Eight Below

Eight Below

The Real World Adventurer..

"In this life, only the fool who always start the questions of life, moreover start their life mission and purpose of money. And once beginner ask where they get money, then they will be shackled by the constraints/obstacles. And almost certainly the answer is simply no money, can not and will not be" (Rhenald Kasali - Professor of University of Indonesia)
Showing posts with label Muara Ali. Show all posts
Showing posts with label Muara Ali. Show all posts

Wednesday, December 21, 2011

Catatan Sang Peneliti: Hari Kedelapan di Kalimantan Tengah..

Hari terakhir di Pondok Ambung.. (Minggu, 6 November 2011)

Hari ini aku bangun jam 5, setengah jam lebih siang dibanding hari kemarin.. sambil malas-malasan untuk bangun, aku pun pergi mandi.. selesai mandi, kulihat belum semuanya bangun.. hanya bang Awi yang paling rajin, sibuk bermain dengan para kucing..

Selesai berberes, aku melanjutkan mengolah data di ruang kerja.. bang Awi datang dan menawariku susu coklat.. aku kaget sekaligus senang, ternyata di hutan bisa minum susu.. kebetulan persediaan susu dalam botol-botol kemasan yang kubawa sudah habis ketika masih di Desa Banit.. asyikk.. Tanpa menunggu lama, bang Awi datang sambil membawakan segelas besar susu coklat hangat.. nikmaatt..

Makan pagi hari ini seperti biasa, dibuatkan oleh Mas’ud dan Ari.. menunya adalah sayur kentang.. saat-saat seperti inilah baru terasa dan bisa menghargai makanan, sesederhana apapun itu..

Seperti biasa, seusai makan mereka bertiga pergi ke hutan untuk membuat jalur.. lagi-lagi aku tak ikut.. mereka diikuti oleh Opus.. tampaknya Opus tak rela ditinggal..

Kulihat di jalur yang tak jauh dari ruang kerja, ada bangunan berwarna hijau yang ternyata adalah pos Polhut Pondok Ambung.. tapi tak tampak adanya aktivitas di dalamnya biarpun kondisinya masih apik..



Bosan melihat huruf di laptop, aku pun kemudian iseng memotret-motret Boti yang sedang memeluk si item dari dalam ruang kerja.. tiba-tiba bang Awi muncul, sengaja mengagetkanku..


Ternyata, lagi-lagi ada Trenggareng yang datang dan aku tak menyadarinya.. kali ini, selain makanan kucing habis dilahapnya, bang Awi juga menemukan piring yang pecah terbelah menjadi dua.. aku ini.. memang tak peka.. jadi ragu apakah nantinya aku bisa jadi peneliti yang sebenarnya (profesional) ya?? Aku jadi ragu pada diriku sendiri..  :(  Kemudian aku diantarkan oleh bang Awi ke menara bird watching yang ternyata tak jauh dari pos Polhut..

Dalam perjalanan, bang Awi menunjukkan kepadaku jamur yang mirip dengan yang biasa kulihat..


Tak lama kemudian, terlihat sebuah rumah pohon..



Aku naik ke atas dengan agak takut tak bisa turun nantinya.. di sana pemandangan sungguh indah.. tampak dengan jelas hutan di sekelilingku.. tak lama memotret dan merekam, aku pun turun ke bawah dengan berhati-hati..




tangganya adalah tangga berdiri yang menjulang tinggi sekitar 5 meter dari tanah..


sukses menuruni tangga, kemudian kami kembali ke pendopo dan ngobrol di situ bersama dengan Mas’ud dan Ari.. lalu kami pun makan..

Selesai makan, aku merasa sangat ngantuk dan akhirnya kuputuskan untuk tidur saja di kamar..

Sebelumnya, aku menyempatkan diri untuk memotret bagian-bagian Pondok Ambung yang belum terfoto, seperti kamar mandi,


dapur yang sekaligus menembus ke ruang makan,




juga pondok peneliti tempatku tidur (kamarku yang paling ujung depan, yang ternyata adalah kamar Manajer Orangutan Foundation UK yang waktu itu mengunjungiku di hotel bersama Mas'ud dan Ari ketika masih di Pangkalan Bun)..


