Eight Below

Eight Below

The Real World Adventurer..

"In this life, only the fool who always start the questions of life, moreover start their life mission and purpose of money. And once beginner ask where they get money, then they will be shackled by the constraints/obstacles. And almost certainly the answer is simply no money, can not and will not be" (Rhenald Kasali - Professor of University of Indonesia)
Showing posts with label Pangkalan Bun. Show all posts
Showing posts with label Pangkalan Bun. Show all posts

Friday, December 2, 2011

Catatan Sang Peneliti: Hari Ketiga di Kalimantan Tengah..

Hari Ketiga di Pangkalan Bun..Awal dari Penelitian.. (Selasa, 1 November 2011)

Hari ini tidurku nyenyak sekali.. aku bangun jam stengah 5 dibangunkan oleh weker hpku.. rencanaku ingin ikut misa harian di greja katolik St. Paulus.. jadwalnya jam 5.15.. sambil bermalas-malasan aku pun bangkit dari tempat tidur untuk mandi.. saat mandi kusadari otot tangan dan kakiku semakin mengeras.. mungkin pengaruh kemarin berjalan kaki sambil membawa tas yang berat sejauh sekitar 10 km..

Selesai mandi, aku berberes lalu memindahkan memori foto dr hp ke hp satunya lg agar tak penuh.. aku ingin memotret bagian dalam gereja, karena jika tidak ada misa gereja itu selalu dikunci..

Karena terlalu lama berberes, aku pun terlambat berangkat ke gereja.. saat itu sudah jam 5.12 dan aku baru keluar dari hotel..

Karena sudah cukup hafal jalan dan merasa tak jauh, maka aku pun memutuskan untuk berjalan kaki ke gereja.. dan kusadari, pergelangan pahaku bengkak.. sakit rasanya, pasti karena terlalu banyak jalan kemarin..

Udara pagi masih dingin tapi sudah terang.. beda dengan Jakarta yang jam 6 pagi baru mulai terang.. Aku tiba di gereja jam 5.25, terlambat 10 menit dari jadwal.. ketika mau masuk ke gereja, aku melihat seorang anak berlutut dan naik ke mimbar di samping altar, dan ternyata misa sudah sampai bacaan pertama.. 

Aku masuk ke dalam gereja perlahan-lahan, tanpa mengambil air suci karena tidak kelihatan dimana tempatnya, sekaligus agak sungkan karena langkah kakiku ternyata terdengar oleh umat yang duduk di bagian belakang.. aku segera masuk dan duduk di bagian kanan paling belakang..

Gereja itu cukup luas dan modern.. umatnya sedikit tapi semuanya duduk berkumpul di bagian depan altar..


Seusai bacaan pertama selesai dibacakan dan pembacanya turun dari altar, sejenak diam dan tak ada yang naik ke altar untuk membacakan bacaan kedua.. hingga sang romo nyaris berdiri, dan kemudian ada seorang anak yang naik ke altar.. dari situ baru kutahu kalau misa ini dilaksanakan secara spontan, dengan kata lain petugasnya yang membacakan bacaan pertama dan kedua, memimpin lagu dan juga doa umat semuanya adalah sukarelawan dan spontanitas.. bagus juga pikirku.. jadi umat pun terlibat aktif, tidak sekedar datang saja..

Dari segi tata cara misa tak ada yang berbeda.. tempat berlututnya terlalu empuk, mungkin karena umatnya sedikit jadi jarang digunakan.. di sandaran bangku di depanku terdapat banyak amplop berisi surat, tentang permohonan dana untuk natal 2011..

Saat komuni tiba, aku memperhatikan umat-umatnya.. ada orang flores, jawa, dan aku malah tak tau mana yang dayak.. cukup banyak jg suster yang datang, sekitar 5 orang.. salah satunya yang rambutnya putih dan bertubuh kecil setelah kuperhatikan ternyata adalah orang bule..

Dalam misa itu tidak ada misdinar.. petugas saja sukarelawan apalagi misdinar.. sang romo jadinya melakukan segala halnya sendiri..

Seusai misa dan romo sudah meninggalkan altar ke sakristi, aku langsung pergi mengambil air suci dan segera ke sebelah kiri blakang gereja yang kuduga adalah sakristinya, tempat romo tadi masuk..

Dan ternyata benar itu adalah sakristi.. ruangannya sangat sempit dan dari jendelanya dapat kulihat sang romo sedang berganti jubahnya.. aku pun menunggu di luar..

Ketika romonya sudah mau keluar dan mengunci pintu, aku pun menyapanya dan bersalaman dengannya.. Aku memperkenalkan diriku kalau aku datang dari Jakarta.. tujuanku menemui romo karena tadi ketika misa aku jadi teringat tentang IYD (Indonesian Youth Day) 2012 yang akan dilaksanakan di Sanggau, Kalbar.. aku berpikir apakah paroki ini sudah mengetahui event tersebut, karena selama ini informasi hanya diedarkan melalui keuskupan masing-masing daerah saja dan itu pun tak merata, hanya sebagian yang terjangkau oleh internet..

Kutanyakan langsung kepada sang romo apakah tahu mengenai IYD, dan jawabannya ternyata tidak.. yang beliau tahu adalah WYD (World Youth Day) dan Palangkaraya Youth Day yang rutin diadakan setahun sekali.. dan kubiang bahwa ini adalah IYD yang pertama..

Lalu aku pun berbincang-bincang dengannya,cukup banyak informasi yang kudapat.. mengenai umat Katolik di Pangkalan bun tidak terlalu banyak karena termasuk minoritas.. Sedangkan yang banyak adalah Kristen Evangelis Kalimantan, dimana gerejanya adalah yang tertua di sini dan dari situ muncul banyak gereja Kristen yang beraneka ragam.. di sekeliling kota Pangkalan Bun pun juga banyak Mesjid, dimana-mana ada (tersebar).. Namun ternyata toleransi di kota ini sangat tinggi sehingga tidak pernah ada masalah dalam keagamaan.. mau mengadakan misa apapun dan dimanapun juga tidak masalah..

Aku juga bertanya tentang OMK di sini, yang ternyata jumlahnya hanya sedikit dikarenakan di kota ini sekolah katolik baru ada playgroup sampai SD, sehingga para penduduk yang beragama Katolik menyekolahkan anak-anak mereka yang akan memasuki jenjang SMP sebagian besar ke Pulau Jawa.. dengan demikian OMK yang ada di sini hanyalah anak-anak yang terpaksa sekolah di sekolah negri atau Okumene maupun OMK yang sudah bekerja.. Kegiatan OMK pun tidak ada yang besar seperti di Sanggau yang 2 tahun sekali ada Tendo Poli dimana ratusan OMK berkumpul dan disediakan ruangan-ruangan untuk per paroki, atau di Pontianak yang juga sering ada acara rutin besar-besaran.. di Paroki Pangkalan Bun ini kegiatan OMK hanya sekedar doa-doa saja, seperti doa Rosario bersama, karena jumlah OMKnya sedikit..

Di bagian belakang gereja ada pastoran yang sedang dibangun, sehingga sementara pastornya tinggal di asrama.. selain pastoran, di bagian samping depan gereja ada aula dan juga pondokan susteran.. lalu di bagian belakang gereja juga ada playgroup katolik, TK St. MariaSD Cahaya Mulia dan asrama putri.. semuanya milik paroki ini..

Pastor paroki ini hanya ada 2 orang.. Romo yang kuajak ngobrol tadi adalah Romo Yanto, berasal dari Pontianak (Kalbar) dan sudah 2,5 tahun bertugas di Pangkalan Bun ini.. beliau yang bertugas untuk memimpin misa minggu ini.. sedangkan romo yang satunya lagi, juga berasal dari Kalbar bertugas berkeliling setiap hari mengunjungi umat-umat Katolik di pedalaman untuk misa.. kedua pastor ini bergantian bertugas seminggu-seminggu.. dan biasanya mereka pergi ke pedalaman sendirian karena susah mengajak OMK karena kebanyakan sudah bekerja.. untuk ke pedalaman mereka menggunakan jenis mobil yang beroda besar dan tinggi.. Romo Yanto menceritakan itu pun kadang terhambat oleh lumpur hingga mobilnya kotor penuh lumpur dan harus saling bantu tarik-tarikan mobil bersama warga..

Umat Katolik di pedalaman ada 19 stasi, dimana 5 stasi adalah keluarga flores.. jumlah KK per stasinya beraneka ragam, ada yang hanya 2 KK dan ada yang hingga lebih dari 100 KK.. ada yang sudah memiliki bangunan gereja sendiri, ada yang menggunakan rumah umat , dan juga ada yang disediakan ruangan oleh perusahaan sawit untuk okumene..

Jarak antara Pangkalan Bun dan Sanggau tak begitu jauh, bisa ditempuh dengan jalan darat.. jika berangkat pagi hari, maka akan tiba sore harinya.. bukan karena jaraknya yang jauh, tapi terhambat ketika menyebrangi sungai Kapuas dengan kapal ferry yang hanya ada 2 unit, antrinya panjang bisa hingga 4 jam karena kapal tersebut dipenuhi mobil, padahal 1 kapal hanya mampu memuat 8 mobil saja..

Mengenai IYD, selain ternyata informasinya tidak sampai di Paroki ini, juga disayangkan jika ternyata nantinya Paroki ini tidak masuk dalam kuota peserta yang diinjinkan atau diberikan oleh Keuskupan Palangkaraya.. tapi kuharap OMK paroki ini bisa ikut terlibat nantinya, baik dalam lomba-lomba pra-IYD maupun acara IYDnya sendiri di bulan Oktober 2012 nanti..

Dari romo Yanto aku juga jadi tau tentang kayu Ulin, kalau orang sini menyebutnya kayu Bulin, yang terkenal dengan sebutan Kayu besi yaitu kayu asli yang hanya ada di Kalimantan yang semakin sering terendam air semakin kuat.. yang kutau kekuatannya memang sama seperti besi baja.. dan di sini sering digunakan untuk rumah penduduk, hingga pintu dan kusen jendelanya..

