Eight Below

Eight Below

The Real World Adventurer..

"In this life, only the fool who always start the questions of life, moreover start their life mission and purpose of money. And once beginner ask where they get money, then they will be shackled by the constraints/obstacles. And almost certainly the answer is simply no money, can not and will not be" (Rhenald Kasali - Professor of University of Indonesia)
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Wednesday, October 12, 2011

Sekelumit Cerita tentang Kusta


“dia datang bagai balita mengelus pipi
membekas rona putih tanpa rasa"


Demikianlah kutipan dari sebuah puisi yang dibuat oleh seorang mantan penderita kusta.. kuperoleh puisi ini dari internet.. Seperti itulah kusta, tanda awalnya berupa bercak berwarna putih (mirip panu) atau kemerahan di kulit. Bercak ini menyebabkan mati rasa, kehilangan bulu, dan tidak berkeringat.




Sebelumnya aku sempat mencari tahu mengenai penyakit ini, lebih dari sisi kedokteran.. kutemukan sebuah paparan dalam bentuk file power point yang cukup lengkap, tampaknya adalah bahan kuliah untuk mahasiswa kedokteran.. kemudian pengetahuan yang kuperoleh ini diperlengkap dengan diadakannya seminar mengenai kusta oleh teman-temanku dari komunitas Magis Jakarta pada hari Minggu, 9 Oktober 2011 kemarin dengan paparan yang dibawakan oleh Dr. J.P. Handoko Soewono (seorang dokter senior di RS Kusta Sitanala, Tangerang) di Aula lantai 2 sekolah Colose Canisius, Menteng, Jakarta Pusat..





Memang, banyak stereotype atau pandangan negatif mengenai penyakit ini disebabkan oleh paradigma yang sejak awal sudah salah.. Sebagian besar orang mengganggap penyakit ini sungguh mengerikan dan sangat berbahaya sehingga penderitanya pun menjadi dikucilkan ataupun disingkirkan.. Padahal, kenyataannya tidaklah seperti itu.. Bahkan, penyakit ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penyakit kanker, jantung, maupun HIV/AIDS..

Penyakit Kusta memang penyakit menular, namun penyakit ini tidaklah mudah menular.. Lebih dari 96% manusia kebal terhadap penyakit ini.. Sebagai manusia normal, secara alami kita kebal terhadap penyakit.. Hanya manusia yang mempunyai sedikit atau tidak ada kekebalan saja yang dapat tertular penyakit ini, dan umumnya tertular penyakit ini adalah manusia yang hidup di bawah garis kemiskinan, seperti yang dinyatakan oleh PBB yaitu penduduk yang memiliki pendapatan di bawah US$2/orang/hari..

Penyebaran penyakit kusta di dunia menunjukkan bahwa Indonesia masuk ke urutan nomor 3 terbanyak penderita kusta, yaitu berdasarkan data tahun 2010 sebanyak 21.026 kasus teregistrasi (yang sudah ada) dan 17.260 kasus baru per tahun. Sebanyak 14.227 kasus baru menyerang Manula dan Balita, 6.887 kasus baru menyerang wanita dan 1.812 kasus baru menyerang anak. Sebagian besar yang terkena kusta adalah anak-anak, sedangkan untuk orang dewasa kemungkinan untuk terkena penyakit ini sangatlah kecil..




Kusta disebabkan oleh infeksi bakteri Mycrobacterium Leprae yang masuk melalui kulit dan mucous membranes.. 



Mycrobacterium Leprae pertama kali diidentifikasi oleh Gerhard Henrik Armauer Hanser pada tahun 1873. 


Bakteri ini tidak terlalu mudah menular dan memiliki waktu inkubasi yang lama. Menurut Dr. Handoko, membutuhkan waktu (masa inkubasi) antara 2 – 15 tahun setelah terinfeksi bakteri ini hingga muncul gejala kusta.  Kurang dari 5% orang yang terinfeksi Mycrobacterium Leprae terkena penyakit kusta, hal ini disebabkan oleh faktor imun respon pada masing-masing individu.. Kusta juga bukanlah penyakit keturunan, dan tidak ada vaksin untuk kusta dikarenakan vaksin tidak akan bisa meningkatkan kekebalan tubuh manusia terhadap kusta..

Penularan penyakit ini tidak diketahui pasti, diduga dapat menular melalui kontak kulit dengan penderita atau melalui pernafasan (bersin). Bakteri kusta disebarkan oleh penderita yang belum pernah minum obat atau penderita yang belum kelihatan bahwa terkena kusta dan justru penderita yang sudah semakin jelas kustanya, yaitu penderita yang pernah minum obat, semakin tidak menular..

Kusta dalam bahasa India yaitu Kus, diIndonesiakan menjadi Kusta, artinya yang menggerogoti tubuh sampai habis. Sedangkan dalam bahasa timur tengah, yaitu Leprae dan diIndonesiakan menjadi Lepra.

DNA Plasmid Mycrobacterium Leprae dapat menginfeksi sel syaraf manusia. Plasmid ini dapat hidup terpisah dari kromosom bakteri dan tubuh bakteri itu sendiri ketika meng’invasi’ sel tubuh manusia. Kusta dapat menyerang sistem pernafasan atas, mata, dan membrane selaput lendir.. Untuk pertama kalinya, kusta paling suka muncul di bagian tubuh yang paling dingin, yaitu di pantat.. Jika tidak segera mendapat pengobatan, maka penyakit ini dapat menyerang syaraf tepi, yaitu biasanya di muka, tangan, dan kaki.. Penanganan yang terlambat (lebih dari 2 tahun) pada akhirnya akan menyebabkan syaraf rusak dan timbul cacat..




Jenis penyakit kusta ada dua macam, yaitu Kusta kering atau Pauci Baciller (PB) dan Kusta basah atau Multi Baciller (MB) yang menyebabkan kulit tampak mengkilap seperti basah.