Awalnya aku berencana mau kembali ke Pangkalan Bun hari ini karena besok pagi aku harus presentasi dan siangnya pulang ke Jakarta dengan pesawat jam 12.00.. namun karena menurut bang Awi jika pergi siang ini, sampai sana sore, maka bang Awi akan kemalaman tiba kembali di sini.. dengan demikian kupikir besok pagi-pagi saja aku kembali ke Pangkalan Bun nya..

Aku langsung terlelap begitu menyandarkan tubuh di kasur.. tapi kemudian aku seperti bermimpi buruk.. terdengar suara berisik mesin yang sangat kencang dan aku lalu terbangun.. suara itu masih terdengar jelas.. masih dengan sakit kepala dan nyawa setengah terkumpul, aku bangun dan menghampiri dermaga, tempat suara mesin itu berasal.. ternyata, bang Awi sedang mengganti oli perahu dengan menggunakan semacam mesin diesel, dibantu oleh Ari..

Ketika itu banyak kelotok yang lewat.. aku mulai terbiasa dan bisa membedakan jenis suara kendaraan dari kejauhan yang akan melintasi Pondok Ambung.. apakah itu alkon (perahu kecil), speedboat ataupun kelotok..




Selesai mengganti oli, bang Awi dan Ari berenang di sungai yang penuh dengan oli.. lalu tubuh mereka disabuni dengan sabun colek.. (wew.. ada-ada aja.. -___-“) untung saja tidak ada buaya.. buaya tak akan suka dengan oli..

Di dermaga juga ada Mas’ud.. akhirnya kami berempat nongkrong di dermaga, memotret-motret sambil memasang musik..

Dari hutan di seberang sungai terdengar suara “ngok ngok” yang keras.. itu adalah suara bekantan.. bekantan itu adalah sejenis monyet yang digunakan sebagai lambang Dufan (Dunia Fantasi di Ancol).. dan ternyata, bekantan bisa dipanggil.. bang Awi bersuara “nguik nguik” dan bekantan itu datang mendekat, tampak bergelantungan di pohon yang tinggi.. sayangnya, kameraku tak mampu menjangkau jarak sejauh itu sehingga aku tak berhasil memperoleh foto bekantan yang jelas.. Mas’ud membawa kamera D-SLR, tapi entah bagaimana hasil potretannya..


Kemudian, Ari mengambil pancing dan memancing.. lama sekali hingga akhirnya dia berhasil memancing seekor ikan berukuran kecil.. aku kasihan melihatnya dan ingin melepaskannya kembali ke sungai.. tapi pastinya nanti aku bisa dimarahi oleh yang lainnya.. jadi kubilang kepada Ari kalau nanti tidak dapat ikan lagi, yang satu ini dikembalikan saja ke sungai (sambil berdoa dia tidak dapat ikan lagi).. aku sempat memegang ikan itu, sisik di punggungnya sangat tajam, hampir saja tanganku terluka karena memegangnya.. jenis ikannya memang unik..

Sementara Ari memancing, kami juga sambil mengobrol.. banyak topik perbincangan di sore hari itu.. setelah beberapa saat memancing dan tak mendapatkan satu pun ikan lagi, Ari mengganti pancingnya dengan pancing milik bang Awi dan tak lama kemudian dia berhasil mendapatkan beberapa ekor ikan.. ikan-ikan itu bentuknya seperti lele, tapi berukuran pendek.. huekk.. aku tak akan mau makan lele.. aku juga kasian dengan ikan-ikan itu, sedih melihatnya di ember.. belum lagi ada 1 ekor ikan yang sudah nyaris mati, mengambang.. :(


Hari semakin sore, suasana semakin gelap.. banyak kelotok yang lewat dan setiap terdengar suara kelotok yang akan lewat, Ari menyembunyikan pancing dan juga ember berisi ikannya di balik pohon.. katanya tidak enak sama bule-bule yang lewat, masa di tempat konservasi malah mancing ikan.. itu tidak baik.. 

Mas’ud pun kemudian ikut memancing bersama Ari, dan aku kembali ke kamarku, lalu ke pendopo.. hingga suasana benar-benar gelap, mereka masih memancing, sambil menunggu saat untuk mencari Tarsius.. 