Cerita tentang kayu Ulin ini terkait dengan gereja Katedral Pontianak yang berusia 100 tahun, terbuat dari kayu Ulin ini.. Namun gereja ini akan dibongkar oleh panitia dikarenakan jumlah umat yang terlalu banyak hingga ada 6 kali misa dalam sehari sehingga gerejanya mau dibangun kembali dan diperluas.. tapi banyak umat juga sungguh sangat menyayangkan, karena selain bernilai sejarah, gereja katedral itu juga menyimpan nilai tersendiri..dana yang diperlukan untuk pembangunan katedral baru adalah 50 M, dan dana tersebut tak sulit dicari dikarenakan di Pontianak Katolik itu mayoritas dan kebanyakan adalah orang tionghoa yang pedagang..

Selesai berbincang-bincang aku pun berpamitan kepada romo, sambil membawa janji akan segera memberikan informasi mengenai web IYD dan juga event-event IYD lainnya..

Sebelum meninggalkan gereja aku ingin masuk ke dalamnya lagi tapi ternyata sudah dikunci.. lalu kemudian aku berputar-putar memotret susteran.. 


kulihat sang romo masih sibuk mengunci pintu bagian lainnya dan mengecek apakah sudah terkunci.. lalu aku ke belakang gereja lagi berharap dapat melihat sekolah dan asrama tapi aku tak tau jalan, sehingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke hotel..

Selama perjalanan ke hotel aku melihat banyak sekali yang menjual bensin, dari kemarin kuperhatikan sepanjang jalan selalu ada yang menjual bensin, mungkin karena SPBU yang kutahu hanya ada 1 di jalan Diponegoro yang menuju bandara..

Lalu aku juga melihat sebuah rumah dengan banner bertuliskan “Kami menolak sebelah rumah kami dijadikan rumah sarang walet”.. kulihat ke sebelahnya ada bangunan bertingkat yang sedang dibangun.. apa mungkin rumah modern itu akan dijadikan sarang walet?? Bingung jdnya.. tapi kuperhatikan di atas langit Pangkalan bun ini sangat banyak burung walet beterbangan dan berkumpul.. kalau orang kota sepertiku yang melihat pasti kaget, kirain ada apa karena penuh burung hingga suaranya pun terdengar keras berkicauan.. mungkin karena dikelilingi hutan jadi demikian..

Lalu di depan pintu masuk Istana Kuning, ada tugu penghargaan adipura, di depannya tersangkut kain bertuliskan “Kami siap mati melawan MK”.. hmm, trnyata di sini ada begituan juga.. tapi kalau diperhatikan di sini aman2 tentram saja..


Sampai di hotel perutku baru terasa lapar sekali dan aku pun ke resepsionis meminta jatah makan pagiku untuk segera dikirimkan.. makan pagi hari ini mie goreng plus telor goreng, dan juga secangkir teh manis hangat seperti biasanya..

Di kamar hotel seperti biasanya di sini aku menyalakan TV, saluran Sky Drama 1 (Skynindo) yang menyiarkan film-film seri Asia Timur, dan yang kutonton baru terlihat film Taiwan dan Korea.. jam-jam tertentu film dengan episode yang sama disiarkan ulang.. tapi ceritanya cukup bagus-bagus juga.. Siaran TV inilah yang menemaniku ketika sendirian di kamar hotel.. hingga aku tertidur pun sengaja tak kumatikan agar tak sepi sunyi..

Sebenarnya aku masih mengantuk, tadi di gereja pun sempat menguap.. tapi sebentar lagi aku harus pergi untuk mencari data penelitian ke instansi-instansi terkait.. katanya c Barri mau menjemput dan hanya dia yang tau jalan sedangkan Mas’ud masih buta arah.. Terpaksa diantar naik motor karena cukup jauh juga lokasinya dari hotel, tapi dekat dengan Mess mereka dan juga kantor Balai.. jadi ingat penderitaan kemarin berjalan kaki berkilo-kilo meter hingga baju basah oleh keringat dan kaki bengkak tapi masih tak juga sampai tujuan, angkotnya jarang pula.. -__-“

Sekarang aku masih menunggu Barri datang menjemputku.. aku berberes saja dulu.. aku menuliskan point-point yang kuperlukan untuk nanti mencari data di instansi..

Lalu sekitar jam 8 lewat 46 menit, aku ke bank BNI yang terletak di sebelah hotel.. aku mau menabung sebagian dari uang penelitian yang kemarin dicairkan.. menurutku 5 juta itu terlalu banyak dan tidak aman jika dibawa-bawa ke lapangan.. dengan demikian aku bermaksud menabung 2 jutanya dan membawa pergi ke lapangan 3 juta sisanya, walaupun menurutku itu masih akan berlebih tapi untuk jaga-jaga saja..

Tak disangka, dari luar kelihatannya sepi, ternyata di dalam bank sangat penuh dengan manusia yang ingin bertransaksi.. tempat duduk yang tersedia nyaris penuh.. aku mendapat nomor urut 87, sama dengan tahun lahirku.. kulihat nomor yang dipanggil baru 50an.. dan, aku pun duduk menunggu hingga hampir sejam sambil khawatir kalau-kalau Barri sudah keburu datang, tapi untungnya dia bangun kesiangan sehingga aku punya tenggang waktu lebih lama.. saking lamanya mengantri, ada seorang bapak yang akhirnya meminta tolong kepadaku menitipkan uangnya untuk ditabung ketika giliranku untuk bertransaksi tiba..

Transaksi selesai, aku segera kembali ke hotel.. dan tepat ketika aku tiba di depan pintu kamar, ada sms dari Barri yang masuk, dia sudah tiba di depan hotel.. waktu itu kira-kira jam 10 kurang..

Kemudian aku langsung bergegas mengambil tas yang sudah kusiapkan sebelumnya, dan segera turun ke bawah ke tempat Barri menungguku dengan motornya..

Segera, Barri mengantarkanku ke Balai.. akhirnya aku tahu rute jalan.. tak begitu buta lagi seperti kemarinnya..

Di tengah perjalanan, ketika sudah melewati bunderan Tugu Pancasila, tiba-tiba terjadilah hujan gerimis.. di Kota ini memang selalu hujan tiap harinya..  Barri ingin menghentikan motornya namun aku memintanya untuk tetap melanjutkan perjalanan mengingat lokasi balai yang tak begitu jauh lagi..

Sesampainya di balai, aku langsung menyeberang jalan ke Supermarket Borneo.. maksudku ingin membeli materai untuk SIMAKSI sesuai dengan sms Pak Taufik paginya.. tapi ternyata di dekat situ tidak ada yang menjual materai.. Barri menyusulku setelah memarkirkan motornya.. dan akhirnya dia berkata kepadaku bahwa dia yang akan mencarikan materai dan aku disuruh menunggu saja di dalam balai..

Tak lama kemudian Barri datang dengan membawa materai dan segera kuberikan materai itu kepada Pak Taufik..

Dan, tanpa menunggu lama, aku dan Barri segera pergi lagi ke parkiran motor, hendak pergi ke instansi-instansi terkait untuk mencari data..

Tak disangka, rantai sepeda motornya soak/aus, sehingga sering kali menimbulkan suara berdecit dan perjalanan pun menjadi tersendat-sendat.. sempat berkali-kali Barri harus memperlambat kecepatan motor ataupun berhenti..

Jumlah instansi yang direncanakan akan dikunjungi adalah total 11 instansi.. aku tak yakin akan bisa, karena aku hanya punya waktu seharian ini.. besok aku sudah berangkat ke daerah tambang..

Instansi pertama yang kami kunjungi adalah Dinas Kehutananan.. saat itu aku menggunakan sandal jepit crocs, agak khawatir jangan-jangan tidak diperbolehkan masuk..


Suasana di dalam dinas kehutanan cukup hangat dan gelap.. orang-orangnya masih lebih ramah dibandingkan dengan yang di dinas-dinas pemerintahan di Jakarta.. permintaanku langsung dilayani, hanya saja mereka sempat saling melempar karena bingung dengan tema penelitianku.. mereka mengira hanya khusus ke sosial dan penambang liar, padahal aku justru harus tahu program dan upaya dari dinas kehutanan itu sendiri mengingat daerah tambang mulanya adalah hutan yang dirambah dan berubah menjadi gurun pasir..

Akhirnya pertama-tama sang Sekretaris Kepala Dinas yang meladeniku.. kami berbincang-bincang mengenai program kerja dari Dinas Kehutanan sendiri, termasuk badan-badannya.. aku merasa sangat terbantu karena ada Barri yang aku rasa malah lebih ahli dalam bertanya.. dari situlah banyak informasi yang akhirnya kudapatkan..

Berlanjut ke bagian PKH (Kawasan), masih di dinas kehutanan.. kami bertemu dengan kepala bagiannya yaitu pak wahyu dan stafnya pak reza.. disitulah kami ngobrol sangat panjang, ngalor ngidul sampai akhirnya tahu mengenai kasus walet.. namun, aku mendapat lebih banyak lagi informasi mengenai gambaran masyarakat di daerah penambangan liar dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi mulai dari segi ekonomi hingga birokrasi pemerintahan.. hanya saja, disitu aku cukup tersiksa karena semua orang dalam ruangan itu merokok.. lama-lama bisa rusak paru-paruku, dan aku cukup sensitif terhadap asap rokok.. aku ingat ketika SMP aku pernah tidak masuk sekolah hingga 2 bulan karena paru-paruku bermasalah, akibat terlalu sering terpapar asap rokok di angkot.. akibatnya, sejak saat itu aku jadi jarang masuk sekolah hingga tak kenal dengan teman sekelasku sendiri.. padahal saat itu aku sudah kelas 3, hingga Ujian Nasional pun aku batuk-batuk parah dan dipijati oleh guru pengawas.. untunglah aku masih bisa lulus.. sejak saat itu aku anti untuk dekat-dekat dengan orang yang merokok..

Selesai ngobrol, ternyata hari sudah sangat siang.. aku dan Barri memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum ke Balai.. kami makan di tempat makan yang sama dengan kemarin, dekat dengan kantor Dinas Kehutanan..

Ketika makan itulah kami banyak berbincang-bincang.. aku memesan ayam goreng lalapan (tak berbeda dengan pecel ayam di Jakarta), dan Barri ingin mencoba sesuatu yang aneh.. dia memesan mie dengan ceker.. kemudian dia menanyakan kepada mbak pelayan, pentol itu apa.. dan mbaknya ketawa-ketawa tak jelas tanpa menjawab.. kami sempat menduga pentol itu adalah ranjau (alat kelamin sapi), dan Barri penasaran sehingga memesan mie ceker dengan pentol..

