taufik.. aku sangat khawatir akan ketinggalan pesawat.. belum lagi pak Gunung meminta macam-macam hingga aku harus menyalakan laptopku lagi.. aduhhh.. bagaimana nasibku ini.. ke Sampit kalau jalan darat membutuhkan waktu 8 jam.. oh, God! Aku bisa ketinggalan pesawat kalau begini..

Perbincangan dengan pak Gunung berlangsung singkat, dan aku pun dengan segera diantarkan si bapak Guide yang tadi mengantarkanku, menuju ke bandara..

Aku tiba di bandara 10 menit sebelum pesawat berangkat, hingga akhirnya petugas bandara mengubungi sang pilot untuk menungguku.. aku langsung berlari setelah selesai check-in, naik ke pesawat.. dan tangga pesawat langsung diminggirkan dan pintu pesawat ditutup.. pesawat pun lepas landas menuju Sampit..

Kupikir, ini gilaa.. sungguh hari yang gila.. ketika di pesawat, nyawaku masih belum sepenuhnya terkumpul.. aku juga masih ngos-ngosan.. sambil tak percaya aku sudah pergi meninggalkan Pangkalan Bun..

Aku duduk di bangku di depan tempat dudukku seharusnya dikarenakan di tempat dudukku itu si bule dan pendampingnya asyik ngobrol hingga memenuhi tempat duduk yang tersedia..

Aku duduk di samping jendela, sambil menatap lekat-lekat ke bawah.. tampak sungai meliuk-liuk.. mungkin itu Sungai Ssekonyer, atau mungkin bukan.. uuh, sampai 9 hari pun aku masih belum bisa membedakannya..


Setengah jam kemudian pesawat mendarat di bandara H. Asan Sampit.. akhirnya, aku merasakan menginjakkan kaki di Sampit.. kali ini aku benar-benar transit, dan ada selang waktu sekitar 4 jam hingga jadwal penerbangan berikutnya ke Jakarta..


Aku berniat berjalan-jalan di sekitar bandara, tapi tak tampak ada tempat yang bisa dikunjungi.. akhirnya, aku masuk saja ke bandara untuk mencari makan.. tapi ternyata, makanan di Cafeteria sudah habis.. uhh, aku sudah lapar.. belum lagi perutku tegang karena tadi syok dengan kejadian-kejadian yang berlangsung dengan sangat cepat yang kualami hari ini.. di samping Cafeteria ada kios makanan ringan.. kubeli kerupuk Amplang 2 bungkus besar dan 1 bungkus kecil untuk oleh-oleh.. lalu aku juga membeli keripik singkong untuk cemilanku.. kukira, tidak disediakan makan siang dari pesawat.. jadi kemudian aku memutuskan untuk makan pop mie saja yang air panas untuk menyeduhnya kuperoleh secara cuma-cuma dari ibu pemilik Cafeteria..

Selesai makan, kuperiksa bukti-bukti pengeluaran yang kumasukkan ke dalam tas secara asal-asalan.. dan, tiket pesawat elektronikku untuk pulang tampaknya tertinggal di bandara Pangakalan Bun.. aku pun langsung beranjak ke pusat informasi, mengurus tiket untuk nanti terbang ke Jakarta.. dan ternyata, aku diberi makanan.. ternyata dari maskapai pesawatnya menyediakan untuk makan siang.. aku juga meminta ijin untuk jalan-jalan keluar.. aku pun pergi ke luar setelah meninggalkan nomor Hpku dan menitipkan tas ranselku..

Di depan bandara, ada sebuah banner bertuliskan “Selamat datang di kota Sampit”.. wah, aku sudah berada di Kabupaten yang berbeda.. bukan lagi Kotawaringin Barat, tapi sudah di Kotawaringin Timur..


Kemudian aku meneruskan perjalanan ke pintu keluar bandara.. di pintu itu ada pos jaga, dan seorang bapak yang bertugas di situ memanggilku, menanyakan kepadaku aku mau kemana.. kubilang padanya aku mau jalan-jalan di sekitar situ saja.. dan beliau menyarankan aku untuk naik ojek ke tengah kota..

Awalnya aku tidak mau, dan hanya berjalan-jalan di pinggiran bandara.. kulihat si bule yang tadi sepesawat denganku sedang nongkrong di warung dekat pintu bandara.. aku lalu meneruskan berjalan kaki, dan ada ojek yang lewat.. tukang ojek itu menawarkan ojeknya, dan kutanyakan di Sampit ini paling enak berkunjung kemana, dan katanya ke alun-alun kota saja.. ongkosnya 10 ribu.. ok lah, kupikir tidak mahal..

Si bapak ojek banyak mengobrol denganku.. orangnya ramah dan ternyata orang asli Sampit.. motor melaju dengan kecepatan sedang, dan juga halus.. melewati jalan berkelok-kelok dan rumah-rumah penduduk.. tak lama kemudian, tibalah aku di alun-alun kota Sampit..


Alun-alun kota Sampit hanyalah sebuah taman.. dengan sebuah tugu di bagian tengahnya, dilengkapi mainan anak-anak dan juga rumah burung.. aku memutuskan untuk makan siang dulu di tempat duduk yang tak jauh dari rumah burung, sambil mengamati sekitar..


Selesai makan, aku masih lapar dan juga ingin yang segar-segar.. kulihat di dekat tama nada banyak orang berjualan, salah satunya adalah warung es buah.. aku langsung memesan semangkok es campur.. segar sekali.. rasanya seperti sudah sangat lama aku tak makan es campur.. di Pangkalan Bun lebih susah untuk mencari makanan enak dibandingkan dengan di Sampit..