Tak disangka, Ari berhasil memancing banyak ikan, tapi bentuknya mirip lele semua.. kata bang Awi itu bukan lele tapi catfish.. -__-“ catfish itu apanya lele, sama aja setauku.. katanya ikan-ikan itu beda dengan lele karena makanannya biji buah..

Selesai memancing dan menyimpan ember berisi ikan di dapur, kemudian berberes, kami pun pergi ke hutan mencari Tarsius..

Sejak di dekat pondok ruang makan, sudah tercium dengan jelas bau jejak kotoran Tarsius, juga di dekat dermaga.. kami semua langsung menyebar tapi tak berhasil menemukan Tarsius itu..

Kemudian kami masuk ke hutan untuk melanjutkan mencari Tarsius.. malam itu, kami melewati jalur lama, kemudian menembus ke jalur yang baru mereka buat tadi pagi.. banyak tercium dengan sangat jelas jejak kotoran Tarsius, tercium di mana-mana.. aku sempat senang karena jangan-jangan di malam terakhirku ini aku beruntung bisa melihat Tarsius..

Bang awi sempat memanjat pohon beringin untuk mencari Tarsius di lubang-lubang pohonnya, kemudian meloncat dan bergelantungan di pohon di sebelahnya sudah seperti orangutan.. saat itu kupegangi kamera bang Awi yang ternyata adalah kamera Olympus waterproof dan shockproof.. keren.. kamera itu yang sempat kuidam-idamkan, cocok untuk berpetualang ke gunung ataupun ke laut..

Dalam perjalanan di tengah hutan, aku mengikuti Ari kemanapun dia pergi.. aku lupa membawa baterai cadangan, senterku sangat redup dan hanya bisa menerangi jejak kakiku saja.. Jika terlepas dari Ari, aku bisa tersesat di tengah hutan.. aku juga takut nyasar ke rawa-rawa yang kata bang Awi di sana hewan-hewannya buas.. ada babi hutan liar, yang ketika malam pertamaku di Pondok Ambung kami mendengar suara babi hutan berkelahi.. juga ada ular Python yang dulu pernah datang ke pondok dan memangsa 2 anak Boti (saudaranya si item) dan nyaris membunuh Opus..

Aku juga sempat ketempelan pacet, tapi untungnya langsung ketauan karena aku tiba-tiba merasakan gigitan yang menyakitkan di kakiku dan langsung kuperiksa, ternyata ada pacet dan langsung kulepaskan pacet itu sehingga kakiku tidak bocor bercucuran darah..

Bang Awi menemukan jamur yang lapisan atasnya keras mengkilap seperti plitur kayu, 


dan Ari menemukan bakal jamur dari tanah yang lembab, lengkap dengan larva serangga berukuran besar di sampingnya..


Kami meneruskan perjalanan dan bang Awi menemukan katak yang sedang berenang di kubangan, 


juga serangga air yang aku lupa istilah namanya apa..aku sering melihat serangga sejenis itu setiap kali aku berkunjung ke daerah yang ada air terjunnya..


Bang Awi mencoba memfoto kami, dan ternyata flash kamera Olympus kurang terang.. kemudian kuminta bang Awi mencoba menggunakan kamera Canon yang kubawa, dan flashnya sangat terang..



Perjalanan dilanjutkan, kulihat jam sudah hampir 2 jam kami berjalan tapi masih belum juga menemukan Tarsius, padahal sudah banyak tercium jejaknya.. kata Ari range daerah kekuasaannya adalah 10 m di sekeliling sumber bau dan ketinggian pohon tempat Tarsius bergelantung hanya sekitar 3 m..

Hingga track terakhir, kami tak juga berhasil menemukan Tarsius.. dan kami pun kembali ke pondok..sempat ketika di dekat pondok kami tertipu.. ada pantulan warna mata kuning dari cahaya senter Ari, dan ternyata itu Opus.. ini kedua kalinya Ari tertipu, waktu itu si Ming-ming yang berada di tengah hutan.. sempat dikira pantulan cahaya dari mata Tarsius..