Setelah cukup lama menunggu, makanan pesanan kami pun tiba.. dan kami langsung memperhatikan pentol.. yang ternyata hanyalah bakso.. jiahh, begitu aja kok pake ketawa-ketawa si mbak.. ga da yang aneh kok dengan pentol alias bakso.. dan, kami pun segera makan sambil tetap mengobrol.. sambal ayam gorengku sangat pedas, sepertinya murni cabe tanpa tomat.. wuihh..

Ketika itu Mas’ud meng-smsku yang menanyakan posisiku dan Barri sedang dimana.. dan Mas’ud ternyata sudah di OF-UK (Orangutan Foundation United Kingdom) dan kemudian ke OFI (Orangutan Foundation International).. dia membantuku menanyakan kepada orang-orang di kedua NGO tersebut terkait dengan data yang aku perlukan untuk penelitian.. beruntung sekali aku dibantu banyak orang, ada Barri dan Mas’ud yang tak segan membantuku, padahal urusan penelitian mereka sendiri juga cukup ribet..

Selesai makan, kami segera bangkit berdiri dan membayar makanan.. tampaknya harga makanan kami tertukar.. aku bayar 14.000 dan Barri 12.000, harusnya sebaliknya.. tapi tak masalah, karena kan nanti pakai duit dari beasiswa (ga mau rugi :p), selain itu tadi yang membelikan materai juga Barri dan tidak mau diganti uangnya..

Kemudian, kami pun segera ke Balai karena sudah dipanggil-panggil Pak Taufik untuk tanda tangan dan mengambil SIMAKSI ku yang sudah jadi.. selain SIMAKSI aku juga mengcopy data dari pak Taufik terkait TNTP dan penelitian..

Tak mau membuang waktu, segera setelahnya kami langsung pergi ke Instansi pemerintah lainnya yang perlu dikunjungi melihat waktu yang sudah jam 2 siang yang berarti 1,5 jam lagi sebelum jam bubar kerja.. prioritas pertama adalah ekonomi pemda..

Dengan cepat tapi lagi-lagi tersendat rantai motor yang aus, kami bergerak menuju kompleks dinas, tepat di belokan jalan sebelah dan belakang Bank Kalteng.. nama Jalannya Sultan Syahrir.. sepanjang jalan adalah kantor-kantor pemerintahan dan juga rumah sakit daerah.. instansi-instansi yang perlu dikunjungi ada di situ semua selain di deretan jalan dekat balai.. melewati dinas pariwisata, kami berbelok ke kanan.. aku dan Barri melihat ke kanan dan kiri, mencari kantor ekonomi pemda, tapi yang kami temukan justru instansi-instansi lainnya.. dan untuk memastikan lokasinya, aku meng-sms pak Taufik menanyakan dimana kantornya berada.. dan ternyata ekonomi pemda merupakan bagian dari Sekda dan kantornya adalah di kantor Bupati.. kami pun segera memutar balik karena posisi gedung Bupati terletak tepat di belakang gedung Dinas Pariwisata..

Kompleks pemerintahan disitu luar biasa, tiap dinas memiliki lapangan tenis sendiri.. wuihh, enaknya.. Lalu di bagian ekonomi Sekda, kami bertemu dengan bapak-bapak bagian perkebunan dan kemudian diarahkan kepada ibu martina bagian ekonomi (pertambangan), ngobrol interview..

Ternyata, dinas pemerintahan di kota itu masih belum lengkap.. Tidak ada dinas pertambangan dan mineral, sehingga segala urusannya digabungkan ke ekonomi pemda yang mengakibatkan pekerjaan dan segala urusannya pun menjadi tak terfokus.. permasalahan penambangan liar ini cukup terkenal hangat namun menjadi tak terurus atau terabaikan.. program yang dilaksanakan oleh ekonomi pemda hanyalah memberikan penyuluhan dan observasi dan itupun hanya beberapa bulan sekali dan berpindah-pindah desa sehingga hampir tidak ada gunanya.. Dari stafnya, aku mendapat daftar nama para penambang liar.. namun aku pun tak yakin bahwa itu data yang valid.. dari laporannya saja kubaca sama sekali tak berbobot..dan aku sempat berdebat karena ada data yang mau kucopy tidak diperbolehkan, tapi akhirnya kucatat saja inti-intinya..  inilah pemerintah Indonesia, kinerjanya kurang, kebanyakan makan gaji buta saja.. sungguh mengecewakan.. aku merasa tak mendapat begitu banyak informasi dari ekonomi pemda ini, justru masih lebih banyak dari dinas kehutanan.. padahal ekonomi pemda katanya yang mengurusi soal penambangan liar ini..

Kulihat jam, sudah jam 3an.. sudah tidak keburu untuk ke instansi lainnya.. dan Barri mengajakku langsung ke kantor OFI.. untuk NGO masih lebih rajin karena jam kerjanya sampai malam, apalagi ada pegawai yang menginap di kantornya, jadi tidak ada jam tutup..

Lokasi kantor OFI tak jauh dari hotel tempatku menginap.. waktu hari pertama ketika tiba di kota ini aku sudah pernah melewati gang menuju kantor OFI..

Kantor OFI lokasinya agak masuk ke dalam gang.. bangunannya terbuat dari kayu, dari lantai dan juga temboknya..


Orang pertama yang kutemui adalah pegawai OFI yang tinggal disitu.. Mas Ayan kalau tidak salah namanya.. kami banyak mengobrol, soal hewan-hewan, alam, kondisi lapangan dan TNTP juga soal buaya hingga aku akhirnya mengetahui kalo dia adalah orang asli dayak.. di kantor itu ada banyak hasil ukir-ukirannya.. bentuk orangutan dari beraneka jenis kayu dan akar.. juga ada gelang dari akar rumput.. benar-benar bakat alami.. hebat..


Sayangnya Mas Ayan ini tidak mau menjual hasil karyanya untuk berbisnis, padahal ukir-ukiran seperti itu biasanya bisa dijual dari range harga 150 ribu hingga jutaan rupiah.. katanya biasanya dia hanya berikan ke tamu-tamu yang datang secara cuma-cuma.. akupun mengambil 3 buah gelang dari akar rumput, dan kuberikan uang 20 ribu sebagai gantinya.. Mas Ayan sempat bilang “lho, kok jadi jualan?” dan kubilang “gapapa, anggap saja itu bonus”.. :D


Selain itu, aku juga banyak bertanya mengenai adat setempat.. ternyata Dayak Ngaju yang katanya adalah penduduk asli yang mendiami Kalimantan Tengah populasinya sudah tinggal sedikit dan nyaris punah.. yang banyak malah orang Jawa.. Mas Ayan sendiri adalah Dayak yang umum ada di Kalimantan, bukan Dayak Ngaju.. Bakat alami orang dayak Kalteng adalah mengukir dan menganyam, berbeda dengan dayak Kalbar yang terkenal dengan magicnya.. seperti kasus Sampit, yaitu Dayak vs Madura, itu adalah dayak Kalbar yang datang ke Sampit.. bakat lahir mereka adalah magic yang memang digunakan untuk membunuh.. keren sekaligus menyeramkan, mereka bisa menghilang dan menebas langsung kepala orang-orang Madura.. kata Mas Ayan, mereka memang sudah musuh bebuyutan dengan orang Madura sejak lama..

Setelah menunggu beberapa saat, datanglah orang yang dicari yaitu Mas Fajar.. dari dialah aku mengorek banyak informasi.. hingga file-file dari dinas-dinas lainnya pun diberikannya.. dan ternyata dia ikut hadir dalam presentasiku di Balai kemarin.. NGO memang lebih banyak tahu kondisi di lapangan dibandingkan dengan pemerintah.. mereka lebih bisa mendekati masyarakat dan lebih intensif pendekatannya.. dan darinya aku diberitahu bahwa data dari ekonomi pemda memang tidak valid alias cenderung palsu.. penambang liar tak semudah itu untuk didata, apalagi oleh oknum pemerintah dikarenakan masyarakat penambang sudah terlanjur punya pandangan negatif..

Di kantor OFI, bersama mas Fajar aku memperoleh selain banyak data juga banyak solusi untuk penelitianku di lapangan.. saat itu yang paling banyak kulakukan adalah bertanya-tanya untuk mempelajari wilayah penelitian.. sambil melihat peta yang ada di dinding-dinding kantornya..


dan kuperiksa tulisan di SIMAKSI milikku.. isinya aku berhak untuk memasuki kawasan Taman Nasional Tanjung Puting di SPTN I yaitu meliputi Resort Pembuang Hulu, Resort Sungai Kole dan Resort Telaga Pulang.. 


yang kupikirkan entah kenapa adalah jalan-jalan.. kata Mas Fajar, aku memang harus menyempatkan diri untuk jalan-jalan ketika di sana.. karena kesempatan itu cukup langka.. jika menjadi turis, butuh biaya yang mahal.. 10 juta mungkin hanya cukup untuk seminggu..

SPTN I meliputi Pondok Ambung (stasiun penelitian hutan tropis) dan juga Camp Leakey (pusat rehabilitasi orangutan).. baguslah aku bisa mampir ke sana nanti.. kedua tempat itu adalah lokasi penelitian Mas’ud nantinya.. besok kami ber-3 pergi ke lapangan, dengan waktu, cara dan rute masing-masing.. Sebenarnya aku penasaran juga dengan tanjung harapan, yang ada wisma tamunya.. namun itu ternyata hanyalah hutan saja dengan jalur tracking sepanjang 22 km yang menembus ke Buguru I dan II dan termasuk SPTN II, bukan SPTN I.. tapi kata mas Fajar, aku bisa saja kalau mau ke sana karena sebetulnya aku tak perlu SIMAKSI, kan bersama dengan petugas dan pegawai dan aku juga bukan turis, jadi aku lebih bebas untuk ke resort manapun yang aku mau..