Es campur yang segar, membuat tenagaku pulih kembali.. lalu aku berkeliling di sekitar taman.. kutemukan sebuah Museum Kayu yang terletak di seberang taman.. 



dan, didepannya terdapat sekolah-sekolah Katolik, juga klinik Katolik.. aku jadi senang karena banyak yang berbau Katolik di kota ini..




Kemudian ada becak lewat.. lumayan juga transportasi di Sampit ini, tak sesulit di Pangkalan Bun..


Kulihat jam, sudah jam setengah 3, saatnya kembali ke bandara.. petugas bandara berpesan padaku untuk kembali paling tidak sekitar jam 3.. yang jadi masalah berikutnya, aku bingung mencari ojek..

Setelah menyusuri taman, dan juga melewati hiasan taman seperti patung totem, 


aku menemukan 1 ojek.. sebelumnya, kulihat ada Tugu Adipura 


dan juga gereja yang entah Katolik atau Kristen..


Ketika itu sudah mulai gerimis.. dan ojek yang kudatangi meminta tarif yang mahal, 20 ribu, yang berarti 2 kali lipat dari ojek yang tadi mengantarkanku dari bandara.. kubilang tadi aku naik ojek hanya 10 ribu, kenapa jadi 20 ribu.. dan tukang ojek itu mengatakan, ke bandara memang lebih mahal dan tak bisa ditawar.. tampaknya dia orang batak.. saku cukup sebal, hanya saja aku terpaksa karena tak tampak ada ojek lainnya..

Di tengah perjalanan, tiba-tiba hujan menjadi deras.. namun aku meminta tukang ojek untuk tak berhenti dan melanjutkan perjalanan ke bandara, mengingat waktu yang sudah mepet..

Akhirnya, aku masuk ke dalam bandara dengan tubuh basah.. bajuku basah dari atas sampai bawah, tapi entah kenapa udara terasa panas..

Aku mampir ke bagian informasi, dan si mas nya yang mengingatku berkata “sudah?” dan aku mengangguk,, lalu mengambil tas ranselku di bagian scanning tas.. lalu masuk ke ruang tunggu di bagian dalam.. aku duduk tepat di depan AC untuk mengeringkan bajuku.. tapi, bajuku tak kering-kering juga, hingga aku mulai merasa kedinginan.. dan aku pun kemudian mengganti jaketku.. untungnya aku membawa 2 jaket.. hanya saja, celana jeansku tetap basah karena susah dan malas untuk menggambil gantinya dari dalam tas..


Hingga waktu keberangkatan tiba, hujan deras tak juga reda dan pesawat yang ditunggu juga belum tiba.. kemudian terdengar pengumuman bahwa karena cuaca buruk maka penerbangan dibatalkan.. aku hanya bisa bengong, tak percaya dengan apa yang kudengar barusan.. kemudian aku mengikuti penumpang lainnya keluar, ke bagian informasi.. dan ternyata benar, penerbangan dibatalkan.. lalu, bagaimana nasibku??? Besok aku harus masuk kerja..

Pihak maskapai di bagian informasi memberikan 2 pilihan, yaitu uang tiket dikembalikan full dan aku bisa mencari maskapai penerbangan lainnya.. atau pilihan kedua, menginap di hotel yang disediakan oleh maskapai dan ikut jadwal penerbangan besok sorenya, itu pun jika cuaca tidak buruk lagi..

Bukan hanya aku yang bingung, tetapi juga bule yang tadi yang ternyata adalah seorang duta besar.. besoknya dia harus segera ke kedutaan.. dan si mas pendampingnya itu sibuk protes.. mereka bilang kepadaku bahwa mereka akan kembali ke Pangkalan Bun dengan Travel kemudian naik pesawat Trigana Air.. kupikir, perjalanan ke Pangkalan Bun lumayan, bisa 8 jam.. sedangkan hari sudah sore, sama saja tiba malam hari dan baru bisa berangkat dengan Trigana Air siangnya.. mencari maskapai lain pun tak ada.. di Sampit hanya ada Merpati dan Kalstar.. Merpatinya pun tak jelas jadwal penerbangannya.. kutanyakan kepada kedua orang tuaku via telepon dan mereka bilang aku sabar saja, dan kemudian aku memutuskan untuk menginap..


Beberapa saat setelah selesai melayani semua penumpang yang protes, pihak Kalstar menyediakan mobil untuk ke mengantarkan ke Hotel.. aku semobil dengan satu keluarga yang terdiri dari bapak, ibu dan anaknya laki-laki yang kira-kira seumuranku atau lebih muda..


Kami melewati sebuah jembatan di atas sungai.. aku tak tahu itu sungai apa, tapi tampaknya pelabuhan karena terlihat banyak kapal yang melewatinya.. pemandangan malam hari di sungai itu sungguh keren.. lampu-lampu kapal memberikan keindahan tersendiri..

Kota Sampit tak begitu menyenangkan, tak seindah dan serindang kota Pangkalan Bun.. setelah melalui jalan berkelok-kelok dan rumah-rumah penduduk, kami pun tiba di hotel.. hotel itu suram dan tak menarik.. Hotel Borneo Putra 2.. aku mendapat kamar paling ujung yang terpencil sendiri di bawah tangga.. sebuah kamar yang cukup besar, dengan ranjang double bed dan kamar mandi di dalam.. ada TV, tapi tidak ada colokan listrik.. juga agak jorok, ada asbak penuh rokok yang tidak dibersihkan, juga tidak ada tempat sampah… belum lagi kunci pintunya yang agak keras.. umm, masih lebih nyaman di hotel Abadi biarpun kamarnya lebih kecil..


Akhirnya, bertambahlah satu malamku di Kalimantan.. malam kesembilan, kuakhiri dengan menonton TV, tetap di saluran Sky Drama 1 (Skynindo)..