Di pendopo, kami duduk beramai-ramai.. mereka semua lemas karena tak berhasil menemukan Tarsius, sempat diam karena capek ..

Kemudian mereka bangkit berdiri, masuk ke dapur dan memasak untuk makan malam.. aku ikut-ikutan ke dapur tapi hanya untuk duduk sambil bermain kucing.. ternyata ada sebuah pintu di dalam dapur yang merupakan pintu ruangan logistik, berisi persediaan bahan makanan..

Si item dengan bandelnya meloncat ke sana kemari hingga masuk ke ruang logistik.. kemudian mendekatiku dan menempel padaku, tak mau lepas.. tumben manja, kupikir.. dan kata bang Awi, si item bisa merasakan kalau aku akan pergi, jadi dia manja..

Mas’ud dan Ari sibuk memasak makan malam.. Ari membersihkan ikan, kemudian membuat bumbu kuning, mengoleskan bumbu kuning ke ikan-ikan yang ternyata masih hidup, melumuri ikan-ikan itu dengan tepung.. sedangkan Mas’ud bertugas mengulek sambal.. hebat juga mereka, cowok tapi bisa masak.. karena aku tak mau makan ikan, maka Ari membuatkanku telur goreng, mengorbankan butir telur terakhir yang tersedia..

Masakan matang, dan kami pun makan beramai-ramai, tetap di dalam dapur, gelap-gelap hanya dengan cahaya senter dari kepala bang Awi, bersama para kucing.. sekeluarga kucing yaitu Opus (ayah), Boti (induk), dan si item (satu-satunya anak kucing yang berhasil selamat dari serangan ular Python).. Sayang sekali Ming-ming menghilang lagi dan masih belum kembali, aku jadi  tak bisa memberikan salam perpisahan.. :(


Selesai makan, bang Awi memintaku untuk mengisi buku tamu.. kubaca tamu-tamu yang pernah datang ke Pondok Ambung itu, sebagian besar adalah orang asing, baik orang bule maupun orang Jepang.. lalu mataku tertuju pada tulisan “ACI” yang datang pada tanggal 20 Oktober 2011 lalu.. wah, ACI (Aku Cinta Indonesia) juga ke sini toh.. aku waktu itu juga ikut ACI, dan lolos sebagai finalis.. tapi sayangnya aku tak lolos tahap akhir seleksi.. dan ternyata, lolos tidak lolos ACI, aku tetap bisa berpetualang.. ke tempat yang juga sama dikunjungi oleh ACI pula.. hehe.. tapi beruntungnya mereka (3 orang tim ACI Kalimantan) berhasil menemukan Tarsius, padahal mereka hanya sehari berada di Pondok Ambung ini.. mereka juga beruntung karena diberi kelotok dan juga sempat birdwatching (mengamati burung).. ahh.. asyiknyaa..

Bang Awi melemparkan makanan ke luar pintu dapur, dan sekeluarga kucing itu berebut makanan.. tak disangka, yang paling galak ternyata adalah si item.. kecil-kecil begitu suaranya sangat kencang seperti kucing besar saja..

Hari semakin malam, dan kami pun memutuskan untuk tidur.. besoknya aku harus bangun pagi-pagi dan segera pergi meninggalkan Pondok Ambung..

Saatnya tidur dan memejamkan mata, tapi aku tak bisa tidur nyenyak.. beginilah aku setiap kali di hari terakhir, pasti jadi gundah gulana.. rasanya sedih juga meninggalkan Pondok Ambung ini.. di sini cukup menyenangkan..

Sambil gelisah mengubah posisi tubuh ke kanan dan ke kiri, aku berusaha untuk tidur.. dan.. hari terakhirku di Pondok Ambung, hari kedelapan di Kalimantan pun berakhir.. 

Tuesday, December 20, 2011

Catatan Sang Peneliti: Hari Ketujuh di Kalimantan Tengah..

Hari Kedua di Pondok Ambung.. Berkunjung ke Pusat Rehabilitasi Orangutan, Camp Leakey.. (Sabtu, 5 November 2011)

Tidurku cukup nyenyak dan seperti biasanya, aku bangun jam setengah 5 pagi.. Kubuka pintu kamarku dan kulihat ke luar, suasana sekeliling masih gelap.. Ming-ming terbangun, duduk terdiam di pintu kamarku dan kemudian keluar kamar lalu menghilang..