Aku cukup deg-degan dan tak sabar untuk segera ke kawasan TNTP.. Aku ngobrol dengan Mas Fajar cukup lama hingga sekitar jam 7 malam.. sore hari di Pangkalan Bun terasa seperti sudah larut malam, makanya aku merasa agak tidak nyaman untuk berlama-lama lagi di kantor OFI.. Barri sudah kusuruh pulang duluan, karena besoknya subuh-subuh dia sudah pergi ke Kumai menunggu kapal untuk ke Sungai Cabang, mengingat lokasi penelitiannya yang di ujung kawasan TNTP yang berbatasan langsung dengan laut Jawa, dan juga arus laut yang sangat kencang katanya, jadi tak bisa sembarangan berlayar di sana dan harus memperhatikan waktu-waktu tertentu ketika arus agak sedikit lebih tenang.. butuh 4 jam untuk ke sana.. wow, Barri, semangatlah! Mungkin aku tak akan bisa mampir ke sana karena terlalu jauh..

Malamnya, aku diantar pulang ke hotel oleh Mas Ayan.. sebelumnya aku diantarkan dulu ke dekat pasar untuk membeli souvenir, nama tokonya “toko souvenir Kalimantan”.. yang kubeli adalah gantungan-gantungan kunci beraneka ragam bentuk yang terbuat dari kayu, getah dan juga batu aji (batu khas kalimantan), hingga menghabiskan 50 ribu.. 1 gantungan kunci dijual 5ribu, dan kulihat gelang yang serupa dengan yang dibuat Mas Ayan dijual juga disana.. bodohnya, aku lupa membeli untuk oleh-oleh, jadi yang kubeli itu hanya terbatas untuk koleksi di rumah saja.. >.<


Lalu tak jauh dari hotel, di depannya,Mas Ayan mengantarkanku ke 1 toko souvenir lagi.. tapi ternyata isinya sama saja.. malah lebih bagus yang sebelumnya karena gantungan burung Enggangnya sesuai dengan warna burung aslinya, bukan pelangi seperti yang dijual oleh toko yang kedua itu..

Dan kemudian aku kembali ke hotel, hanya meletakkan tas dan sedikit berberes-beres, lalu keluar lagi ingin mencari tempat fotocopy.. aku baru ingat kalau aku belum memfotocopy kuesioner yang akan digunakan untuk penelitian di lapangan besok.. dan baru kali ini aku keluar hotel malam-malam.. akhirnya, bukan tempat fotocopy yang kutemukan melainkan warung-warung makan di terminal depan seberang hotel.. dan, semua warung itu menjual makanan yang sama yaitu seafood dan ayam goreng.. hingga spanduknya pun sama, hanya berbeda nama warungnya saja.. apa-apaan ini?? Begitu pikirku.. 


aku pun lalu memutuskan untuk makan pecel ayam di salah satunya.. dan ternyata kurang sedap, nafsu makanku hilang, dan sisa makananku kuminta untuk dibungkus saja.. pikirku bisa untuk besok pagi.. heran makanan di kalimantan kok ga ada yang enak ya.. :(

Aku lalu kembali ke hotel.. namun, baru saja masuk kamar, aku mendapat sms dari Mas’ud, katanya dia mau datang ke hotel bersama orang OF-UK untuk ngobrol denganku.. Tak lama kemudian mereka pun datang dan aku segera turun ke lobi..

Orang OF-UK itu aku lupa siapa namanya, Adit mungkin.. dia datang bersama Mas’ud dan Ari.. awalnya kami ngobrol di parkiran dan lalu masuk ke lobi untuk ngobrol lebih lanjut..

Aku cukup dilema karena bingung untuk besok ke lapangan mau lewat jalur darat atau sungai.. Dari pihak Balai menyuruhku pergi bersama Pak Sahidin, sang Polisi Hutan melalui jalur darat selama sekitar 4 jam perjalanan dengan motor dan memutar melewati perkebunan kelapa sawit.. Menurut Mas Fajar dan juga orang OF-UK, jalan darat lebih berat dan lama dibandingkan dengan jalur sungai, apalagi aku baru pertama kali ke sana akan lebih baik jika lewat jalur sungai dan mengenal medannya terlebih dahulu..

Jika mau lewat jalur sungai, aku bisa ikut Mas’ud besok  berangkat ke Kumai lalu menggunakan Speed boat milik OF-UK diantarkan sampai Pos Natai Tengah.. aku hanya perlu mengganti uang bensin sekitar 150 ribu, dan lama perjalanannya hanya sekitar 1,5 – 2 jam, tapi tetap penuh waspada karena jalur sungai rentan bahaya juga karena ada buaya.. di Pos Natai Tengah ada saudaranya Mas Fajar yang dulunya adalah penambang liar, dan bisa mendampingiku selama di lapangan.. 

Bingung luar biasa, aku mendiskusikannya juga dengan mengirimkan sms ke Pak Taufik.. Sebenarnya aku ingin naik speed boat saja, jalur sungai pastilah akan lebih seru.. tapi Pak Taufik mengatakan jika mau lewat jalur sungai, pihak Balai tidak mau bertanggung jawab jika terjadi apa-apa.. jika lewat jalur darat, nantinya aku akan didampingi oleh Pak Udin yang adalah tokoh masyarakat penambang liar sehingga lebih aman katanya.. Dan dengan berat hati, terpaksa aku menuruti kata Pak Taufik, dan memberitahu Mas’ud bahwa aku batal ikut dengannya besok..Namun aku meminta Pak Taufik agar diperbolehkan dan diantarkan ke Pondok Ambung di hari ke-3 nya..

Setelah urusan keberangkatan besok beres, aku pun segera tidur.. hingga jam 9 malam aku masih belum bisa tidur.. tak tenang rasanya.. malam ini adalah malam terakhirku di hotel, dan besok pagi-pagi aku harus check out.. aku tak tahu kondisi di lapangan nantinya akan seperti apa, aku cukup khawatir.. besok pagi aku juga ingin ke gereja untuk terakhir kalinya, tapi entah bisa atau tidak.. perasaanku sungguh gelisah, antara takut dan khawatir tapi juga senang karena akhirnya aku akan bisa melihat langsung Taman Nasional Tanjung Puting yang selama ini hanya kulihat foto-fotonya di internet.. Hari ketiga ku di Kalimantan kututup dengan tertidur walaupun tak bisa benar-benar pulas..

Wednesday, November 30, 2011

Catatan Sang Peneliti: Hari Kedua di Kalimantan Tengah..

Hari Kedua di Pangkalan Bun.. (Senin, 31 Oktober 2011)

Pagi pun tiba.. Jam dinding menunjukkan pukul setengah 5 pagi, TV tetap menyala, tetap di saluran Sky Drama 1.. ini hari keduaku di Kalimantan.. Rencananya pagi ini aku mau ke gereja, mencoba mengikuti misa harian..

Udara sejuk membuatku malas bangkit dari tempat tidur, aku hanya tidur-tiduran sambil menonton TV.. lalu jam pun menunjukkan pukul 5, aku segera berberes dan mandi.. selesai mandi ternyata sudah jam 5 lewat 20.. karena kelamaan beres-beres, akhirnya aku tak keburu untuk ke gereja, sedangkan misa harian dimulai pada pukul 5.15 pagi.. yah, semoga saja besok aku bisa ke gereja..

Sesuai keinginanku kemarin, hari ini aku berniat untuk membeli Coto Manggala sebelum berangkat ke Balai.. kutunggu hingga jam setengah 9, sementara aku berberes menyiapkan untuk presentasi hari ini dan barang-barang yang perlu kubawa ke Balai..

Jam 7 pagi pegawai hotel mengantarkan makan pagi ke kamarku.. menu pagi ini nasi uduk dan telur mata sapi.. lengkap dengan teh manis hangat.. dan kupikir, Coto Manggalanya nanti buat makan siang saja ah..


Jam setengah 9 kurang, aku langsung pergi ke tempat dijualnya Coto Manggala.. Kali ini aku berjalan kaki lewat jalan sepanjang deretan hotelku.. sempat kulihat sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu, benar-benar khas kalimantan.. 


lalu aku melewati Pasar dan kemudian Hotel Tiara, lalu tibalah belokan jalan tempat warung Coto Manggala berada..

Kulihat penjualnya berbeda dengan ibu yang menjual Kerupuk Rebus kemarin.. tanpa menunggu lama, aku langsung memesan 1 porsi Coto Manggala, tanpa ceker karena aku tidak suka, dan dibungkus.. kuperhatikan memang benar ternyata yang dimaksud dengan Manggala itu adalah singkong, hanya saja dilengkapi dengan ceker ayam.. harganya hanya 4 ribu rupiah saja.. murah juga..


Sambil menunggu Coto Manggala pesananku dibungkus, aku bertanya kepada bapak yang ada di situ, dimanakah Bunderan Tugu Pancasila berada.. katanya cukup jauh dari situ dan beliau menawarkan untuk mengantarku, namun aku bilang aku naik angkot saja.. untuk rute angkotnya katanya ke arah pasar baru..
Selesai Coto Manggala pesananku dibungkus, aku segera berjalan ke jalan utama, sambil melihat kea rah belakang menunggu angkot berwarna kuning lewat.. aku pun menyeberang jalan dan kemudian berhenti untuk menunggu angkot..

Tak lama kemudian, tampak angkot kuning mendekat ke arahku, dan kuberhentikan angkot itu.. kutanyakan kepada sang sopir apakah lewat Tugu Pancasila.. dan katanya, tidak ada angkot yang langsung ke sana, harus ke pasar baru dulu lalu oper angkot yang arah tugu pancasila.. ok lah, dan aku pun naik ke angkot tersebut..
Dalam perjalanan menuju Pasar Baru, yaitu hanya lurus melalui sepanjang jalan sederet dengan hotel abadi, aku melihat sebuah masjid besar dan aku lalu berniat untuk memotretnya nanti setelah pulang dari balai.. dan tak lama kemudian tibalah aku di pasar baru.. saat itu aku kurang memperhatikan situasi di pasar tersebut, dan aku langsung diarahkan oleh sang sopir untuk berganti angkot menuju tugu pancasila..

Angkot tersebut juga berwarna kuning.. Tampaknya di Pangkalan Bun ini hanya ada 1 warna angkot yaitu kuning, walaupun rutenya berbeda.. Selain itu, angkot-angkot juga selalu sepi penumpang, seperti angkot yang baru saja kutumpangi tadi penumpangnya hanya aku seorang.. Namun, ongkosnya tetap 2.500.. mungkin sudah standar di sana.. bedanya angkot Pangkalan Bun dan Jakarta yaitu angkot Pangkalan Bun tidak mengenal ngetem.. walaupun penumpangnya hanya ada 1 orang, atau bahkan tidak ada penumpang sama sekali, angkot pun tetap berjalan dan jarak antar angkot yang satu dan berikutnya juga tak begitu jauh, cukup banyak armadanya..