Penyakit ini mudah diobati, yaitu dengan MDT (Multiple Drug Therapy), dimana untuk Kusta kering (PB) dengan tablet kemasan berwarna hijau selama 6 bulan dan untuk Kusta basah (MB) dengan tablet kemasan berwarna merah selama 12 bulan. Obat disediakan gratis di setiap puskesmas atau pelayanan kesehatan lainnya. Jika berobat dini dan minum obat secara teratur maka penderita yang terinfeksi kusta akan sembuh tanpa cacat, maka tidak akan ada yang tahu bahwa pernah terkena kusta..



Aku mendapatkan informasi bahwa WHO masuk ke Indonesia pada tahun 1980-an, dan obat untuk kusta dibagikan rata sekitar tahun 1987-an. Pada awalnya, obat yang paling efektif untuk pengobatan kusta adalah promin. Promin yang awalnya diberikan secara injeksi digantikan oleh dapsone yang diberikan secara oral. Kini, dalam pengobatan kusta dilakukan dengan cara Multi Drug Therapy (MDT), yaitu pengobatan dengan menggunakan beberapa jenis obat. Obat-obat yang digunakan untuk penyakit kusta, antara lain Rifampicin (dapat membunuh bakteri kusta dengan menghambat perkembangbiakan bakteri - Dosis 600 mg), Diaminodiphenysulfone/Dapsone (mencegah resistansi bakteri terhadap obat – dikombinasikan dengan obat lain), Clofazimine/CLF (menghambat pertumbuhan dan menekan efek bakteri yang perlahan pada Mycrobacterium Leprae dengan berikatan pada DNA bakteri), Ofloxacin (Synthetic Fluoroquinolone, beraksi menyerupai penghambat bacterial DNA gyrase), dan Minocycline (Semisynthetic Tetracycline, menghambat sintesis protein pada bakteri).

Agar tidak terlambat dalam mengobati jika ternyata terkena penyakit kusta, maka kita haruslah mengetahui terlebih dahulu mengenai gejala-gejalanya dan mendiagnosisnya sedini mungkin. Untuk orang yang berkulit putih mungkin agak sulit untuk membedakan antara kulit yang normal dan yang terkena kusta, maka tidaklah cukup hanya dengan melihat apakah ada bagian kulit yang berwarna putih atau kemerahan. Cara sederhana yang dapat kita lakukan yaitu dengan memeriksa apakah pada kulit kita terdapat bagian yang tebal dan tanpa rasa sakit dan gatal atau mati rasa, apakah bagian tersebut selain berwarna putih atau kemerahan juga seperti kulit yang terkelupas, apakah rambut pada bagian tersebut rontok, adakah pembesaran gangguan urat syaraf dan terjadi kelainan bentuk pada tangan dan kaki, dan apakah bagian tersebut selalu kering tak berkeringat walaupun ketika bagian tubuh yang lain sedang basah karena keringat karena kulit yang normal biasanya lembab atau basah. Cara terakhir adalah dengan uji jarum, yaitu menusuk bagian yang tebal tersebut dengan jarum atau peniti hingga dalam, jika tidak terasa sakit maka bisa jadi bagian tersebut adalah kusta. Selanjutnya untuk memastikan apakah kita benar-benar terkena kusta atau tidak, dapat melalui cara medis yaitu dengan penyuntikan antigen ke bagian bawah kulit untuk mengetahui tipe penyakit kusta yang sedang diidap oleh seseorang. Tes ini disebut dengan Lepromin Skin Test. Penyuntikan antigen akan mengakibatkan terbentuknya gumpalan kecil pada kulit. Hal ini menandakan bahwa kedalaman penyuntikan telah tepat. Kemudian dalam waktu 3 sampai 28 hari dilihat perkembangannya.




Bentuk pencegahan yang dapat dilakukan agar tidak terkena penyakit ini adalah dengan menghindari kontak dengan kulit penderita, meningkatkan sistem imun tubuh dengan hidup sehat dan menjaga kebersihan, serta diagnosis dan pengobatan yang segera. Pengobatan perlu dilakukan segera setelah merasa mengalami gejala-gejala penyakit kusta ini. Deteksi dan pengobatan yang terlambat akan menyebabkan cacat pada tubuh. Jika bakteri menyerang syaraf, maka akan terjadi kelumpuhan otot, mati rasa, kulit kering dan tidak berminyak. Jika kemudian diobati dan sembuh, cacat ini akan tetap ada seumur hidup. Cara yang terbaik adalah berobat dini sebelum cacat sehingga dapat sembuh dengan sempurna.

Dr. Handoko menjelaskan bahwa luka-luka pada tubuh penderita kusta yang biasa kita lihat ternyata bukan akibat penyakit kusta itu secara langsung melainkan karena cacat atau kerusakan syaraf yang muncul akibat penyakit kusta. Akibat kerusakan syaraf, maka tangan atau kaki menjadi mati rasa. Akibatnya mudah terjadi luka akibat terkena benturan benda tajam, panas, gesekkan dan sebagainya. Luka ini tidak dirasakan sakit, bahkan cenderung diabaikan oleh penderita sehingga sulit sembuh. Luka yang terjadi berkali-kali dapat mengakibatkan hilangnya jari-jari atau bahkan bagian tubuh lainnya. Dengan demikian, Kusta tidaklah sama dengan Cacat.





Selain mengalami gangguan medis pada tubuh, para penderita kusta juga mengalami masalah yang sangat pelik yaitu berupa masalah sosial. Penderita kusta sering kali (bahkan hampir selalu) dikucilkan
dikarenakan adanya suatu pemahaman masyarakat yang salah, banyak yang belum mengetahui apakah penyakit kusta itu. Masalah sosial penderita kusta sering kali meliputi masalah dalam mencari nafkah, masalah pendidikan dan masa depan anak, serta masalah interaksi sosial lain dalam masyarakat.