Jam 5 pagi aku mandi (akhirnya bisa mandi juga..segarnyaaa..), dan ketika selesai kulihat yang lainnya sudah bangun, berkeliaran di sekitar pendopo dan dapur..

Seusai berberes, aku berkeliling untuk memotret suasana di Pondok Ambung.. 



yang paling menarik adalah suasana Muara Ali.. walaupun pagi hari masih tampak mencekam.. 


Sungainya benar-benar tampak hitam hingga bisa memantulkan bayangan objek yang ada di atasnya..


Di situ ada Mas’ud yang juga sibuk memotret.. dan aku minta untuk difoto.. rugi kalo ga mengabadikan saat-saat berada di situ..hehe



Kemudian Mas’ud kembali ke dapur.. Mas’ud bersama dengan Ari dan bang Awi beramai-ramai memasak untuk makan pagi.. sementara aku tetap berkeliling untuk memotret..

Ketika itu aku melihat Boti dan si item.. si item seperti biasanya tetap lincah meloncat-loncat ke sana dan kemari..


kemudian si item minta disusui oleh Boti..


saat itu juga aku baru tersadar ternyata ada papan bertuliskan “Stasiun Penelitian Hutan Tropis” di bagian depan pondok dapur dan ruang makan.. aku pun berfoto di situ, dengan setting kamera otomatis..


Lalu aku dipanggil untuk makan.. ketika tiba di depan pintu dapur, kulihat si item sedang asyik bermain di atas pot.. dia bermain dengan lengkuas, kemudian menindihnya hingga batang lengkuas itu patah.. si kecil item yang terlalu lincah, padahal kucing betina.. tapi lebih  mirip kucing jantan..


Menu pagi itu seperti biasa, ada campuran mie nya.. tapi cukup sedap dan porsi besarrr..  Selesai makan, sambil duduk-duduk di pendopo, kulihat Mas’ud sedang sibuk membuat catatan penelitian.. akhirnya aku berpikir, “oh iya ya, kenapa aku ga ikutan mengolah data kuesioner aja.. “.. lalu aku pun mengeluarkan kuesioner-kuesioner yang sudah kukumpulkan dalam sebuah map plastik berwarna biru dan juga mengeluarkan laptopku.. dikarenakan di pendopo tidak ada sumber listrik, akhirnya aku pun beranjak ke perpustakaan..



Ketika aku sibuk merekap kuesioner, tiba-tiba ada seekor capung yang terbang, kemudian hinggap di jempolku.. kuperhatikan, capung itu pendek dan gemuk, berbeda dengan capung yang biasa kulihat.. sayangnya, kameraku tak mampu menangkap gambarnya dengan jelas..


Pagi itu mereka bertiga akan pergi ke hutan untuk membuat jalur.. sementara aku tidak ikut dan memilih untuk tetap berada di ruang kerja (perpustakaan) untuk mengolah data kuesioner..

Karena takut sendirian, akhirnya pintu ruang kerja aku kunci.. sempat beberapa kali terdengar suara aneh-aneh.. suasana di hutan itu ketika sepi orang cukup bising, kudengar suara burung berkicau terlalu berisik, mungkin karena jumlahnya yang terlalu banyak.. Kemudian kuputuskan untuk memutar lagu agar tidak terasa sepi..

Sekitar 2 jam setelahnya, mereka bertiga pun kembali ke pondok.. dan ternyata, ada seekor orangutan bersama anaknya yang mampir, bergelantungan di pohon di dekat dermaga..  aku baru mengetahuinya ketika diberi tahu oleh bang Awi.. selain itu makanan untuk kucing juga habis, diambil oleh trenggareng (semacam musang).. aku benar-benar tak menyadarinya, mungkin selain tidak peka, juga karena aku agak takut berada sendirian di situ.. Orangutan Kalimantan agak berbeda dari orangutan yang biasa kulihat di kebun binatang, bulunya berwarna merah.. dan, nama latinnya adalah Pongo pygmaeus..