Kulihat angkot tujuan tugu pancasilanya kosong dan tidak tampak pengemudinya.. angkot itu diparkir di pinggir jalan.. dan kulihat angkot yang tadi kutumpangi menuju kea rah tanjakan yang sama dengan rute angkot tujuan tugu pancasila, dan kupikir kenapa sang sopir bukannya menurunkan aku di ujung jalannya saja, kalo begini kan nanggung.. karena ragu harus bertanya kepada siapa, akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kaki..

Sempat kutanyakan kepada orang yang sedang berada di sekitar situ mengenai arah menuju tugu pancasila.. katanya lurus di tanjakan itu, lalu di pertigaan ke kanan sampai nemu lampu merah langsung ke kiri lurus aja.. sekitar 7 km..

Lalu aku pun berjalan kaki.. menanjak, cuaca cukup panas sehingga aku merasa cukup lelah.. di pertigaan aku berbelok ke kanan, seperti arahan orang yang tadi kutanyai.. sepanjang jalan mirip sekali, tak beda dengan jalan di dekat istana kuning.. kalau begini aku jadi buta arah..

Di dekat belokan kulihat tempat makan yang ada semacam bakulnya, dan ternyata itu adalah Soto Kwali.. tempat makan yang sempat di bicarakan di salah satu blog yang kubaca sebelum berangkat ke Kalimantan.. penasaran ingin mencoba, tapi tak punya waktu, jadi aku hanya bisa berharap suatu saat menyempatkan diri kesana..mungkin lain kali aku bisa mencobanya..


Kesalahanku yang baru kusadari kemudian adalah aku langsung berbelok ke kiri, bukan di lampu merah.. Ketika itu, aku melalui jalan yang jarang rumah.. sepanjang kiri dan kanan jalan adalah pohon.. 


dan kulihat ada beberapa orang yang berjualan hewan peliharaan seperti ayam, kelinci, burung, dsb.. dan sempat kutanyakan kepada seorang bapak yang berjualan hewan tersebut, apakah arah jalan ini benar menuju tugu pancasila dan katanya “benar, tapi jauh lho neng” dan kujawab “gapapa pak, sudah terlanjur jalan”.. lalu kulanjutkan perjalananku dengan berkeringat karena cuaca yang cukup panas..

Sampai di ujung jalan adalah pertigaan.. aku bingung harus ke kanan atau ke kiri.. lalu aku ke kiri dan menyeberang jalan, menanyakan kepada seorang bapak yang sedang menuntun motornya yang rusak.. kutanyakan untuk ke tugu pancasila lewat kiri atau kanan, dan jawabnya adalah dua-duanya bisa.. lalu kutanyakan lebih dekat mana, dan katanya ke kanan., dan lagi-lagi katanya “tapi jauh lho dek” dan kujawab lagi “gapapa pak”..

Aku meneruskan berjalan ke kanan.. yang muncul di pikiranku adalah “ternyata pangkalan bun luas juga, tak sesempit yang kukira” dan di sepanjang jalan itu suasananya seperti di pinggiran kota, tidak seperti di daerah sekitar hotel yang merupakan pusat kota..

Sebenarnya aku sudah sangat lelah, selain berkeringat juga terbebani beratnya tasku dikarenakan aku membawa laptop untuk presentasi di balai.. tapi apa daya, tak tampak satu angkot pun yang lewat.. dan aku berusaha berjalan lebih cepat.. selama perjalanan itu aku sempat melihat 2 ekor anjing sedang berteduh di bawah mobil.. warna hitam dan coklat muda agak putih berukuran sedang agak besar.. kupikir, di kota ini memang sangat jarang ditemui anjing ataupun kucing, kuingat-ingat selama 2 hari ini aku baru bertemu dengan total 4 ekor anjing dan beberapa ekor kucing.. heran kemana semua hewan-hewan itu..

Setelah berjalan cukup lama, tibalah aku di ujung jalan yang tak lain tak bukan adalah kuburan.. lagi-lagi pertigaan.. dan kutanyakan kepada orang yang ada di situ, jalan menuju ke tugu pancasila adalah ke kiri, lurus saja, dan katanya “jauh lho dek” dan untuk ketiga kalinya kubilang “gapapa, tanggung sudah terlanjur berjalan kaki”..

Alasanku tidak mau naik ojek adalah karena masih percaya dengan kata orang yang jarak ke tugu pancasila adalah 7 km.. bagiku 7 km harusnya tidak jauh karena aku sudah pernah berjalan kaki lebih dari itu.. tapi, entah mengapa, mungkin karena cuaca juga, aku merasa lelah sekali dan rasanya jarak ke tugu pancasila itu lebih dari 7 km.. perkiraanku aku sudah berjalan kaki sekitar 10 km.. tapi kok ga sampai-sampai ya?? Aneh..
 Setelah lama berjalan, aku akhirnya menyadari “tampaknya aku tersesat”.. aku pun segera sms Mas’ud dan dia ternyata tidak tahu jalan.. sempat aku melihat beberapa angkot kuning lewat, tapi karena aku berada di seberang jalan, tak mungkin aku menghentikan angkot tersebut..

Bodohnya, aku tetap berjalan kaki hingga kulihat Bank Kalteng yang tampak tak asing karena pernah kulewati ketika kemarin naik Taksi dari bandara.. kupikir, harusnya bunderan tugu pancasila tak jauh dari situ..

Tak lama kemudian, kulihat jam sudah hampir jam 10.. lalu ada telpon dari Pak Taufik yang menanyakan aku berada di mana.. dan kukatakan bahwa aku pun tak tahu jalan, namun aku baru saja melewati Bank Kalteng..dan aku hanya seorang diri, tidak bersama siapapun..

Baru berjalan beberapa jauh, tiba-tiba ada pengendara motor yang berhenti di sampingku sambil senyum-senyum dan kemudian memanggilku “Gracia ya?” jawabku “iya, siapa ya?” dan ternyata itu adalah Pak taufik.. setelah bersalaman dan diberikan helm, aku pun langsung naik ke motornya..

Pak Taufik kemudian mengemudikan motornya, berputar balik karena aku berada di jalan yang berlawanan arah, dengan cepat menuju ke Balai.. ternyata jauh juga jarak dari tempatku terakhir berjalan kaki hingga tugu pancasila.. ketika itu Pak Taufik bercerita bahwa smsnya yang mengatakan aku manja dan bla bla bla itu ternyata disengaja untuk mengetes apakah aku memang punya tekad yang kuat atau tidak..dan katanya tidak mungkin jika aku tidak diurusi atau dibiarkan di sini..

Akhirnya, kulihat bunderan tugu pancasila.. seperti kata Mas’ud, Mess arahnya ke kiri bunderan tugu pancasila, sedangkan Balai ke kanannya.. di dekat bunderan tugu pancasila terdapat monumen pesawat, tempat penerjunan pertama.. di kota ini semuanya disebut bunderan karena memang banyak yang bunder-bunder tamannya..haha..

Berbelok ke kanan, masuklah ke daerah yang asri.. sepanjang jalan, di kanan-kirinya kulihat gedung-gedung pemerintahan.. dari Bappeda, Dinas Kehutanan, Keamanan, BLH, dsb.. tampaknya daerah itu memang dikhususkan untuk pusat gedung pemerintahan daerah.. jalan ke balai ternyata cukup jauh.. lalu kulihat sebuah rumah mewah dengan halaman yang luas, dan ternyata itu adalah rumah Bupati.. selang 2 rumah dari situ adalah kantor Balai Taman Nasional Tanjung Puting.. Akhirnya.. aku tiba juga di balai, ga jadi ke mess d.. yang berarti ga jadi buka internet.. :(

Kemudian sesampainya di dalam kompleks gedung Balai, aku segera turun dan masuk ke dalam.. tapi sempat bingung karena tak tahu harus kemana.. dan kulihat seorang pemuda yang sedang duduk-duduk bersama yang lain sedang senyum-senyum melihatku yang kebingungan.. dan dia lalu bertanya kepadaku “mau presentasi ya?” jawabku “iya”.. “masuk aja langsung ke dalam” lanjutnya sambil menunjuk ke ruangan tengah.. tapi aku tak langsung masuk ke dalam, aku menunggu pak taufik.. dan, akhirnya aku ingat, pemuda itu adalah Barri, salah satu dari penerima beasiswa penelitian, aku sempat melihat rupanya di facebook..

Saat itu aku menerima sms dari Mas’ud yang menanyakan posisiku dimana, dan kubilang bahwa aku sudah sampai di Balai, tadi dijemput Pak Taufik..

Pak Taufik pun masuk ke gedung dan menyarankan aku untuk segera masuk ke ruangan tengah.. kuiyakan dan aku pun masuk ke ruangan tersebut, bersama dengan Barri..

Dan ternyata, sudah banyak orang yang menunggu di dalamnya.. ternyata mereka berkumpul untuk menungguku presentasi.. aku pun jadi deg-degan karena tak menyangka aku akan disidang seperti itu..
Sambil menyalakan laptop untuk presentasi, aku mengamati sekitar.. orang-orang yang ada di ruangan itu dan juga suasananya.. lalu datanglah seorang pemuda lagi, duduk di sebelahku dan Barri dan ternyata itu adalah Mas’ud.. rambutnya tampak beda, lebih pendek dibanding yang difoto yang kribo mengembang.. hoho

Dan kemudian, presentasi pun dimulai.. entah mengapa rasanya aku jadi gugup.. bicaraku pun tersendat-sendat.. selain itu, tak seperti bayanganku yang akan berjalan mulus.. nyatanya terlalu banyak sanggahan dan saran juga kritik, kebanyakan berkaitan dengan keterbatasan waktuku untuk penelitian di lapangan, yang tidak sampai satu minggu.. juga mengenai kondisi lapangan yang ternyata tidak seaman yang aku kira.. ternyata daerah penambang liar adalah daerah konflik.. belum lagi sempat ada penangkapan yang mengakibatkan suasana menjadi rusuh, ada pos jaga yang dibakar.. wow, sungguh menyeramkan.. selain itu jaringan perdagangan hasil penambangan liar ini seperti mafia, jaringannya rumit dan sulit untuk diselidiki.. sepertinya judul tesisku harusnya diubah jadi manajemen konflik aja x ya.. yah, setelah diserbu dengan berbagai pertanyaan, akhirnya selesai juga.. katanya kalau ada si kepala balai (pak gunung) bakal lebih ribet lagi urusannya.. untunglah orangnya lagi ke Jakarta..