Dalam hal ini, Dr. Handoko memaparkan contoh kasus yang benar-benar terjadi dalam kehidupan para penderita kusta. Beliau bercerita bahwa para penderita kusta ini posisinya adalah bergantung. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakberdayaan mereka, bukan dari sisi fisik tubuh, melainkan akibat dari permasalahan sosial yang mereka hadapi.

Selain dihina, mereka juga dijauhi. Masyarakat tidak mau menerima pegawai ataupun hasil produksi, baik dari seorang penderita kusta maupun dari seorang mantan penderita. Mereka merasa takut akan tertular, dikarenakan stereotype negatif yang tanpa disadari sebenarnya telah ditanamkan dalam diri seorang individu sejak kecil, yaitu bahwa kusta itu menakutkan, harus dihindari dan disingkirkan. Begitulah kenyataan yang terjadi pada penderita kusta, tidak seorang pun yang mau menjual atau membeli hasil panen dari kebun seorang penderita ataupun mantan penderita kusta apalagi mempekerjakan mereka sebagai pegawai. Dengan demikian, para penderita kusta itu tidak mampu mencari nafkah sehingga mau tidak mau mereka hanya bisa bergantung pada sumbangan ataupun bantuan dari orang lain yang peduli.




Hal ini berdampak lebih lanjut pada keluarga mereka. Tanpa nafkah, maka tak bisa membiayai pendidikan anak. Belum lagi ketika seorang anak itu kemudian dikeluarkan dari sekolah dan dijauhi hanya karena orang tuanya adalah penderita atau mantan penderita kusta, masa depan anak mereka pun menjadi terancam.




Permasalah yang lebih pelik lagi adalah ketika seorang anak menemukan seseorang untuk menjadi pendamping hidupnya, yang kemudian ditolak oleh orang tua dari pihak pasangan hanya karena ketahuan bahwa orang tuanya adalah penderita atau mantan penderita kusta.




Demikianlah hidup para penderita dan mantan penderita kusta itu begitu rumit. Stigma negatif ini menyebabkan mereka putus harapan dan tak bisa bangkit, dan akhirnya mereka hanya bisa bergantung pada tangan-tangan yang peduli.

Lalu, bagaimana sebaiknya kita bersikap? Yang dapat kita lakukan selain memberikan pelayanan kepada para penderita dan mantan penderita kusta itu adalah dapat dengan memberikan penjelasan kepada masyarakat pengetahuan perihal penyakit kusta sehingga masyarakat tidak takut lagi, memperlakukan mantan penderita kusta sebagaimana layaknya manusia biasa dan tidak perlu dikasihani tetapi memberi kesempatan berusaha sesuai dengan kemampuannya. Demikianlah yang disampaikan dalam seminar kusta dan juga dalam artikel-artikel yang saya temukan di internet.

Sekarang, nasib mereka para korban penyakit kusta ada di tangan kita manusia yang masih sangat beruntung ini dikarenakan kita masih sangat sehat dan mempunyai daya untuk hidup di masyarakat. Yang terutama perlu diubah dalam masyarakat memang adalah pandangan masyarakat terhadap penyakit tersebut, dan bagi para korbannya yang paling penting kita lakukan adalah upaya untuk memberi dukungan secara moral dan psikologis sehingga mereka dapat memiliki harapan lagi untuk hidup selayaknya manusia normal.

Pada akhir seminar, diputarkan sebuah video yang kubuat, berupa cuplikan mengenai perjalanan tim dari Magis Jakarta yang bertugas melayani dan live-in di RS Kusta Sitanala Tangerang.. Awalnya, mereka yang bertugas di sana juga sempat merasa takut, namun pada akhirnya setelah mendapatkan pengetahuan mengenai penyakit ini, pandangan mereka pun menjadi berubah.. Mereka dapat bersosialisasi dengan para penderita kusta seperti layaknya dengan manusia normal tanpa ada ketakutan dan permasalahan lainnya..




Selain itu, pada awal seminar juga sempat diputarkan sebuah video yang diambil dari Youtube yang merupakan video dokumenter mengenai kusta.. Dari video ini dapat diambil gambaran umum mengenai penyakit kusta itu sendiri..




Pada akhirnya, semoga saja dengan adanya seminar tersebut dan juga bentuk sosialisasi lainnya termasuk tulisan ini, dapat membantu mengurangi stereotype negatif masyarakat terhadap penyakit kusta. Semoga kita dapat berkarya bagi mereka dan “Jangan singkirkan mereka!!”..


Note: Artikel ini telah diterbitkan di www.wikimu.com,
          Rabu, 12-10-2011  10:07:46
(http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=19388)


Link terkait:
http://sudarmandg.blogspot.com/p/puisi.html

Thursday, September 15, 2011

Ketika Aku Berada di antara Para Penderita Kanker..

Berawal dari ketertarikanku terhadap dunia kedokteran.. dahulu aku memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dokter, dan diperjelas dengan banyaknya kasus terjangkitnya penyakit kanker pada keluarga besar dan kenalan-kenalanku, hingga dogiku pun juga menjadi korban keganasan penyakit ini.. demikianlah aku memimpikan untuk bisa menjadi seorang dokter internist (ahli penyakit dalam), spesialis kanker.. Namun, cita-cita itu tak terwujud.. bukan karena tak mampu, tapi juga karena pilihan hidup.. mungkin memang sudah takdirku..

Tahun demi tahun berlalu, namun ketertarikanku terhadap dunia kedokteran tak juga kunjung padam.. tertarik dengan dunia kedokteran, bukan berarti harus menjadi seorang dokter.. tak menjadi seorang dokter, bukan berarti aku tak bisa berkarya.. Oleh karena itulah aku menginginkan agar bisa terlibat di kegiatan yang berkaitan dengan upaya memerangi penyakit.. AIDS, TBC, Kanker.. aku mendapatkan akses untuk ikut bergabung dalam organisasi yang memberikan dukungan kepada para penderitanya..

Sabtu, 10 September 2011.. aku diundang untuk menghadiri pertemuan rutin CISC (Cancer Information and Support Center), yang biasa disebut dengan Cancer Club..