Setelah selesai sibuk memotret orangutan, lalu kulihat Ming-ming tidak ada.. kemudian bang Awi berputar ke belakang hutan mencari Ming-ming sambil berteriak “pusss” dan si Opus mengikutinya sambil menjawab “meong” setiap kali bang Awi berteriak..


dan, Ming-ming tak juga ditemukan.. kata bang Awi, Ming-ming sering menghilang di hutan, pernah juga baru kembali setelah 2 minggu menghilang.. ternyata biarpun manja, Ming-ming cukup berani berkelana..

Siangnya setelah makan siang, kami berempat memutuskan untuk pergi ke Camp Leakey.. sesaat sebelum berjalan ke dermaga, kami melihat gerombolan semut berukuran besar berbaris di depan pondok peneliti.. semut-semut itu sejenis dengan yang menggigit kami di hutan kemarin malam.. aku ngeri melihatnya.. jatuh ke gerombolan semut-semut itu, tewaslah sudah kita digigitnya.. gigitannya benar-benar menyakitkan..



Lalu kami pun berangkat ke Camp Leakey, tetap dengan menggunakan alkon (perahu kecil) .. posisi duduknya Mas’ud yang paling depan, dan dibelakangnya ada aku, kemudian Ari, lalu bang Awi yang mengendalikan mesin motor di bagian belakang perahu.. perahu itu cukup kecil sehingga terasa cukup sempit juga ketika digunakan untuk berempat.. Mas’ud ternyata tidak bisa berenang, dan dia agak takut-takut ketika turun ke perahu dari dermaga tadi..

Perjalanan ke Camp Leakey tak begitu jauh dari Pondok Ambung, dan tetap berada di Muara Ali, hanya saja arahnya lebih ke dalam.. tampak pepohonan di sepanjang sungai memiliki ciri khas bentuk tersendiri dan juga berukuran sangat tinggi.. Selain itu, juga ada banyak kelotok turis yang lewat.. ternyata Camp Leakey adalah tempat tujuan favorit di Taman Nasional Tanjung Puting ini..



Setelah sekitar 15 menit perjalanan, tampaklah sebuah dermaga yang cukup besar.. di tepiannya bersandar kelotok-kelotok yang digunakan oleh para turis.. tibalah kami di Camp Leakey..


Namun, kami tidak berhenti di dermaga itu, melainkan melanjutkan perjalanan hingga ke ujung Muara yang adalah Dermaga Lama Camp Leakey..


Bang Awi menurunkan kami di dermaga, kemudian memarkirkan perahunya di dekat parkiran speedboat di seberang dermaga, kemudian berenang kembali ke dermaga.. perahu itu tak boleh diparkir di dermaga karena bisa dicuri oleh orangutan.. katanya, di Camp Leakey ini ada orangutan yang pernah mendayung perahu..


Kulihat di atas dermaga ada cecerang buah pisang.. di rawa di sampingnya bahkan kutemukan pisang 1 sisir masih utuh.. ternyata pisang-pisang itu dibuang oleh orangutan..


Kami pun berjalan masuk ke Camp Leakey..


Sebelumnya, kami melewati persimpangan jalan yang menghubungkan dengan jalan menuju Dermaga baru Camp Leakey tempat kelotok-kelotok tadi bersandar..


Di dalam Camp Leakey kulihat 3 ekor babi hutan.. 2 ekor babi hutan masih belum mempunyai taring dikarenakan masih muda, sedangkan yang 1 ekor lagi tampaknya sudah mulai tua sehingga mulai tampak adanya taring di mulutnya.. awalnya aku merasa takut untuk dekat-dekat karena teringat cerita papaku yang pernah dikejar babi hutan ketika dulu berkunjung ke hutan Kalimantan..


Seekor babi hutan yang berada di dekatku, yang tadinya sibuk makan daun, tiba-tiba tiduran dan bersikap sok imut..


ternyata hidungnya panjang menyerupai belalai gajah, bulunya yang panjang tampak seperti berewokan.. dan kubilang “lucuuuu”, dan seketika si Ari menjawab “apanya yang lucu sih? Berewokan jelek begitu”.. justru karena jelek itu jadi terlihat lucu.. apalagi ekspresinya dan sinar matanya yang kelihatan lentik dan sayu.. hehe.. kemudian aku pun berfoto dengan babi hutan itu, tapi masih belum berani mendekat..