Ok, hari yang entah baik atau buruk.. sepertinya penelitianku ini seru, menegangkan, tapi sekaligus berbahaya.. banyak tantangan tergantung bagaimana akunya di sana bersikap.. dan alamnya, ternyata luar biasa.. ternyata taman nasional tanjung puting selain sangat luas di luar dugaan yaitu sebesar 415.000 hektar hingga dibagi-bagi menjadi beberapa resort (wilayah kerja dan pengawasan), juga dikelilingi oleh sungai dan berujung di laut jawa, banyak spesies aneh (endemik/langka) dan banyak buaya berukuran besar di sungai-sungainya.. aku sempat ditanyai apakah aku bisa renang? Apakah aku bisa melawan buaya? Fiuhh, semoga saja tidak terjadi apa-apa.. rencananya kalau bukan besok, ya besok lusanya aku akan ke daerah penambang diantar oleh Pak Sahidin, seorang polisi hutan.. nah, dari situ saja sudah terbayang seberapa bahayanya daerah itu..sampai-sampai harus diantar oleh polisi hutan.. huff…

Seusai presentasi selesai, aku masih di dalam ruangan rapat.. mengumpulkan data sekunder dari seorang bapak.. lalu kemudian berputar-putar, masih di dalam balai untuk mengurus segala administrasinya.. kemudian aku diberikan uang tunai 5 juta yang adalah pencairan pertama dari beasiswa.. Namun, dana yang dicairkan bukanlah berarti semuanya untukku.. pengeluaran tentunya harus ada tanda buktinya, dan sisa dananya harus dikembalikan.. maklum, dana ini bagian dari anggaran pemerintah (katanya)..


Hari sudah siang, kulihat jam sudah sekitar jam 1an.. anak-anak yang lain (Barri dan Mas’ud) menungguku.. mereka sudah dipesani untuk menjagaku.. inilah enaknya menjadi seorang cewek, tepatnya hanya cewek satu-satunya di antara para pria, dijaga..haha..

Hari semakin siang, sudah saatnya makan siang.. dan kami ber-3 pun akhirnya memutuskan untuk pergi makan.. tak jadi makan Rajungan masakan Mas’ud melainkan pergi ke rumah makan yang tidak jauh dari Balai, di dekat Dinas Kehutanan..

Barri dan Mas’ud mendapat pinjaman motor dari Balai.. Lalu aku digonceng oleh Mas’ud ke tempat makan, sementara Barri menjemput temannya Mas’ud yang ikut menemani Mas’ud penelitian..

Di tempat makan, kami banyak berbincang-bincang mengenai tema penelitian dan diri masing-masing.. Mas’ud kuliah di UGM - Jogja jurusan kehutanan dan tema penelitiannya adalah tentang Tarsius, hewan semacam monyet berukuran kecil dan bermata lebar yang nocturnal (aktivitasnya di malam hari). Sedangkan Barri kuliah di Undip – Semarang jurusan Biologi dan tema penelitiannya adalah tentang identifikasi penyu.. Sebenarnya Barri ahli genetika dan mau meneliti genetik penyu, namun karena permintaan pak gunung, akhirnya topik penelitiannya pun diubah.. Mereka berdua, dan temannya Mas’ud yang bernama Ari semuanya adalah angkatan 2007, yang berarti lebih muda 2 tahun dariku..

Dari mereka, aku jadi mendapat tambahan pengetahuan mengenai hewan-hewan dan juga alam.. walaupun aku suka dengan alam, tapi yang kutahu hanya sekedar jalan-jalan saja, sedangkan mengenai satwa dan tumbuhan yang ada di dalamnya, aku tak tahu apa-apa..

Kami pun kemudian memesan makanan, dan aku hanya memesan nasi putih dikarenakan sudah membeli Coto Manggala tadi pagi.. Coto Manggala rasanya cukup sedap dan segar, hanya saja kalau kebanyakan jadi enek.. satu bungkus Coto Manggala itu kubagikan dengan Barri dan Mas’ud, dan itu pun tidak habis.. sungguh mengenyangkan..

Lalu dari mereka aku juga diceritai mengenai Mess.. ternyata berbeda dengan pusat kota, daerah agak pinggir seperti dekat mess TNTP (Taman Nasional Tanjung Puting) justru banyak yang jualan makanan dan juga ada pasar.. oleh karena itulah Mas’ud bisa berbelanja Rajungan.. segalanya ada di daerah Mess (katanya) termasuk WiFi.. uh, enaknya..

Selesai makan, kami mampir sebentar ke tempat fotocopian di dekat situ.. ada dokumen yang harus kufotocopi..

Aku pun akhirnya menyadari bahwa bahasa favorit di kota itu yaitu yang berakhiran “kah?” unik jg pikirku..

Kemudian kami kembali ke Balai.. namun sesampainya di Balai aku langsung menyeberang ke dekat Supermarket Borneo.. Aku diminta mamaku untuk mentransfer uang melalui ATM dikarenakan kartu ATMnya kubawa.. di dekat supermarket itu hanya ada 2 macam ATM, yaitu BNI dan Mandiri.. untungnya aku menggunakan BNI, jika tidak tentunya akan susah karena di daerah seperti itu tidak semua bank ada.. Mamaku menggunakan BCA dan aku diminta mentranfernya ke BCA.. namun, ketika memilih kode bank, aku tak berhasil menemukan tulisan BCA.. hingga beberapa kali kuulangi membaca satu-persatu tetap tak ku temukan.. Kemudian aku berpindah ke ATM Mandiri.. bisa menggunakan ATM bersama, kupikir mungkin ada BCA.. namun ternyata juga tidak ada.. Mungkin karena BCA belum masuk ke daerah ini, maka hingga koneksinya pun juga tidak ada..

Lalu aku kembali ke Balai, maksudnya ingin mengambil SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) namun kata Pak Taufik besok saja dibuatnya.. 


dan, jam menunjukkan sekitar pukul 3 sore.. sudah tidak keburu untuk mengambil data di instansi-instansi terkait dikarenakan kantor pemerintah di kota itu tutup pada pukul setengah 4.. enak sekali pikirku, padahal di Jakarta jam 5 baru pulang kerja.. Kemudian, aku memutuskan untuk kembali saja ke hotel.. Barri yang ditugaskan untuk mengantarkanku dan menemaniku besoknya ke instansi-instansi terkait..

Sebelum pulang, kami ber-4 berfoto-foto dulu di depan kantor Balai bersama patung orangutan.. 


kemudian Barri mengantarkanku kembali ke hotel.. ternyata dia yang paling tahu jalan, dibandingkan dengan Mas’ud yang cukup buta arah..hoho

Di perjalanan, aku meminta Barri untuk berhenti sebentar di depan tugu pancasila karena aku ingin memotret tugu tersebut.. Barri menghentikan motornya di depan Monumen pesawat, yang ternyata bernama Monumen Palagan Sambi, yaitu monumen tempat penerjunan pertama.. 


Lalu aku pun segera memotret tugu pancasila, namun sayangnya hasil fotonya jadi gelap karena backlight.. 


dan kemudian aku minta difoto oleh Barri di depan monumen pesawat, tetap dengan membawa helm.. :)


Selesai berfoto, kami pun melanjutkan perjalanan.. mengantarkanku menuju hotel.. dan ternyata, jalan menuju hotel itu sangat sederhana.. hanya lurus mentok dan belok sedikit, sudah sampai di jalan depan hotel.. pantas saja waktu itu aku berjalan kaki jauh sekali, ternyata itu memutar.. aslinya memang 7 km, tak begitu jauh.. huh.. rugi d..

Jalan di kota ini sepi dan jarang kendaraan, tapi tetap ada lampu merah.. Kulihat penduduk kota ini disiplin terhadap peraturan. Mereka tetap menggunakan helm dan tidak menerobos lampu merah walaupun tidak ada polisi dan jalanan sepi.. hmm, hebat dan patut dicontoh..

Barri mengantarkanku sampai ke depan hotel dan berjanji akan menjemputku besok pagi.. lalu aku pun masuk ke dalam hotel dan mendapatkan snack sore kue coklat dan teh manis hangat..


Seusai makan snack, aku keluar hotel lagi, berjalan menuju masjid besar.. tujuanku hanya ingin memotret masjid tersebut..

Dalam perjalanan menuju masjid, kulihat ada banyak orang berjualan buah.. ada nangka utuh sebutir.. ingin beli tapi takut tak sempat makannya karena besok sudah mulai sibuk untuk urusan penelitian.. akhirnya aku tak jadi beli, hanya memandangi dengan muka pengen sambil lewat..

Tak lama kemudian, sampailah aku di depat masjid besar..nama masjid itu Sirajul Muhtadin.. di sampingnya ada bangunan yang sepertinya adalah pasar..


Hari semakin sore, suasana semakin gelap, maka aku pun segera kembali ke hotel.. dan kulihat warna langit di sore hari sungguh indah..



Malamnya aku memutuskan untuk tidak makan malam, malas rasanya.. Hari keduaku di Kalimantan pun berakhir..Kuakhiri dengan menonton Sky Drama 1 sambil smsan dan kemudian tidur..

Wednesday, November 16, 2011

Catatan Sang Peneliti: Hari Pertama di Kalimantan Tengah.. (Part 2)

Hari H, Hari Keberangkatan.. Jakarta-Sampit-Pangkalan Bun.. (Part 2)

Kota Pangkalan Bun ini ternyata masih sangat asri.. tidak terlihat sampah berserakan di jalan, udaranya pun terasa sejuk.. Dan, pesona kota ini dilengkapi dengan pemandangan langit yang menawan yaitu awan bergumpal-gumpal dengan indahnya.. Tampaknya awan di langit Kalimantan posisinya sangat dekat dengan daratan, berbeda dengan awan di Pulau Jawa yang tampak jauh di atas langit..