Tak seperti yang kubayangkan sebelumnya, kukira pertemuan itu akan dihadiri oleh orang-orang yang terlihat kurus dan lemah, seperti halnya para penderita kanker yang biasanya kuketahui demikian.. Suasana di Kantor CISC itu sangat berbeda.. selain didukung oleh gedungnya yang berupa rumah dengan interior layaknya tempat pesta yang mewah dan memberikan kesan elegan, yang membuatku terkejut adalah penampilan para hadirinnya.. Tampak rapi, cantik dan tampan serta menggunakan pakaian formal yang menurutku itu adalah pakaian untuk ke pesta.. ya, tak hanya sekedar batik biasa, bahkan gaun pun mereka gunakan.. sama sekali tak ada kesan bahwa itu adalah pertemuan untuk para penderita kanker..

Sekitar jam setengah sebelas, acara pun dimulai.. pembawa acaranya cukup cantik, masih keliatan muda dan menggunakan kostum gaun hitam yang elegan..

Acara diawali dengan kata sambutan.. lalu dijelaskan sekilas mengenai CISC.. kemudian perkenalan pendatang baru dan juga salam-salaman untuk keakraban.. lagi-lagi aku terkejut.. ada seorang ibu, usianya sekitar 60an yang duduk di bangku paling ujung di bagian depan, yang ternyata adalah seorang profesor yang menyandang 7 gelar Master dan 2 gelar Doktor.. wuih, sungguh luar biasa.. dia pasti tak pernah berhenti kuliah, begitu pikirku..

Kemudian acara dilanjutkan dengan paparan dari narasumber inti dari acara, yaitu dokter Santo, seorang dokter ahli bedah.. beliau biasanya memberikan paparan dalam pertemuan yang diadakan setiap hari Kamis Pk. 12.00 di Rumah Sakit Kanker Dharmais..

Judul dari paparannya adalah “Ikhlas”.. beliau bukan menjelaskan apa itu arti kata ikhlas, melainkan menerangkan aspek-aspek yang terkait yang membuat kita manusia bisa menjadi ikhlas.. Ikhlas sangatlah penting, terutama bagi para penderita kanker yang hadir dalam pertemuan itu.. aku rasa, bagi seseorang yang mengalami sakit keras semacam kanker, tentulah tidak mudah untuk berikhlas.. pastilah selalu ada rasa sedih dan frustasi yang setiap kala mereka alami..

Dokter Santo mengawali dengan menjelaskan mengenai otak.. Mind vs Brain.. Ibarat sebuah perangkat komputer, mind adalah softwarenya, sedangkan brain adalah hardwarenya. Mind beroperasi berdasarkan our believe system. Agar kinerja mind lebih positif, salah satu caranya adalah dengan meditasi. Kebahagiaan tak bergantung pada orang lain, tetapi dari diri kita sendiri.. tidak tergantung hal lain, kebahagiaan sejati ada dalam diri kita..

Kemudian penjelasan berlanjut mengenai brain.. Dokter Santo menunjukkan gambar anatomi otak, dimana otak terdiri dari otak kiri dan otak kanan.. setiap daerah otak memiliki fungsi spesifik masing-masing, dan memiliki kurang lebih 1 milliar neuron..





Yang membedakan orang cerdas dan tidak bukan jumlah neuron tetapi banyaknya sambungan antar neuron, yang disebut dengan sinaps. Begitu pula dengan perasaan, semakin tebal sinaps, semakin sering sedih.. Neuron adalah sel syaraf, sedangkan serabut syaraf disebut dengan akson.. semakin banyak akson, semakin cerdas.. dan semakin tebal akson, daya pikirnya semakin kuat.. Jika ingin mengurangi rasa sedih, harus mengurangi jumlah serabut, yaitu dengan meditasi.. lalu pertanyaanku, berapa banyak sinaps dan apson di otakku ini?? Bagaimana konversi dari jumlah sinaps dan akson tersebut menjadi angka pasti dari IQku yang 134 dan digolongkan ke dalam kecerdasan Superior?? Hmm.. aku jadi penasaran..






Dokter Santo kemudian memperkenalkan sebuah teknik untuk mengurangi hal-hal negatif, yaitu Tought Field Therapy (TFT).. Teknik ini semacam teknik akupuntur, dilakukan tapping pada titik-titik akupuntur.. Tapping pada bagian tertentu tubuh akan mempengaruhi sirkuit pada bagian tubuh tersebut..  dengan demikian untuk mengurangi hal-hal negatif, dapat dilakukan dengan memikirkan hal-hal negatif tersebut ketika tapping.. Tapping dilakukan di 8 titik tubuh, masing-masing sebanyak 7-10 kali tapping dan dianjurkan dilakukan secara berulang.. boleh bagian tubuh kanan ataupun kiri.. bermula dari di pelipis beurutan hingga bagian ujung bawah tangan..



Namun, dokter Santo menambahkan setelah tapping kedelapan titik itu, dilanjutkan dengan memutar bola mata ke kanan dan kiri, lalu memutar mata 360 derajat ke kanan, kemudian melantunkan lagu (tanpa kata-kata) "Happy Birthday to you"..

Diyakini dan telah dirasakan sendiri oleh dokter Santo, yaitu bahwa semakin sering dan rutin teknik TFT ini dilakukan, maka hal-hal negatif dalam diri kita akan semakin berkurang dan hilang..

Setelah sesi praktek TFT berlangsung, kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab singkat.. ada satu pertanyaan mengenai tekanan darah yang tiba-tiba tinggi, dan menurut dokter Santo, hal tersebut adalah karena ansietas tinggi, yaitu cemas..

Kemudian dokter Santo memberi demo teknik meditasi untuk meningkatkan hal positif.. demo ini berupa praktek langsung.. para hadirin diminta untuk memejamkan mata, dengan posisi tubuh relaks, kedua tangan di atas paha dan menempelkan kedua jari yaitu ibu jari dan telunjuk..