Lalu kami diundang untuk masuk ke dalam pondok.. di dalam pondok kami disuguhi jeruk bali.. aku jadi ingat ketika di Malang, saat aku masih kecil, aku senang sekali membuat mainan mobil-mobilan dari kulit jeruk bali..

Di pintu depan pondok, tampak babi-babi hutan itu seperti menunggu untuk diberi makan..


dan, mas Awi kemudian memberi babi-babi hutan itu jeruk bali.. tak disangka babi hutan mau makan jeruk bali.. dan ternyata mereka jinak juga.. aku pun ikut-ikutan memberi makan babi-babi itu, perlahan-lahan semakin mendekatkan diri.. dan, moncongnya pun menyentuh tanganku.. hasilnya, tanganku jadi penuh lumpur.. huekk.. jorok juga.. heran, apa babi hutan itu makan lumpur??


Di dalam pondok kulihat ada beberapa foto orangutan, salah satunya adalah orangutan yang mendayung perahu,


dan 2 foto di sebelahnya adalah foto King of Camp Leakey.. tampaknya raja orangutan itu badannya super besar.. namanya aja “King”..


Tak lama kemudian, ada yang memberitahu bahwa Princess datang.. ternyata Princess itu adalah orangutan dalam foto yang dipajang di dalam pondok, tak salah lagi yang bisa mendayung perahu.. Princess menggendong anaknya yang bernama Putri..  Bang Awi tidak berani terlalu dekat dengan orangutan karena katanya dulu pernah hampir digigit oleh orangutan..


Lalu kami pun memotret-motret Princess dan Putri sambil bergerak menjauh setiap kali Princess mendekat.. selain kami, juga ada seorang bule wanita bersama guidenya yang datang dan kemudian berfoto bersama Princess dan Putri, tapi tidak berani terlalu dekat.. bule itu menyuruh sang guide untuk memotretnya dengan lebih cepat, rupanya agak takut.. kabarnya, pernah ada orangutan yang mengacak-acak passport milik turis bule.. orangutan yang berada di pusat rehabilitasi ini lebih nakal ketimbang orangutan liar..

Aku mengamati perilaku Princess dan Putri, ternyata mereka takut dengan babi hutan.. babi hutan suka mendekati mereka karena mau mengambil makanan, dan tiap kali babi itu mendekat, Princess melihat sambil melotot ketakutan dan kemudian kabur menjauh.. lucu juga..  Yang unik lagi adalah orangutan memberi makanan untuk anaknya lewat mulut..



Kemudian bang Awi menunjuk ke atas, ke sebuah pohon yang sangat tinggi, dan di atasnya ada semacam tempat duduk kayu.. ternyata, itu adalah tempat untuk mencari sinyal Hp.. di Camp Leakey ini lebih sulit sinyal jika dibandingkan dengan Pondok Ambung yang masih memiliki kota berkabel yang tersambung dengan antena.. dengan demikian, yang mau menelpon haruslah memanjat ke atas pohon itu.. lucunya lagi, para guide di Camp Leakey itu entah mengapa hanya menggunakan semacam celana pendek berumbai-rumbai yang menyerupai baju suku asmat, tanpa menggunakan baju atasan.. unik sekali..


Ari memanggilku, dan dia menunjuk kepada 2 ekor kucing yang adalah ras asli kucing hutan.. tampaknya seperti kucing biasa, tapi begitu dipegang, baru terasa bulunya yang sangat halus.. 2 kucing itu jantan dan betina, herannya mereka sangat mesra hingga membuatku iri..



Setelah puas mengelus-elus kucing dan mengamati perilaku Princess, aku meniru si bule tadi berfoto di belakang Princess..


Lalu kami berjalan sedikit ke belakang pondok dan kami menemukan orangutan yang mendekat.. Orangutan itu bernama Petra, membawa anaknya (jantan) yang bernama Peta.. Petra ternyata tau saja jika mau difoto.. dia pun mendekat dan kemudian bergaya, minta difoto..