Cuaca di kota ini pun tampaknya memang tak pernah benar-benar cerah, tampak kondisi langitnya yang selalu berawan dan ada hawa-hawa lembab yang menandakan akan hujan.. Menurut sopir Taksi yang tadi mengantarku dari Bandara, di kota ini setiap hari pasti hujan.. tak heran jika lembar demi lembar uang kertasku kutemukan berjamur di dalam dompetku.. udara lembab tentunya sangat kondusif untuk pertumbuhan jamur, dimanapun itu..

Kuamati sekelilingku, selain asri kota ini juga terasa aman dan nyaman.. tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang, begitu pula dengan penduduknya tampaknya hanya sedikit.. jalan kaki berkeliling kota ini pun tampaknya bukan masalah.. justru terasa menyenangkan karena bisa mengenal kota ini lebih dekat, langkah demi langkah perjalanan kakiku membawaku pergi..

Ketika sebelum berangkat ke Kalimantan, aku sempat bingung karena tidak menemukan informasi mengenai lokasi ATM BNI, yang kutemukan hanyalah banknya saja.. dan ternyata, posisi bank dan ATM BNI yang kucari-cari ada tepat di sebelah Hotel Abadi tempatku menginap, hanya terhalang oleh sebuah warung dan gang kecil.. Tentu saja mengetahui hal tersebut membuatku merasa dimudahkan untuk keperluan transaksi apapun yang suatu saat aku perlukan..


Sambil berjalan menuju Istana Kuning, kulihat bangunan-bangunan di kanan kiri jalan memiliki corak yang khas, selain bentuk atapnya yang khas gadang (kayu bersilang), juga kulihat semacam ukir-ukiran dayak pada beberapa pilar tembok.. Selain itu juga masih banyak ditemukan jenis rumah panggung (rumah gadang) yang terbuat dari kayu..
Tak jauh dari hotel, sederet, terdapat sebuah rumah dengan taman yang ada kolam ikannya.. terlihat asri dan cerah.. menurut informasi itu adalah rumah pegawai bupati jika tidak salah ingat..



Semakin dekat dengan Istana Kuning, tepat di samping kompleks taman Istana Kuning terdapat Taman Semangat’45.. Taman ini kecil dan mungkin jarang dikunjungi orang, tapi cukup lumayan untuk sekedar duduk-duduk dan di dalamnya terdapat sebuah kolam ikan..


Di depan Taman Semangat 45 itu terdapat sebuah tempat sampah yang terdiri dari 2 bagian, yaitu untuk organik dan anorganik, tapi salah satunya pintunya sudah hilang, tampaknya tempat sampah ini tidak terpelihara.. di dalam tempat sampah itu nyaris tidak ada sampah, mungkin sudah diangkut karena aku sempat melihat ada truk sampah yang lewat.. kota ini ternyata sudah memiliki sistem pengangkutan sampah.. lumayan juga, hanya saja masih kutemukan sampah berserakan di tepi tempat sampah kayu tadi.. sudah berupa gundukan rendah, entah mengapa tidak ikut diangkut oleh truk sampah.. Hal ini membuat pemandangan buruk saja, untungnya posisinya di belokan dekat tiang listrik dan tanaman sehingga tak begitu tampak jika dilihat hanya sekilas saja..


Aku pun kemudian melanjutkan perjalanan, menyusuri bagian samping kompleks taman Istana Kuning, pemandangan langit sungguh indah..


Awalnya aku mau masuk ke Istana Kuning melalui samping taman.. namun kulihat ada tugu di dalam taman, dan aku pun berputar masuk melalui bagian depan taman.. Tugu di taman itu hanya sekedar tugu dengan bulatan yang dijadikan kolam ikan.. memang tak ada sampah tapi tampaknya tak dirawat karena warna catnya sudah agak luntur..


Lalu aku berjalan ke arah tangga masuk Istana Kuning.. kulihat dari bawah, tulisan “Istana Kuning” di bagian kanan kiri tangga sudah rusak, ada beberapa bagian yang sudah hilang..lagi-lagi tak terpelihara..


Sebelum memutuskan untuk menaiki tangga, kulihat pintu gerbang Istana tampaknya dikunci.. kebetulan ada anak-anak kecil yang lewat dan kutanyakan langsung kepada mereka apakah pintunya buka dan kata mereka tidak, bukanya di bagian sampingnya.. Lalu aku pun langsung berjalan ke sisi samping taman, meloncati pagar pendek taman dan menaiki tangga di samping kompleks taman Istana Kuning..

Setelah menaiki tangga yang cukup panjang, akhirnya aku pun tiba di pintu gerbang samping Istana Kuning.. pintu itu terbuat dari kayu..


Awalnya aku sempat bingung bagaimana caranya membuka pintu gerbang itu.. Lalu ada seorang bapak yang tadinya berada di warung di sebelah pintu gerbang yang bertanya aku dari mana, kujawab dari Jakarta.. lalu bapak itu membukakan pintu gerbang dan menemaniku masuk ke dalam Istana..

Istana Kuning, terbuat dari kayu, bentuknya pun khas Kalimantan berupa rumah panggung dengan atap yang khas, rumah gadang..


Aku pun masuk ke dalam bangunan kayu tersebut.. bagian dalamnya ternyata cukup terbuka, ada beberapa sisi yang tidak ada tutupannya sehingga bisa melihat keluar dengan mudahnya..


Di salah satu ruangan terdapat deretan foto para Sultan, turun temurun.. namanya pun serupa, diawali dengan “Sultan Ratu…” dan nama belakangnya hanya seperti dibalik-balik.. ga kreatif pikirku..

Di sudut ruangan itu terdapat sebuah kereta kuda dengan hiasan di bagian depannya berbentuk kepala burung garuda..


Dan di sudut ruangan satunya terdapat rangkaian bunga ucapan selamat untuk penobatan Sultan..


Namun, di belakangnya terdapat sebuah ruangan yang dikunci yang tampak penuh dengan bunga ucapan turut berduka cita.. ternyata, kata bapak yang menemaniku, baru beberapa hari lalu ada istri pangeran yang meninggal, masih muda katanya..


Kemudian aku melanjutkan melihat-lihat ke lantai bagian atas, yang ternyata hanya ruang kosong terbuka untuk melihat pemandangan kota Pangkalan Bun.. dari atas pemandangannya memang cukup indah, terasa semakin dekat dengan awan..


Tak lama kemudian aku turun kembali, melihat ke ruangan lainnya.. ada sebuah ruangan terbuka dengan pintu kayu yang di atasnya terdapat lambang Kotawaringin Barat..


Setelahnya, aku kembali ke ruangan yang tadi pertama kali aku masuki.. di bagian ujungnya, dekat ruangan tempat bunga ucapan turut berduka cita,  terdapat sebuah pintu kecil dengan lambang Kotawaringin Barat.. itu adalah pintu masuk menuju kediaman Sultan..


Selesai melihat-lihat di bagian dalam, aku keluar dan memotret bagian luar bangunan Istana Kuning tersebut.. Lalu berfoto..



Si bapak yang menemaniku menawarkan untuk mengantarkanku ke pemandian putri.. aku kira tempatnya dekat dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tapi ternyata tidak dan harus menggunakan motor, jadinya aku memutuskan untuk tidak jadi pergi ke sana.. konon katanya mandi di pemandian putri tersebut bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit..

Puas berfoto, aku memutuskan untuk kembali ke hotel, setelah memberikan tips sukarela untuk si bapak yang sudah menemaniku dan memotretku, dan setelah memotret sebuah masjid kecil yang terdapat tepat di seberang kompleks taman Istana Kuning..


Di dekat hotel, tepat di persimpangan jalan ada banner iklan Bank Kalteng yang dibawahnya tertulis logo kota “Pangkalan Bun kota Manis”.. kata “Manis” di sini merupakan singkatan dari Minat, Aman, Nikmat, Indah dan Segar..entah kenapa dijuluki seperti itu.. untuk aman dan segar memang benar.. tapi minat dan nikmat maksudnya apa toh?? Bingung..


Kulihat jam, masih siang sekitar jam 11, tapi entah mengapa suasananya seperti sudah sore sehingga membuatku malas untuk bepergian.. belum lagi rasa kantukku akibat bangun di subuh hari karena jadwal keberangkatan pesawat yang jam 6 pagi menambah rasa malasku untuk banyak beraktifitas.. Di hotel, aku pun tidur siang.. terlelap..

Aku terbangun sekitar jam 12an, tapi masih malas untuk bergerak apalagi pergi keluar untuk mencari makan siang..

Selama sekitar sejam aku bermalas-malasan di ranjang.. sambil menonton TV.. ada satu saluran yang akhirnya menjadi saluran favoritku karena menayangkan khusus film-film Taiwan dan Korea, nama salurannya “Sky Drama 1” dan nama perusahaannya “Skynindo”.. Film-filmnya ternyata bagus juga ceritanya..

Jam menunjukkan sekitar pukul 1 siang.. kuputuskan untuk bangun dan pergi mencari makan siang.. masih malas dan ngantuk.. aku lalu turun ke lobi dan bertanya kepada pegawai hotel, kalau mau beli soto manggala naik angkotnya arah ke kanan atau kiri dan katanya kanan..

Di depan hotel, setelah menyeberang, aku lalu memberhentikan sebuah angkot kuning yang lewat.. kutanyakan mengenai soto manggala dan katanya arahnya sebaliknya..


Kemudian aku menyeberang jalan lagi.. menunggu angkot kuning ke arah sebaliknya.. Angkot di pusat kota ini cukup banyak biarpun penumpangnya sering kali tidak ada atau Cuma 1 orang, tapi angkot tetap jalan terus tanpa ngetem.. sungguh berbeda dengan angkot-angkot di Jakarta, kalau belum penuh dengan penumpang sampe ga muat lagi, ga akan jalan dan pasti ngetem lamanya bukan main..

Angkot pun datang, kutanya ke sopirnya tapi Cuma bilang iya iya.. aku naik aja.. dan kutanyakan ke penumpang lainnya tapi tidak ada yang tahu..

Jalur angkotnya melewati persimpangan jalan yang dekat dengan hotel, berbelok ke kiri lalu ke kanan dan melewati pasar.. hingga akhirnya angkot berhenti, aku diturunkan di sebuah warung yang kata sopir yang tak ramah dan mukanya ketekuk itu adalah warung soto manggala..

Setelah membayar dengan ongkos 2.500, seperti saran sopir taksi yang mengantarku dari bandara ke hotel, aku pun langsung mendekati warung tersebut.. dan kulihat tidak ada tulisan soto manggala.. warung itu hanya menjual semacam ayam goreng..