Tahapan selanjutnya diarahkan oleh dokter Santo, kira-kira seperti ini:
“Bayangkan papan tulis hitam di depan anda, di sebelah kanannya ada kapur putih. Anda ambil kapur itu lalu buatlah gambar lingkaran seukuran lebar bahu anda di papan tulis itu. Lalu tulis angka 3 di dalam lingkaran tersebut. Bayangkan di kiri anda ada sebuah penghapus. Anda ambil penghapus itu, lalu hapuslah angka 3 di tengah gambar lingkaran tersebut. Kemudian tuliskan kata relaks di sisi kanan. Rasakan relaks di seluruh tubuh dari ujung kepala, terus hingga ujung kaki. Semakin lama semakin relaks..

Kemudian tulis angka 2 di dalam lingkaran tersebut. lalu hapuslah angka 2 tersebut. Kemudian tuliskan kata relaks yang lebih tebal di sisi kanan. Rasakan relaks di seluruh tubuh dari ujung kepala, terus hingga ujung kaki. Semakin lama semakin relaks..

Lalu tulis angka 1 di dalam lingkaran tersebut dan hapuslah angka 1 tersebut. Kemudian tuliskan kata relaks yang paling tebal, setebal mungkin di sisi kanan. Rasakan relaks di seluruh tubuh dari ujung kepala, terus hingga ujung kaki. Semakin lama semakin relaks..

Bayangkan di depan anda ada sebuah ekskalator.. saya hitung 1, 2, 3 dan anda pun turun ke bawah dengan ekskalator.. semakin turun, semakin relaks.. dan sampailah anda pada tempat yang lebih nyaman..

Bayangkan di sebelah kiri anda ada sebuah toples.. Keluarkan semua emosi anda, dan masukkan ke dalam toples tersebut.. lalu tutup toples itu rapat-rapat..

Kembalilah ke posisi berdiri anda semula, bayangkan di depan anda ada sebuah jurang.. jurang yang sangat dalam.. berjalanlah ke tepi jurang itu, lalu buanglah toples itu.. emosi anda semakin jauh dan semakin jauh ke dalam jurang..

Lihatlah di kanan anda ada sebuah pintu.. dalam hitungan 1, 2 dan 3, silahkan anda masuk melalui pintu itu.. sampailah anda ke tempat yang benar-benar nyaman.. lorong putih terang dengan pintu-pintu berderet di temboknya.. pintu-pintu itu adalah pintu umur anda..

Lalui pintu-pintu itu, dan pilihlah usia dimana ada memori bahagia di dalamnya.. rasakan kebahagiaan itu.. rasakan semakin dalam.. tekanlah jari anda semakin kuat.. dan kini anda benar-benar bahagia..”

Teknik meditasi itu ditujukan pada modus frontal, yaitu bagian memori di otak.. dan.. aku jadi teringat dengan Romi Rafael, seorang mentalist yang sering muncul di TV.. teknik ini serupa dengan kata-kata yang biasanya dilucurkan oleh Romi ketika mempengaruhi mental seseorang, “anda berada semakin dalam, semakin dalam dan semakin dalam..”.. semacam itulah.. Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab..

Sempat ada yang menanyakan kepada dokter Santo.. para pasien tentunya sudah memahami bahwa para dokter berusaha mengerti apa yang dirasakan oleh sang pasien dan berusaha membuat pasien tenang sebelum operasi.. lalu bagaimana dari sisi dokter sendiri ketika melaksanakan operasi pasien.. dan dokter Santo menjawab bahwa beliau biasa melakukan Hypnotherapy sebelum melaksanakan operasi.. yaitu memvisualisasikan ke dalam pikiran bahwa operasi itu akan berjalan dengan lancar, dan biasanya metode itu sangat ampuh..

Pada sesi tanya jawab itu, hingga akhir acara, aku mendapatkan banyak hal.. bukan hanya pengetahuan umum seputar kanker, tapi juga pelajaran mengenai hidup.. Mereka yang berada di situ sebagian besar adalah penderita kanker (survivor).. satu per satu mereka sharing.. dan kesimpulan yang dapat kuambil, mereka hidup berdampingan dengan hal-hal yang tak menyenangkan dan cukup berat bagiku, seperti operasi, kemoterapi, radiasi, obat-obatan dan pengobatan rutin lainnya.. Namun, hal-hal tersebut bukanlah penghalang bagi mereka untuk tetap semangat.. mereka tetap berkarya seperti layaknya orang yang sehat.. lalu bagaimana denganku, bahkan mungkin aku pun tak memiliki semangat sebesar semangat mereka, dan juga ketabahan hati sebesar yang mereka miliki.. 

Dalam pertemuan itu ternyata juga ada banyak orang penting, salah duanya adalah istri dan putri dari almarhum A.A. Baramuli, seorang politikus, pengusaha dan mantan jaksa. Dua orang tersebut adalah penderita kanker payudara, keduanya, seperti kata sang istri telah menjadi WTS atau Wanita Tanpa Susu.. Namun, yang menarik dari sharingnya adalah bahwa beliau menebarkan semangat kepada para penderita kanker lainnya yang hadir dalam pertemuan itu..

Kata-katanya yang paling kuingat adalah “Jika payudara itu harus pergi, biarkanlah dia pergi. Walaupun dia telah berjasa, memberi minum air susu kepada anak-anak kita, relakanlah. Dan walaupun si payudara itu pergi, kita masih memiliki banyak sekali organ tubuh yang tidak pergi. Dan kita bersyukur, kita masih punya mata, punya telinga, dan punya bagian-bagian tubuh kita yang lainnya.. kita masih kaya..”