Awalnya aku heran, kenapa nama orangutannya semua berawalan huruf “P”, dan ternyata Petra juga anaknya Princess.. semua yang masih satu garis keturunan, akan diberikan nama dengan abjad awal yang sama..

Tak lama kemudian, dari belakang tampak Princess yang mendekat.. kami pun kabur menjauh.. Tampak Princess ingin mendekati Petra, tapi Petra tidak mau dan menjauh.. mereka tidak akur ternyata..

Lalu berikutnya, para orangutan itu sibuk bergelantungan..


Putri bermain dengan Peta.. Putri menemukan makanan, dan Princess merebutnya.. Babi hutan selalu mendekat dan juga selalu kami usir..


Puas memotret, kami berjalan ke dekat pondok, dan disitu kulihat bersandar sapu-sapu dari dahan ranting.. persis sekali dengan sapu nenek sihir..haha.. kata bang Awi, sapu itu lebih ampuh dalam membersihkan kotoran dibandingkan sapu biasa..


Kemudian aku penasaran dengan bagian belakang Camp Leakey, tapi akhirnya bang Awi, Mas’ud dan Ari hanya mau berkeliling sampai ke pondok informasi.. di pondok itu banyak terdapat foto orangutan.. pintunya dari pagar besi agar tidak dimasuki dan dicuri orangutan..


Di pondok informasi itu kami hanya nongkrong sebentar.. mereka duduk di tangga pondok informasi, sementara aku memotret sekeliling..


Di bagian depannya, terdapat panel-panel surya yang menjadi sumber listrik Camp Leakey..


Lalu kami kembali ke pondok untuk mengambil tas dan pamit.. dalam perjalanan ke pondok, aku berkata “wah, itu ada babi hutan lagi” sambil menunjuk ke sebuah jalan setapak, lalu Ari pun menyahutiku “dan ada orangutan di atasnya”.. kuperhatikan, benar juga.. orangutan itu bergelantungan sambil melihat si babi hutan..tampak ketakutan..

Di pondok, aku mengambil tas.. saat itu aku juga ditawari cemilan, tapi aku sedang malas.. Mas’ud disuguhi minuman keras entah apa itu namanya, warnanya seperti air tapi agak keruh..

Dan, kami pun kembali ke dermaga lama.. sambil berjalan, sambil berfoto-foto..


Kubilang kepada Ari “sori kalo agak norak, banyak foto-foto.. maklum anak kota” dan Ari pun menjawab “memang norak banget” sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.. haha.. mereka kan anak kehutanan, sudah biasa melihat hutan.. sedangkan aku, baru pertama kalinya ke hutan rimba seperti ini.. tak aneh kalau aku jadi sangat norak..hehe


Ketika sudah sampai di dekat dermaga, aku melihat banyak sekali pisang bertebaran.. ada 4 sisir yang masih utuh.. awalnya si Ari mengumpulkannya dan berencana untuk membawanya pulang ke Pondok Ambung.. namun ternyata di dermaga ada orang-orang yang mencuci baju.. karena sungkan, tak jadilah si Ari membawa pisang itu pulang.. pisang-pisang itu juga tidak akan dimakan oleh orangutan.. orangutan itu pemilih, pisang yang kualitasnya kurang baik pasti dibuangnya..


Kemudian, bang Awi kembali berenang ke seberang dermaga untuk mengambil perahu..


Dan, kami pun kembali ke Pondok Ambung.. Hari sudah semakin sore, suasana di Muara Ali juga semakin mencekam..


Sorenya hujan.. kami hanya makan malam, dan kemudian nongkrong di ruang kerja sambil nonton film.. lalu Mas’ud ketiduran di lantai ruang kerja dan mengorok.. tak lama kemudian aku sudah tak kuat mengantuk dan akhirnya aku memutuskan untuk ke kamar dan tidur.. Malam itu tidak jadi mencari Tarsius di hutan karena katanya Tarsius tidak akan mau muncul jika hujan maupun setelah hujan..

Tak terasa, sudah seminggu berlalu.. hari ketujuhku di Kalimantan pun berakhir..