Karena bingung, aku lalu menanyakan langsung kepada si penjaga warung dan katanya soto manggala ada di pojokan jalan di perempatan..

Sesampainya di perempatan, aku bingung lagi.. di bagian kiri ada warung kecil yang namanya sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh si penjaga warung sebelumnya.. tapi kok tak tampak tanda-tanda adanya soto manggala di situ.. aku ragu dan memutuskan berputar-putar di dekat situ..

Di bagian kanan jalan, terdapat warung terbesar yang kulihat di kota itu, namanya aku lupa, tapi itu adalah warung yang kutahu disarankan oleh seseorang di blog yang pernah berkunjung ke kota ini.. tapi, tampaknya warung itu juga tidak menjual soto manggala..


Lalu ada mas-mas yang sedang meletakkan kardus di plafon warung kecil yang dijadikan petunjuk jalan tadi, dan kutanyakan kepadanya mengenai soto manggala.. akhirnya ada orang yang tahu juga.. ma situ menunjukkan lokasi tepat tempat soto manggala dijual, yaitu di belokan ke kanan, melewati 2 warung yang jual bensin.. tapi katanya soto manggala itu biasanya hanya dijual di pagi hari.. Tapi, aku tetap penasaran sehingga berjalan ke lokasi yang ditunjukkan oleh mas tersebut..

Sesampainya di depan warung yang dimaksud, aku tak menemukan tanda-tanda dijualnya soto manggala.. tapi disitu dijual makanan juga, ada tempat arang untuk membakar, ada cangkir bumbu dan juga sekotak bahan mentah yang tak kutahu itu makanan apa..


Seorang bapak yang duduk di dekat meja bertanya kepadaku “cari apa dek?” dan kujawab bahwa aku mencari soto manggala.. dan ternyata katanya soto manggala hanya dijual di pagi hari.. yang dijual sore itu namanya kerupuk rebus, itu katanya juga titipan orang.. karena sungkan akhirnya aku membelinya, Rp 1rb per tusuk.. kulihat bumbunya, baunya seperti pempek dan ternyata kata si bapak itu memang serupa, dari bahan ikan yang sama.. tapi ini bisa dimakan langsung atau dibakar dulu..


Kuamati kerupuk rebus itu, sambil ngobrol dengan si bapak sementara si ibu bersiap membakar kerupuk pesananku..


Warung itu letaknya di depan kantor kecamatan..


Dari si bapak aku diberitahu kalau namanya bukan soto manggala melainkan coto manggala, terbuat dari manggala atau singkong.. aku mendengarkan sambil membayangkan rupa coto manggala itu seperti apa.. dan jam jualannya ternyata sekitar pukul setengah 9 pagi.. dengan si bapak aku juga mengobrol banyak mengenai kota itu, mengapa aku datang kesini, dan sebagainya.. penduduk di kota ini ramah-ramah kecuali sopir angkot tadi.. dan ternyata benar kata sopir taksi yang mengantarku dari bandara bahwa sebagian besar penduduk di sini adalah berasal dari jawa.. dayaknya nyaris tidak ada, sangat sedikit..

Setelah kerupuk rebus pesananku selesai dibakar, aku memutuskan untuk berjalan kaki.. aku merasa tahu arah karena kota ini memiliki rute jalan yang sederhana, tidak seperti di Jakarta yang berbelit-belit..

Aku berjalan ke arah pasar,


dan menemukan suara burung berkicau sangat keras.. kulihat ke atas langit dan ternyata ada kerumunan burung walet sedang terbang berputar-putar.. aku sempat bingung ada apa itu sebenarnya.. dan ternyata, di kota ini memang potensial untuk bisnis walet karena banyak sekali burung walet yang beterbangan di kota ini..


Kulanjutkan kembali perjalananku sambil makan kerupuk rebus, rasanya memang mirip pempek hanya saja lebih alot dan kurang sedap..

Awalnya mau mencari makan siang, tapi berhubung belum kutemukan makanan yang unik, selain makanan yang biasa kumakan (ayam goreng, bakso, mie, soto, dll) aku pun terus melanjutkan berjalan kaki..

Di tanjakan ke arah Istana Kuning ada bus sekolah yang sedang parkir, lagi-lagi warnanya kuning.. keren juga kupikir kota kecil begini tapi sudah punya bis sekolah..


Tak jauh dari situ adalah pintu gerbang parkir Istana Kuning.. di depannya, persimpangan jalan terdapat Tugu Adipura yang dibanggakan.. ternyata kota Pangkalan Bun ini menerima penghargaan Adipura selama 4 tahun kalau tidak salah berturut-turut yaitu sejak tahun 2007 hingga tahun 2010..


Masih belum menemukan makanan yang unik, aku pun melanjutkan perjalanan berkeliling kota.. Tak jauh dari Tugu Adipura terdapat Makam Kerajaan..


Lalu aku terus berjalan ke arah Gereja yang kulewati ketika naik taksi dari bandara ke hotel.. Kuperhatikan di kota ini terdapat banyak kios, dan kebanyakan adalah kios travel dan toko cemilan, serta toko sparepart atau bengkel tempat service kendaraan. Tapi lebih dominan ke travel dan warung-warung kecil tempat jual bensin.. jarang sekali tempat jual makanan.. dan misalkan ada pun juga tutup di hari minggu atau di sore hari..

Semakin dekat dengan Gereja, aku melihat seekor anjing yang mirip dengan anjingku brino, sama-sama jenis terrier mini, tapi anjing itu berbulu putih dan brondol, sepertinya kena sakit kulit.. anjing itu ternyata penakut, mau kupegang malah menyebrang jalan.. aku sudah sangat takut kalau-kalau dia tertabrak.. kulihati anjing itu dari sebrang hingga kira-kira dia di posisi agak aman dan kemudian aku pergi melanjutkan perjalanan..

Setelah melewati persimpangan jalan, tak lama kemudian tibalah aku di depan gereja yang ternyata tepat seperti dugaanku adalah Gereja Katolik St. Paulus..


Karena senang, aku segera masuk ke dalam gereja itu.. pintunya ternyata dikunci, padahal aku ingin melihat bagian dalamnya.. akhirnya aku hanya berkeliling di sekitar bangunan gereja.. sangat sepi, tak ada orang.. yang kulihat hanya tukang yang sedang bekerja membangun sebuah bangunan di sisi belakang gereja.. berkeliling-keliling di dalam kompleks gereja, aku menemukan pelat bertuliskan jadwal misa yang terdapat di tembok pintu masuk gereja.. kupotret agar siapa tahu besok-besoknya aku bisa mampir untuk ikut misa..


Setelah puas memotret, aku pun melanjutkan perjalananku.. kutemukan banyak tempat ibadah, dengan Kristen yang beraneka ragam dan juga kepercayaan lain (adat), ada byk organisasi-organisasi seperti organisasi perempuan, pramuka, dll..


Lalu aku berjalan ke arah simpang kanan, melewati sebuah gang yang di depannya ada plang bergambar orangutan bertuliskan “Orangutan Foundation International”.. oh di sini toh lokasinya..


Karena jalan tampak masih panjang, aku memutuskan berhenti.. mencoba ke belokan satunya di kiri jalan setelah melewati Orangutan Foundation, dan kutemukan sebuah stadion bernama Stadion Sampuraga..


dan jalan di daerah tersebut tampak rimbun, aku merasa itu bukan arah yang tepat.. sebetulnya aku ingin pergi ke Tugu Pancasila dan Monumen Pesawat yang sempat kulewati ketika dari bandara, masalahnya aku tak tahu arah.. di situ banyak juga persimpangan jalan dan semua tampak sama..

Lapar dan haus semakin melanda.. di persimpangan jalan tak jauh dari stadion terdapat sebuah ruko tempat makan Soto Madura.. namun bolak-balik aku ke situ, si penjaganya masih saja tidur di lantai, mengorok pula.. kalau seperti itu sudah tak mungkin untuk dibangunkan..

Karena lelah dan lapar sehingga lemas, maka aku memutuskan untuk kembali ke dekat hotel.. dalam perjalanan menuju hotel, aku melihat seekor anjing lagi, ukurannya juga tidak besar, berbulu coklat muda dan anjing kampung tetapi juga tidak bisa dipegang.. kelihatannya kurang bersahabat.. aku heran di kota ini sangat jarang kutemukan hewan di jalan seperti kucing ataupun anjing.. ah ga seru, ga da yang bisa aku sayang-sayang d.. :(

Sesampainya di dekat hotel, aku memutuskan makan soto di terminal di seberang hotel.. dan ternyata, rasanya amis ga enak sampe aku merasa mual tapi tetap kupaksa menghabiskan karena buang-buang makanan itu tak baik, apalagi kasihan ayamnya yang sudah terlanjur dipotong kalau dagingnya akhirnya terbuang sia-sia..  demi menghabiskan daging soto, aku menghabiskan dengan cepat minuman teh manisku dan aku juga minta tambah minum air..

Selesai makan, aku kembali ke hotel.. kemudian aku hanya menghabiskan sisa waktu di hari pertamaku dengan tidur-tiduran sambil menonton Sky Drama 1, juga menyiapkan keperluan untuk besoknya presentasi di Balai sambil smsan dengan teman-temanku.. dan, jam 8 malam tak disangka aku sudah mengantuk, padahal biasanya di Jakarta hingga subuh pun belum tentu aku sudah tidur.. Jam 8 itu masih terlalu pagi untuk tidur, tapi apa boleh buat hawa udara di Kalimantan tampaknya membuat manusia menjadi malas..

Besoknya aku sudah janji ke Mas’ud akan mampir ke Mess sebelum ke Balai TNTP, sekitar jam 9an sudah sampai di Bunderan Tugu Pancasila dan nantinya akan dijemput Mas’ud.. tujuanku mau mampir ke Mess selain numpang WiFi (di hari pertama sungguh menderita rasanya karena tidak bisa buka internet) dan bertemu dengan Pak Toto dan mengobrol jika sempat, juga tergoda tawaran Rajungan masakan Mas’ud.. hehe..  semoga saja bisa tepat waktu karena rencananya di pagi hari sebelum berangkat aku ingin membeli Coto Manggala dulu.. dan.. berakhirlah kisah di hari pertamaku di Kalimantan..