Ya, itulah yang dinamakan dengan rasa syukur.. kebanyakan orang kurang mensyukuri apa yang dimilikinya.. bagi orang sehat, yang dikeluhkan adalah “aku kurang cantik”, “aku kurang gagah”, “aku kurang seksi”.. sedangkan bagi penderita kanker, mereka bertanya dalam diri mereka “apakah aku bisa melihat sinar matahari esok hari?”.. Kanker penyakit mematikan, dan juga tak bisa diprediksi.. Kuingat seorang teman papaku yang baik hati, yang membantuku membiayai kuliahku.. beliau yang rajin check-up tapi tiba-tiba divonis menderita kanker stadium 4.. dan tak lama kemudian beliau meninggal dunia.. begitulah kanker, bisa mengganas dalam sekejap..

Acara dilanjutkan dengan makan siang.. mereka semua sangat semangat.. selain semangat makan (dari awal acara sudah sibuk dengan makan snack, tak berhenti hingga makan siang), mereka juga semangat untuk berfoto (mengabadikan saat-saat bersama).. saat itulah mulai kuperhatikan satu per satu orang yang lalu lalang.. ada yang kakinya pincang, ada yang payudaranya rata karena sudah hilang, ada yang kakinya hilang sebelah karena diamputasi, dan sebagainya.. pertanyaanku pada diriku sendiri, apakah aku cukup bersyukur? Tubuhku masih lengkap, semuanya berfungsi dengan baik dan normal walaupun ada yang soak-soak dikit, tapi semuanya yang kumiliki di tubuh ini masih lengkap onderdilnya.. Sebagian besar dari para penderita kanker itu memang sudah berusia lanjut (ibu-bapak dan nenek-kakek), tapi ada beberapa orang yang kulihat masih muda.. sungguh beruntung aku yang masih muda ini masih sehat bugar, walau kadang soak karena penyakit ringan.. paling tidak aku masih lebih beruntung dari mereka..

Bukan hanya rasa syukur, tapi juga semangat mereka untuk menyemangati satu sama lain untuk tetap survive, itulah yang menarik.. awalnya aku sempat berpikir bahwa ini adalah perkumpulan para penderita kanker yang berduit, namun di akhir acara setelah makan siang, dijelaskan bahwa mereka ikut memberi dukungan finansial bagi para penderita kanker yang tidak mampu, sebagai contoh adalah mendirikan 4 rumah singgah yang mendekati rumah sakit tempat pasien berobat.. selain dukungan finansial, juga memberikan dukungan moral, emosional dan sosial.. cukup baik pikirku.. walau aku sempat berpikir, apakah mungkin semua itu benar-benar tulus dari dasar hati mereka? Ataukah hanya karena mereka terkena kanker dan tau bahwa usia mereka mungkin tak panjang lagi, maka mereka berusaha berbuat baik? Ya, itu memang pikiran yang buruk.. tapi bukankah hidup manusia memang seperti itu?

Pesan hidup yang dapat kuambil dari pengalamanku ini adalah kita memang harus selalu mensyukuri apa yang kita miliki.. dan kita juga harus membagi rasa syukur itu kepada orang lain, bukan sejak karena kita ketika itu mengalami malang (seperti terjangkit penyakit kanker) jadi baru sadar atau berusaha mengerti, tetapi kita harus berbagi sejak dikala kita mengalami untung (kaya dan sehat).. Banyak pelajaran yang kudapat hari itu.. semoga aku terus mengingatnya selama aku hidup..

Note: Artikel ini terlah diterbitkan di www.wikimu.com, Sabtu, 17-09-2011 13:19:41 (http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=19325)

Monday, November 16, 2009

Kisah Dibalik Segumpal Asap Rokok

Sabtu, 12-09-2009 08:42:50
www.wikimu.com

Sungguh sangat mengerikan bahaya akibat asap rokok bagi kesehatan kita, bayangkan saja, dalam setahun jumlah korban meninggal dunia akibat asap rokok di Indonesia mencapai lebih dari 400 ribu orang atau sekitar 1.172 orang dalam sehari. Apabila, hal ini tidak ditangani secara serius oleh pemerintah pusat ataupun provinsi maka generasi muda Indonesia akan hancur. Prevalensi merokok adalah 34.5% atau lebih dari 1/3 penduduk Indonesia merokok. Prevalensi merokok laki-laki > 15 tahun adalah 63.2% atau sekitar 57,563,866 orang. Lebih dari 60% perokok adalah orang miskin dan mengkonsumsi rokok pada kelompok miskin memperburuk kemiskinan. Indonesia menyumbang hampir 50% dari total perokok di kalangan negara ASEAN. Kini, konsumsi tembakau telah membunuh hampir 5 juta orang di dunia, melebihi kematian karena HIV/AIDS, tuberkulosis dan malaria. Tahun 2030, konsumsi tembakau akan mengakibatkan kematian lebih dari 8 juta orang per tahun di dunia jika tidak diciptakan kebijakan yang efektif.
Oleh karena itu, Organisasi Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT) meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegakkan aturan Perda No 2 Tahun 2005 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara dan Pergub No 75 Tahun 2005 tentang Kawasan dilarang merokok, khususnya larangan merokok di tempat umum. Sebab, saat ini masih banyak perokok yang tidak mengindahkan aturan larangan merokok ditempat umum.

ROKOK

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lain.

Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong. Sejak beberapa tahun terakhir, bungkusan-bungkusan tersebut juga umumnya disertai pesan kesehatan yang memperingatkan perokok akan bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan dari merokok, misalnya kanker paru-paru atau serangan jantung (walapun pada kenyataanya itu hanya tinggal hiasan, jarang sekali dipatuhi).

Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam.

Telah banyak riset yang membuktikan bahwa rokok sangat menyebabkan kecanduan, disamping menyebabkan banyak tipe kanker, penyakit jantung, penyakit pernapasan, penyakit pencernaan, efek buruk bagi kelahiran, dan emfisema.
Rokok adalah benda beracun yang memberi efek santai dan sugesti merasa lebih jantan. Di balik kegunaan atau manfaat rokok yang secuil itu terkandung bahaya yang sangat besar bagi orang yang merokok maupun orang di sekitar perokok yang bukan perokok.

Komponen gas asap rokok adalah karbonmonoksida, amoniak, asam hidrosianat, nitrogen oksida dan formaldehid. Partikelnya berupa tar, indol, nikotin, karbarzol dan kresol. Zat-zat ini beracun, mengiritasi dan menimbulkan kanker (karsinogen).

Rokok mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida.
Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru. Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker paru-paru yang mematikan. Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.
Efek racun pada rokok ini membuat pengisap asap rokok mengalami resiko (dibanding yang tidak mengisap asap rokok), yaitu 14x menderita kanker paru-paru, mulut, dan tenggorokan; 4x menderita kanker esophagus; 2x kanker kandung kemih; 2x serangan jantung. Rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan gagal jantung, serta tekanan darah tinggi.
Menggunakan rokok dengan kadar nikotin rendah tidak akan membantu, karena untuk mengikuti kebutuhan akan zat adiktif itu, perokok cenderung menyedot asap rokok secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama.

TIDAK ADA BATAS AMAN BAGI ORANG YANG TERPAPAR ASAP ROKOK.


ROKOK DAN INDIVIDUALISME

Rokok tidak hanya berdampak kepada kesehatan perokok dan orang-orang disekeliling perokok yang bukan perokok yang terkadang harus “rela” menjadi “perokok” (red.perokok pasif) karena sikap individualis yang dipamerkan sebagian perokok, namun lebih luas lagi, rokok telah merubah pola pikir dan mendorong masyarakat menjadi masyarakat yang individualis.
Tengok saja, ketika anda menggunakan transportasi umum, mengunjungi warung kopi, swalayan dan hampir semua tempat umum tidak luput dari asap rokok yang bergentayangan mencari mangsa. Ini membuktikan, sikap Individualis atau lebih mementingkan kepuasan pribadi tanpa menghiraukan dampaknya terhadap orang lain telah tertanam di dalam karakter pribadi seorang perokok. Dalam data-data statistik kesehatan, anda akan temukan bahwa mayoritas perokok berasal dari kalangan miskin dan menengah ke bawah

ROKOK VS EKONOMI: Mitos dan Fakta

Mitos: Industri rokok memberikan kontribusi pemasukan negara dengan jumlah besar. Fakta: Negara membayar biaya lebih besar untuk rokok dibanding dengan pemasukan yang diterimanya dari industri rokok. Penelitian dari World Bank telah membuktikan bahwa rokok merupakan kerugian mutlak bagi hampir seluruh negara. Pemasukan yang diterima negara dari industri rokok (pajak dan sebagainya) mungkin saja berjumlah besar, tapi kerugian langsung dan tidak langsung yang disebabkan konsumsi rokok jauh lebih besar.
Biaya tinggi harus dikeluarkan untuk membayar biaya penyembuhan penyakit yang disebabkan oleh rokok, absen dari bekerja, hilangnya produktifitas dan pemasukan, kematian prematur, dan juga membuat orang menjadi miskin lebih lama karena mereka menghabiskan uangnya untuk membeli rokok.
Biaya besar lainnya yang tidak mudah untuk dijabarkan termasuk berkurangnya kualitas hidup para perokok dan mereka yang menjadi perokok pasif. Selain itu penderitaan juga bagi mereka yang harus kehilangan orang yang dicintainya karena merokok. Semua ini merupakan biaya tinggi yang harus ditanggung.

Mengapa Indonesia Menolak FCTC?

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) diadop oleh 192 negara anggota WHO pada tahun 2003. Indonesia adalah satu-satunya negara di wilayah Asia Pasifik yang tidak menandatangani dan meratifikasi FCTC – 156 dari 192 negara anggota. Alasannya adalah Pemerintah mendambakan cukai dari rokok (menyumbang sekitar 5% dari APBN). Target cukai 2008 Rp.44 triliun, total APBN 2008 Rp.854,6 triliun. Industri rokok dianggap paling efektif untuk menyerap tenaga kerja terutama di pedesaan. Pemerintah yakin pengaturan dalam bentuk apapun akan mengganggu 2 hal di atas (apakah pengaturan itu dari sisi permintaan atau dari sisi penawaran). Pemerintah yakin bahwa melepaskan sektor rokok dalam kebebasan penuh sama sekali tidak mempengaruhi manusia Indonesia sekarang maupun yang akan datang.

Kebijakan Pengendalian Tembakau Bukan Urgensi Nasional?

Fakta-fakta di atas bagi sebagian pemimpin terpilih negeri ini tidak dianggap mengancam eksistensi generasi sekarang dan yang akan datang baik dari aspek kesehatan, sosial, lingkungan dan ekonomi
Pemerintah yakin bahwa industri rokok dan produk yang dihasilkannya lebih banyak manfaat daripada mudharatnya, sehingga pemerintah (Departemen Perindustrian dan disepakati oleh departemen lain yang mendukung) menganggap perlu membuat ROADMAP industri rokok dimana sampai tahun 2015 produksi rokok akan naik terus sampai dengan 260 miliar batang, sedangkan pada tahun 2008 diperkirakan menembus angka 230 miliar batang.

Mau dikemanakan miliaran batang rokok tersebut?

Tentu ke mulut anak bangsa. Terlebih lagi, industri rokok termasuk dalam 10 industri unggulan yang perlu dikembangkan dalam RPJP sampai dengan 2025.
Kebijakan menaikan cukai rokok memberikan win win solution yaitu meningkatkan pendapatan pemerintah sekaligus menurunkan prevalensi merokok, daripada menurunkan produksi rokok.

Justifikasi Rasional?

Tembakau dan atau rokok diposisikan sebagai produk “normal”. Kerugian sosial, ekonomi dan kesehatan akibat tembakau di Indonesia terus meningkat. Trend prevalensi merokok terus meningkat, bahkan tercepat di dunia. Harga dan cukai rokok masih sangat rendah, bahkan terendah di dunia setelah Laos. Filosofi dan peruntukkan dana cukai yang salah. Iklan dan promosi rokok sudah melewati batas rasional. Mayoritas perokok Indonesia adalah dari keluarga miskin. Masyarakat miskin justru mengalokasikan untuk rokok nomor dua setelah beras. Pemerintah Indonesia tidak menandatangani dan meratifikasi FCTC.

Apa Kata Narasumber?

Maksud PP No.2 Tahun 2005 sebenarnya hanya mengenai berbagi ruang publik (antara perokok dan yang bukan perokok). Penerapan peraturan mengenai larangan merokok di tempat umum bergantung pada peradaban / budaya seseorang / masyarakat itu sendiri serta dari segi kesadaran tiap-tiap individunya.

Bagaimana POLA nya?

Pertama, Industri rokok merupakan Tokoh Utama yang Memegang Kendali atas Tetap Beredarnya Produk Rokok di Masyarakat. Evennya yaitu Industri rokok merupakan pihak yang paling diuntungkan dengan beredarnya produk rokok di masyarakat dalam jumlah besar; Industri rokok merupakan pihak yang paling dirugikan apabila larangan merokok diberlakukan; Industri rokok memberikan kontribusi pendapatan pemerintah (dari beacukai) yang paling besar.

Kedua, Pemerintah Kurang Tegas / Disiplin dalam Menerapkan Perda No.2 Tahun 2005. Evennya yaitu tidak ada razia bagi perokok yang merokok di tempat umum; tidak adanya ketegasan mengenai sanksi bagi pelanggar peraturan; masih sedikitnya ruangan khusus merokok yang telah disediakan di tempat-tempat umum; serta masih banyak ditemui perilaku merokok di tempat umum (angkutan umum, mall, dsb).

Ketiga, Pemerintah Mendukung Keberadaan Industri-industri Rokok. Evennya berupa menjamurnya Industri-industri rokok di Indonesia; maraknya iklan-iklan rokok; semakin beraneka ragamnya jenis-jenis rokok; serta produksi rokok dalam jumlah besar.

Keempat, Perilaku Merokok Memberikan Dampak Negatif Terhadap Kesehatan dan Lingkungan. Evennya dibagi menjadi 2, yaitu kesehatan dan lingkungan. Dampak negatif dari rokok bagi KESEHATAN yaitu: Merokok dapat menyebabkan serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin (seperti di iklan2 rokok); Merusak organ tubuh; Dapat menyebabkan kanker (kanker paru-paru); Perokok pasif memiliki potensi sakit lebih besar daripada perokok aktif; Membuat mata pedih, sesak nafas, dan bau yang menyebar; Memberi efek buruk bagi anak-anak (Gangguan Perkembangan Otak). Dampak negatif bagi LINGKUNGAN yaitu Mencemari udara sekitarnya (menambah polusi udara); Merusak ozon (mejadi semakin tipis); Mengotori lingkungan (abu dan puntung rokok).
Terakhir, Perilaku Merokok di Tempat Umum Melanggar Hak Asasi Orang Lain. Evennya yaitu Melanggar hak asasi orang lain untuk bernafas menghirup udara yang bersih dan sehat /bebas polusi (tidak menghargai hak orang lain); Mereka yang merokok di tempat umum adalah orang yang tidak peduli dengan orang lain; Egois (mementingkan diri sendiri / kepuasan sendiri).

STRUKTUR nya?

Industri Rokok mempengaruhi ketegasan Pemerintah dalam penerapan peraturan mengenai larangan merokok serta didukung oleh faktor peradaban sehingga menyebabkan masih banyaknya aktivitas merokok di tempat-tempat umum yang menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan serta melanggar HAM orang-orang disekitarnya.

Bagaimana RUMUSAN SIKAP nya?

Untuk mengurangi dampak asap rokok bagi masyarakat, diperlukan suatu penanganan dan perbaikan secara perlahan. Hal ini membutuhkan peran serta dan kerjasama antara pemerintah, masyarakat serta pihak-pihak lain (swasta).

Bentuk penanganannya dapat berupa semakin menggalakkan peraturan dilarang merokok di tempat umum, sebaiknya disediakan ruangan khusus untuk perokok dan diperbanyak jumlahnya (yang ada penetralisir asap nya), diberi tanda dan dipisah dengan yang non perokok dengan batas yang pasti, karena perokok juga punya hak untuk merokok.

Dari sisi hukum, sebaiknya diterapkan hukuman yang lebih berat bagi perokok (Sanksi yang tegas kepada orang-orang yang melanggar), seperti mengenakan denda yang sebesar-besarnya, Acta Non Verba (Action not Words). Selain itu, Pemerintah harus benar-benar ketat/disiplin dalam menerapkan Perda no.2 tahun 2005 tersebut dan mendukung program berhenti rokok agar rakyat Indonesia semakin sehat karena udara yang bersih dan lingkungan yang tidak tercemar. Pemerintah sebaiknya membuat semacam patroli/razia untuk menertibkan para perokok yang masih merokok di tempat-tempat umum (perokok liar) seperti di mall, pasar tradisional, bis umum, terminal, dll. Peraturan yang telah dibuat sebaiknya dijalankan dengan baik, jangan hanya dibuat tapi tidak dijalankan.

Setiap orang seharusnya dapat menghargai hak orang lain. Dengan demikian, bagi para perokok sebaiknya jangan merokok di tempat umum, terutama di depan/dekat anak kecil maupun ibu yang sedang mengandung karena dampak negatif yang akan dihasilkan dari asap rokok yang terhisap akan lebih berat dan berbahaya.

Untuk orang yang tidak merokok yang melihat ada orang merokok, diperlukan ketegasannya untuk berani menegur orang-orang yang merokok di tempat umum tersebut.

Dari sisi industri penghasil rokok, cara yang mungkin ampuh untuk mengurangi jumlah produksinya adalah dengan menaikkan cukai rokok. Diharapkan dengan menaikkan cukai rokok ini, produksi rokok akan makin menurun dan kemudian berhenti, tapi bukanlah hal yang mudah karena memerlukan ketegasan dari pemerintah.